Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Are Cemburu


__ADS_3

" Mas kamu dimana?" Teriak Are di dalam kamar mandi.


" Iya sayang Mas di sini." Sahut Erald berjalan mendekati kamar mandi.


" Mas aku lupa bawa handuk, tolong ambilin donk." Ucap Are.


" Baiklah tunggu sebentar." Sahut Erald.


Erald mengambil handuk yang biasa di pakai oleh Are, lalu Ia memberikannya kepada Are di dalam kamar mandi.


" Ini sayang." Ucap Erald menyodorkan handuknya.


" Mas kok kamu ke sini sih? Kasih dari luar aja kan bisa Mas." Ucap Are yang berendam di dalam bath up.


" Kenapa memangnya? Kamu malu Mas melihat kamu seperti ini? Mas bahkan udah hafal setiap inci tubuh kamu sayang." Ujar Erald membuat Are bersikap malu malu.


" Mas kamu mah gitu." Ucap Are.


" Gitu gimana sayang? Sini Mas gosok punggung kamu." Ujar Erald menggosok pelan punggung Are menggunakan busa sabun cair.


" Badan kamu makin ***** Yank." Ucap Erald.


" Bilang aja kalau badan aku sekarang gendhut." Ujar Are.


" Enggak sayang... Badan kamu lebih berisi sekarang sehingga membuatmu kelihatan *****, bukan gendhut sayang." Sahut Erald.


" Iya deh aku percaya." Sahut Are.


Setelah selesai mandi dan bersiap, kini Are dan Erald turun ke meja makan untuk sarapan.


" Mas ambilin ya sayang." Ucap Erald mengisi piring kosong Are dengan nasi, sayur bening bayam dan ikan goreng.


" Sekarang makan yang banyak biar dedeknya sehat." Ujar Erald.


" Makasih Mas, kamu juga harus makan donk." Ucap Are.


" Mau Mas suapi?" Tawar Erald menatap Are.


" Nggak usah Mas aku makan sendiri aja, Mas kan juga harus makan terus mau berangkat ke kantor kan." Ujar Are.


" Iya Mas ke kantor sebentar aja kok, kamu tunggu Mas di rumah ya, kalau bosan kamu tinggal jalan jalan aja ke taman belakang, jangan pergi kemana mana tanpa Mas." Ucap Erald mengingatkan.


" Iya Mas, aku paling ngobrol berdua sama Mbak Siti." Sahut Are.


" Iya nggak pa pa sama Mbak Siti aja." Ucap Erald.


Keduanya mulai menyuapkan makanan ke mulut mereka, mereka makan dengan khidmat tanpa bersuara.


" Mas udah selesai sayang." Ucap Erald mengusap mulutnya menggunakan tisu tanda makannya telah selesai.


" Aku juga udah Mas." Sahut Are.


" Lhoh kok nggak di habiskan hmm?" Tanya Erald menatap Are.

__ADS_1


" Lagi nggak selera Mas." Sahut Are.


" Mau makan yang lain?" Tanya Erald merapikan anak rambut Are.


" Aku pengin makan soto ayam yang banyak perkedelnya Mas." Ucap Are.


" Dimana Mas bisa menemukannya?" Tanya Erald.


" Di depan taman, di sebrang jalan Mas." Sahut Are.


" Baiklah Mas akan belikan untukmu, tapi kalau nanti belum buka jangan ngambek ya." Ucap Erald mengelus kepala Are.


" Iya Mas." Sahut Are.


Erald berlutut di depan Are. Ia mengelus perut Are yang sudah terlihat membuncit. Maklumlah hamil kembar.


" Pagi anak Daddy, kalian lagi ingin makan soto ya? Tunggu sebentar Dad belikan ya, jangan nakal kasihan Mommy." Ucap Erald mencium perut Are.


" Ok Daddy." Sahut Are menirukan suara anak kecil.


" Mas pergi dulu sayang." Ucap Erald mencium kening Are.


" Hati hati Mas." Sahut Are.


Erald berjalan keluar menuju taman kota yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari kedai soto yang di maksud Are. Setelah ketemu Ia segera menuju ke sana.


Sudah setengah jam lebih Erald belum juga kembali membuat Are nampak resah menunggunya. Ia berniat untuk menyusul Erald ke kedai.


" Iya Non." Sahut Mbak Siti berlari menghampiri Are di dapur.


" Aku mau menyusul Mas Erald ya, kalau nanti Mas Erald pulang duluan tolong telepon aku ya Mbak." Ucap Are.


" Baik Non, tapi apa perlu Siti temani?" Tanya Mbak Siti.


" Tidak usah Bi aku sendiri saja, lagian kan dekat ini." Sahut Are.


" Baik Non, hati hati ya." Ucap Mbak Siti yang di balas senyuman oleh Are.


Are berjalan keluar menuju taman kota. Sesampainya di sana Ia menghentikan langkahnya saat melihat Erald yang sedang duduk berdua bersama seorang wanita. Emosinya langsunh memuncak ke ubun ubun.


Are mempercepat jalannya menghampiri Erald yang terlihat asyik mengobrol dengan wanita itu.


" Ehm ehm." Dehem Are membuat Erald dan wanita tadi menoleh ke arahnya.


" Sa... Sayang." Ucap Erald gugup.


" Astaga aku lupa kalau aku di suruh membeli soto oleh Are.... Ya Tuhan alamat perang dunia ke tiga kalau begini, Erald kamu bodoh banget sih." Gerutu Erald dalam hatinya.


" Sejaka kapan kedai sotonya pindah di sini Mas? Apa bangku itu ada lemnya sehingga membuatmu tidak bisa pergi dari sana? Atau kamu memang merasa sangat nyaman duduk berdua dengan seorang wanita cantik di sini? Apalagi suasana di sini begitu mendukung." Omel Are melipat kedua tangannya di depan dadanya.


" Sayang ini tidak seperti yang kau pikirkan, tadi aku hanya menolong Mbaknya ini, dia kesrempet motor sayang jadi aku membawanya duduk di sini." Ujar Erald.


" Apa sekarang profesimu berubah menjadi seorang dokter?" Are bertanya lagi membuat Erald menelan kasar salivanya.

__ADS_1


" Tidak sayang." Sahut Erald.


" Baiklah... Sekarang lanjutkanlah obrolan kalian, maaf aku mengganggu." Ucap Are meninggalkan mereka kembali menuju rumahnya.


" Sayang tunggu Mas." Panggil Erald mengejar Are.


Are terus berjalan menahan kekesalannya. Bagaimana bisa Erald lebih mementingkan orang lain daripada dirinya? Pikir Are.


" Sayang tunggu Mas donk, jangan marah gitu donk, maafin Mas ya karena lupa membelikan soto untukmu, tapi Mas akan membelikannya sekarang deh." Bujuk Erald mencekal tangan Are.


Are menghentikan langkahnya menatap Erald.


" Aku sudah nggak ingin makan soto lagi Mas, seleraku sudah hilang setengah jam yang lalu." Ucap Are melepas cekalan tangan Erald.


Are melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Erald membuang kasar nafasnya. Ia merutuki kebodohannya.


" Ah sial! Niatnya pengin berbuat baik malah jadi kaya' gini, nasib nasib punya istri suka ngambekan... Eh tapi ini karena hormon kehamilan aja kan, biasanya juga nggak begitu, ini tandanya Are minta di berikan perhatikan lebih." Monolog Erald menyusul Are masuk ke dalam rumahnya.


" Sayang." Panggil Erald.


Mendengar suara majikannya, Mbak Siti yang sedang beberes rumah menghampiri Erald.


" Maaf Den, tadi Nona Are masuk ke dalam kamarnya." Ucap Mbak Siti.


" Terima kasih Mbak." Ucap Erald.


" Sama sama Den." Sahut Mbak Siti.


Erald masuk ke dalam kamarnya. Ia mendekati Are yang saat ini duduk bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya.


" Sayang maafkan Mas donk, Mas tidak sengaja melukai hati kamu." Ucap Erald duduk di tepi ranjang.


Are diam tidak bergeming, Ia tetap asyik dengan ponselnya dan mengabaikan Erald.


" Sayang...


Ting


Suara ponsel Erald menghentikan ucapannya. Ia mengambil ponsel pada saku celananya.


Sebuah notif pesan yang terlihat begitu menarik. Erald membuka pesan itu, tiba tiba matanya membulat dan mulutnya menganga lebar melihat isi dari pesan itu.


Kira kira apa ya isi pesannya?


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author ya...


Mohon doa dan dukungannya semoga novel ini sukses....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2