Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Aresha Sakit


__ADS_3

" Areeeeee" Teriak Alvin saat melihat Are tenggelam di bath up.


Alvin segera mengangkat tubuh Are dari dalam air.


" Sayang bangun sayang." Ucap Alvin menepuk pipi Are.


Are tidak bergeming. Ia setia memejamkan matanya. Wajahnya pucat pasi seperti tanpa darah. Alvin segera menggendong Are ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuh Are di atas ranjang lalu mengganti pakaian Are dengan yang kering. Tak lupa Alvin segera menelepon dokter keluarga.


" Sayang bangunlah, jangan membuatku khawatir sayang." Ucap Alvin menggenggam tangan Are.


" Sayang maafkan aku, bangunlah sayang." Ujar Alvin menggosok tangan Are berharap ada kehangatan yang menjalar.


Tak lama dokter datang untuk memeriksa Are.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Alvin.


" Sepertinya istri anda dalam tekanan berat yang membuatnya stres Tuan, dan sepertinya istri anda juga belum makan dan minum." Terang dokter.


" Iya Dok, kapan istri saya akan siuman?" Tanya Alvin.


" Jangan khawatir Tuan, istri anda akan segera sadar, ini vitamin yang harus di minum." Ucap dokter memberikan satu kaplet vitamin kepada Alvin..


"Jangan lupa Tuan setelah sadar berikan makan dan minum vitaminnya." Ucap dokter.


" Baik Dok terima kasih." Sahut Alvin.


" Kalau begitu saya permisi Tuan." Pamit dokter.


" Silahkan Dok." Sahut Alvin mengantar dokter sampai ke depan.


Setelah kepergian dokter, Alvin berjalan menuju dapur untuk mengambilkan makanan untuk Are. Tak lupa Ia membuatkan minuman hangat juga. Setelah selesai Ia membawa makanan dan minuman ke kamarnya.


Ceklek....


Alvin membuka pintunya, Ia tersenyum saat melihat Are yang sedang duduk bersandar pada headboard.


" Kamu sudah sadar sayang?" Tanya Alvin menghampiri Are.


Are memutar bola matanya malas.


" Sekarang kamu minum hangat dulu, setelah itu kamu makan lalu minum obatnya." Ujar Alvin memberikan secangkir teh hangat untuk Are.


Are menerimanya lalu menyeruput teh itu.


" Sekarang makan ya, Mas suapi." Ujar Alvin menyodorkan sesendok makanan ke mulut Are.


" Aku bisa sendiri Mas." Ucap Are lirih.


" Mas ingin merawatmu seperti kamu merawat Mas sayang." Ujar Alvin.


" Nggak perlu Mas." Ujar Are.


" Jangan begitu donk sayang, mau ya makan aku suapi." Bujuk Alvin menatap Are.


" Tangan Mas udah pegal nih." Sambung Alvin.


Are mengambil ponselnya di atas nakas. Ia memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Alvin membuat Alvin menghela nafasnya pelan.


" Baiklah sayang kamu makan sendiri saja." Ujar Alvin memberikan piringnya kepada Are.

__ADS_1


Are menyuapkan makanan ke dalam mulutnya beberapa suap saja. Setelah itu Ia kembali memberikan piringnya kepada Alvin.


" Kok udahan sayang, baru beberapa suap lhoh." Ucap Alvin.


" Udah kenyang." Sahut Are dingin.


" Baiklah sekarang minum vitaminnya dulu." Ucap Alvin memberikan satu tablet vitamin kepada Are. Are segera meminumnya.


Are menatap heran ke arah Alvin yang sedang memakan sisa dari piringnya.


" Mas apa yang kamu lakukan?" Tanya Are.


" Makan." Sahut Alvin mengunyah makanannya.


" Itu makanan sisaku Mas, apa kamu sedang mencari perhatianku?" Tanya Are.


" Tidak sayang, aku hanya sayang saja sama makanannya." Sahut Alvin.


" Owh." Gumam Are kembali memainkan ponselnya.


" Mas ke bawah dulu mengembalikan piringnya ya." Ucap Alvin.


" Hmm." Sahut Are.


Alvin turun ke bawah untuk mencuci piringnya setelah selesai Ia kembali ke kamarnya.


" Sayang kamu mau sesuatu?" Tanya Alvin mencoba dekat dengan Are.


" Ya, dan aku mau kau memberikannya." Ujar Are menatap Alvin.


" Apa itu sayang?" Tanya Alvin.


" Ceraikan aku." Ucap Are membuat Alvin menatapnya dengan tajam.


" Kalau kau tidak mau menceraikanku maka kau akan melihat aku mati di sini." Ancam Are.


" Apa maksudmu sayang? Jangan pernah melakukan hal bodoh." Ujar Alvin.


" Jika aku menerimamu itu jauh lebih bodoh Alvin." Sahut Are menekan kata Alvin membuat hati Alvin mencelos.


" Sayang aku mohon maafkan aku, aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, biarkan aku menebus kesalahanku kepadamu sayang." Ucap Alvin menggenggam tangan Are.


" Aku berjanji akan membuatmu bahagia, aku berjanji akan menyayangimu sepenuh hatiku sayang, ku mohon berikan aku kesempatan." Sambung Alvin menatap Are.


Are tidak bergeming Ia membuang mukanya ke sembarang arah. Rasanya Ia begitu membenci Alvin karena menurutnya Alvinlah penyebab kepergian Erald.


" Tiga bulan sayang, berikan Mas waktu tiga bulan untuk membuktikan cintaku padamu, aku mohon." Ucap Alvin.


" Walaupun kau membuktikannya kepadaku tetap saja tidak akan mengubah perasaanku padamu Mas, semua sia sia dan hanya akan membuang waktu saja." Sahut Are.


" Jika dalam tiga bulan aku tidak bisa membuatmu kembali mencintaiku maka aku akan melepaskanmu." Ucap Alvin.


" Terlalu lama tiga bulan, aku beri waktu satu bulan." Sahut Are.


" Satu bulan terlalu singkat sayang, dua bulan ya." Tawar Alvin.


" Baiklah tapi kau harus menepati janjimu jika dalam dua bulan aku tidak bisa kembali mencintaimu, jika kamu melanggarnyaaka saat itu juga kau akan melihat jasadku." Ucap Are.


" Baiklah sayang, terima kasih." Ucap Alvin hendak memeluk Are.

__ADS_1


" Jangan pernah menyentuhku Mas." Ucap Are.


" Bagaimana aku bisa membuatmu jatuh cinta jika aku tidak boleh menyentuhmu sayang, kau istriku sudah sewajarnya jika aku menyentuhmu kan." Ujar Alvin.


" Kau bisa melakukannya selama ini maka dalam waktu dua bulan itu sangat mudah bagimu." Sahut Are.


" Baiklah aku mengalah." Sahut Alvin.


Drt.... Drt....


Ponsel Are berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil yang tak lain adalah Naya.


" Halo Nay." Sapa Are setelah mengangkat panggilannya.


" Ar lo ada waktu nggak? Kita hengkang yuk." Ajak Naya.


" Gue lagi koleps say." Sahut Are membuat Alvin menahan tawanya.


" Lo koleps? Kenapa?" Tanya Naya.


" Gue bunuh diri." Sahut Are asal.


" Astaga Are..... Apa yang membuatmu berbuat nekad seperti itu?" Tanya Naya.


" Gue kehilangan separuh jiwaku say, makanya aku mau ikut bersamanya." Sahut Are.


" Siapa? Alvin?" Tanya Naya.


Are melirik ke arah Alvin yang saat ini sedang menatapnya.


" Bukan." Sahut Are.


" Terus yang lo maksud siapa?" Tanya Naya penasaran.


" Kak Erald." Ucap Are.


" Emang Kak Erald pergi kemana Ar?" Tanya Naya.


" Kak Erald pindah keluar negeri dan itu membuatku sedih." Ujar Are.


" Kenapa lo sedih? Kan ada suami lo Ar, jangan bilang lo naksir sama kakak ipar lo sendiri." Tebak Naya.


" Sesuai dugaanmu Nay." Sahut Are.


" Omg.... Gue nggak menyangka lo bisa jatuh hati sama Kak Erald, terus suami lo mau dikemanain?" Tanya Naya.


" Buang... Kalau lo mau pungut aja." Ucap Are menohok hati Are.


" Gila lo Ar... Seperti suasana hati lo sedang nggak baik baik saja, gue tutup dulu teleponnya bye." Ucap Naya mematikan sambungan teleponnya.


Are melirik Alvin yang terlihat begitu sedih dengan ucapannya. Are tersenyum senang bisa membuat Alvin terluka.


" Ini baru permulaan Alvin, seberapa kuat kau mencoba membuatku jatuh cinta aku akan tetap pada keputusanku, Kak Erald... Kau akan melihat kehancuran adik tersayangmu." Ujar Are dalam hati.


" Sekarang aku bisa merasakan sakit hati yang kau rasakan selama ini Are, aku sering berkata manis dan mesra saat telepon dengan Rena, ternyata rasanya sesakit ini melihat orang yang kita cintai berlaku manis dengan orang lain ataupun memuji orang lain, maafkan aku Are... Maafkan aku yang tidak pernah mengerti perasaanmu, aku akan berusaha keras untuk mendapatkanmu kembali." Batin Alvin.


Coba tebak kira kira siapa yang akan menang hayoooo....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya

__ADS_1


Miss U All....


TBC...


__ADS_2