
Pagi hari seperti biasa, Are memutahkan seisi perutnya di wastafel kamar mandi. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
Uek... Uek....
Erald yang berdiri di belakang Are segera memijat tengkuk Are.
" Sayangnya Daddy.. Jangan nakal donk! Kasihan Mommy nih pagi pagi udah di bikin lemes sama anak Daddy." Ujar Erald.
" Mending anak Daddy susahin Daddy aja, misalnya minta apa gitu nanti Daddy beliin." Sambung Erald.
" Minta apa? Minta asam jawa aja kacau." Sahut Are.
" Maaf sayang." Sahut Erald.
" Apa sudah mendingan Yank?" Tanya Erald.
" Iya Mas." Sahut Are membersihkan mulutnya.
" Kita kembali ke ranjang ya." Ujar Erald.
Are hanya menganggukkan kepala. Erald menuntun Are menuju ranjang. Ia membantu Are duduk bersandar pada tumpukan bantal.
" Mama..." Teriak Ghea dari depan pintu menghampiri Are.
" Sayang... Kemana saja selama ini hmm? Kenapa nggak pernah main ke rumah Mama lagi sekarang?" Tanya Are menatap Ghea yang duduk serong di tepi ranjang menghadapnya.
" Emm Ghea di rumah aja Ma, Papa sibuk kerja jadi Ghea nggak boleh kemana mana." Kilah Ghea menunjuk Juna yang masih berdiri di depan pintu.
" Masuk Kak." Ucap Are.
" Iya Jun masuk aja nggak pa pa." Sahut Erald.
Juna masuk ke dalam mendekati ranjang Are.
" Biasanya juga Papa kerja tapi kamu selalu sama Mama, apa Ghea sengaja ingin mengjauh dari Mama." Ujar Are.
" Bukan begitu Re, Ghea tahu kalau beberapa hari lalu kamu dalam masalah makanya Ghea tidak mau mengganggumu, ini aja Ghea di ajak sama Fara, kalau enggak paling juga Ghea di rumah." Ujar Juna.
" Kamu ke sininya di ajak sama aunti Fara?" Tanya Are menatap Ghea.
" Iya Ma, kata aunti Fara Mama sedang hamil, ada dedek bayi di dalam perut Mama." Sahut Ghea.
" Aunti Fara tahu? Padahal Mama belum memberitahunya lhoh, apakamuMas yang memberitahu Fara?" Tanya Are menatap Erald sekilas.
" Aunti Valen yang memberitahuku." Ucap Fara yang baru masuk ke dalam kamar Are.
" Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua yang sebentar lagi akan menjadi parents, semoga Mommy dan debaynya sehat dan di beri kelancaran sampai persalinan nanti." Sambung Fara mendekati Are.
" Amin, terima kasih Far." Sahut Erald.
__ADS_1
" Sama sama." Sahut Fara.
" Oh ya kok tumben kamu bareng sama Kak Juna sama Ghea ke sininya? Apa kalian semakin dekat ya?" Tanya Are.
Fara menatap ke arah Juna dan Ghea bergantian, lalu Ia kembali menatap Are.
" Akhir akhir ini aku sering main ke rumah Ghea, dan kebetulan hari ini ada kabar bahagia dari aunti jadi ya aku ajak sekalian mereka ke sini." Sahut Fara.
" Juna kita ngopi aja yuk di bawah, kita akan pusing mendengar obrolan kaum wanita." Ajak Erald.
" Ok." Sahut Juna.
" Mas ke bawah dulu ya sayang, kalau ada apa apa panggil Mas aja." Ucap Erald mengelus pucuk kepala Are.
" Iya Mas." Sahut Are.
" Sayang Papa ke bawah dulu ya." Ucap Juna menatap Ghea.
" Iya Pa." Sahut Ghea.
Erald dan Juna keluar kamar. Are menatap Fara dengan tatapan menyelidik.
" Wih... Sans Kak." Ucap Fara tersenyum.
" Katakan apa maksud semua ini?" Tanya Are.
" A... Aku..." Ucap Fara menjeda ucapannya.
" Iya, Ghea sudah memberikan lampu hijau buat aku Kak, tapi bapaknya beh... susah banget di deketin." Ujar Fara.
" Ghea setuju kalau Papa menikah sama aunti Fara?" Tanya Are menatap Ghea.
" Iya Ma, Ghea juga pengin punya pengganti Mama yang bisa selalu ada bersama Ghea, sekarang Mama pasti akan sibuk dengan keluarga Mama sendiri, apalagi Mama mau punya dedek bayi, Ghea kesepian di rumah Ma." Ujar Ghea.
" Maafin Mama ya sayang kalau Mama jarang ada waktu buat kamu akhir akhir ini, tapi memang ada baiknya Ghea memiliki Mama lagi, biar ada yang selalu jagain Ghea." Sahut Are.
" Iya Ma, Mama setuju kan kalau Papa menikah dengan aunti Fara?" Tanya Ghea.
" Setuju donk sayang, Mama malah senang bisa melihat Papa menikahi aunti Fara dengan begitu kita akan menjadi satu keluarga." Ujar Are.
" Terima kasih Ma." Ucap Ghea.
" Sama sama sayang." Sahut Are.
" Bantu aku donk Kak buat meluluhkan hati Juna, masa' iya sih sampai saat ini hatinya masih terpatri sama almarhum istrinya." Ujar Fara.
" Kamu bekerja sama saja dengan Ghea, dengan begitu kamu bisa mudah untuk mendapatkan bapaknya." Ujar Are.
Fara sedikit berpikir lalu nampak senyuman mengembang di pipinya.
__ADS_1
" Kau benar Kak, aku harus bekerja sama dengan Ghea untuk bisa mendapatkan duda dingin itu." Ucap Fara.
" Berusahalah semaximal mungkin dan semoga berhasil." Ucap Are.
" Tentu Kak." Sahut Fara.
Fara menatap Ghea yang saat ini juga menatapnya.
" Ghea... Kamu mau kan bantuin Aunti supaya Papa Ghea mau menerima Aunti sebagai istrinya?" Tanya Fara.
" Mau Aunti, tapi gimana caranya?" Ghea balik bertanya.
" Nanti akan Aunti pikirkan caranya." Sahut Fara.
" Baik Aunti, nanti kalau Aunti sudah mendapatkan ide kasih tahu Ghea ya." Ujar Ghea.
" Beres calon anak Aunti." Sahut Fara mengelus kepala Ghea.
" Kamu ini ada ada saja, inget ya! Idenya jangan yang aneh aneh, kasihan Ghea nanti kalau kamu mengajari dia untuk melakukan hal yang tidak benar." Ujar Are.
" Beres Kak, aku nggak akan bersikap yang aneh aneh kok, cukup satu keanehan saja." Sahut Fara
" Udah ngobrolnya, sekarang saatnya Are buat sarapan." Ucap Mami Valen sambil membawa nampan berisi makanan untuk Are.
" Duh enaknya punya mertua baik kaya' Aunti Valen, kapan ya aku bisa mendapatkannya." Ujar Fara.
" Makanya buruan cari calon suami, Mama kamu sudah banyak mengeluh sama Aunti lhoh soal kamu yang nggak dapat dapat jodoh, bahkan sampai Mama kamu di hina temannya karena punya anak yang jadi perawan tua." Ucap Mami Valen.
" Mereka aja yang banyak nyinyir Aunti, nikah muda di omong, giliran nikah terlambat sama aja di omong, kaya' mereka benar sendiri aja." Sungut Fara.
" Ya makanya buruan gih menikah, biar Mama kamu bahagia juga kan, Aunti saja udah mau menimang cucu, lhah Mama kamu dapat mantu aja belum." Ujar Mami Valen.
" Tenang Aunti! Untuk mempersingkat waktu, Fara akan memilih duda beranak satu, jadi setelah Fara menikah nanti, Mama tidak hanya mendapatkan menantu tapi juga mendapatkan cucu dari Fara, Aunti Valen ketinggalan karena cucunya masih lama lahirnya." Sahut Fara.
" Ya kali kalau kamu nikahnya sebelum aku melahirkan, kalau beberapa tahun lagi ya cepetan Mami Valen donk dapat cucunya." Sahut Are.
" Ah lo mah nggak kawan banget Kak." Cebik Fara sambil cemberut.
" Buruan gih gercep! Entar keburu di ambil orang baru tahu rasa lo." Ujar Are.
" Ya ini masih di usahain, Aunti bantu doa ya semoga Fara berhasil memikat duda beranak satu itu." Ucap Fara.
" Duda beranak satu yang mana? Bang solihin si tukang bakso yang suka mangkal di depan kompleks itu?" Canda Mami Valen.
" Ah Aunti.... Bukan itu lah, duda beranak satu yang itu tuh." Sahut Fare membuat Mami Valen, Are dan Ghea tertawa.
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semakin semangat...
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All