
" Are, maukah kau menjadi teman hidupku di saat aku susah maupun senang? Maukah kau menerimaku sebagai pendamping hidupmu? Maukah kau menikah denganku?" Tanya Erald sekali lagi sambil terus menggenggam tangan Are.
Are menatap Erald yang terlihat sangat tampan membuat jantung Are berdebar debar, Are beralih menatap birbi Erald yang membuatnya ingin sekali Ia mengecup bibir manis milik Erald namun Ia segera menguasai dirinya kembali.
" Maafkan aku Kak." Ucap Are menarik tangannya.
" Are...." Lirih Erald.
" Aku bukan barang yang bisa kau buang dan kau pungut kembali begitu saja, kau menolakku dan membuatku malu di depan keluargamu waktu itu dan itu membuatku merasa tidak berarti apa apa bagimu, aku merasa harga diriku telah hilang saat itu juga Kak, dengan tanpa perasaan kau memperjelas semua sikap dan perhatian yang kamu berikan kepadaku waktu itu kan, kau bilang hanya menyayangiku sebagai adik perempuanmu, semua sudah jelas bagiku untuk setahun yang lalu ataupun untuk sekarang." Tegas Are.
" Tidak Are... Maafkan aku.... Semua yang aku ucapkan waktu itu hanyalah kebohongan untuk membuatmu menjauhiku, Alvin begitu mencintaimu dan dia memintaku untuk pergi dari hidup kalian, Alvin berpikir jika aku menjauhimu kau akan melupakan perasaanmu kepadaku Are, lalu aku harus bagaimana? Saat itu kau masih menjadi istrinya, aku tidak akan tega menikung adikku sendiri Are, aku ingin melihat dia bahagia." Ujar Erald.
" Walaupun kau mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?" Tanya Are.
" Iya, cobalah mengerti akan posisiku dan cobalah lihat dari sudut pandangku Are, dengan begitu kau akan mengerti perasaanku." Ujar Erald.
" Lalu apa bedanya dengan sekarang? Sekarang aku juga istri orang Kak, lalu kenapa kau mengungkapkan perasaanmu hah? Apa itu berpengaruh untukku? Aku milik orang." Ucap Are dengan menekankan kata milik orang.
" Kamu bohong, aku sudah tahu semuanya Are, jadi jangan coba coba berbohong padaku, kau belum menikah." Ucap Erald.
" Heh... Aku tidak menyangka kau menyelidiki statusku." Kekeh Are.
" Walaupun aku belum menikah tapi apa kau berpikir jika aku masih mencintaimu? Apa kau pikir jika aku masih menyimpan perasaan itu di hatiku?" Tanya Are menatap Erald.
" Jawabannya tidak." Sahut Are meninggalkan Erald sambil menyeret kopernya di ikuti Naya dari belakang.
" Are ku mohon jangan seperti ini! Jangan tinggalkan aku dengan keadaan seperti ini Are." Teriak Erald.
Are tidak peduli dengan teriakan Erald, Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
" Are aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Aresha Wijaya." Teriak Erald menatap punggung Are yang mulai tak terlihat lagi.
Tanpa mereka sadari jika Alvin melihat semuanya. Ia sadar jika cinta Are masih milik Abangnya.
" Ternyata selama ini kalian saling mencintai Bang, kenapa kau tidak bilang padaku? Aku tidak menyangka karena keegoisanku membuatmu menderita selama ini." Ucap Alvin yang berdiri di belakang Erald.
Deg....
Jantung Erald terasa berhenti berdetak ketika mendengar suara yang sangat familiar baginya. Ia membalikkan badannya menatap Alvin yang saat ini sedang menatapnya.
" Al... Alvin... Kau di sini?" Tanya Erald gugup.
" Kenapa Bang? Kau terkejut? Kau mau bertanya bagaimana bisa aku di sini?" Tanya Alvin mendekati Erald yang menganggukkan kepalanya.
" Awalnya aku ke sini ingin mengunjungimu Bang, tapi aku tak menyangka jika aku akan mendapatkan kejutan yang luar biasa seperri saat ini Bang." Ujar Alvin.
" Kau mendengarnya Al?" Tanya Erald.
" Ya... Aku mendengar semua pengakuan Abang dan semua yang terjadi pada kalian sedari tadi." Sahut Alvin.
__ADS_1
" Sedari tadi? Apa maksudmu?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.
" Aku tahu tentang kejadian di restoran, dan aku juga tahu kejadian di sini dari awal sampai akhir." Terang Alvin.
" Kau memata matai Abang?" Selidik Erald.
" Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian berdua selama ini Bang, maafkan aku jika aku telah menjadi penghalang kebahagiaanmu, maafkan atas keegoisanku Bang." Ucap Alvin.
" Kau tidak bersalah Al." Sahut Erald memeluk Alvin.
" Aku bersalah karena aku telah memisahkan kalian Bang, aku akan membantumu bersatu dengan Are Bang, aku janji." Ucap Alvin.
Erald melepas pelukannya, Ia menatap adik tersayangnya.
" Benarkah? Kau tidak pa pa jika aku bersatu dengan Are? Apa kau tidak akan terluka?" Tanya Erald.
" Jika aku terluka apakah Abang akan berhenti mengejar Are?" Tanya Alvin membuat Erald bungkam.
" Tidak kan Bang? Jadi aku tidak akan terluka karena itu, aku akan bahagia jika Abang bisa bersatu dengannya dan hidup bahagia bersama wanita yang Abang cintai." Sahut Alvin.
" Terima kasih Al.. Terima kasih sudah memahami perasaan Abang." Ucap Erald.
" Sama sama Bang." Sahut Alvin.
" Sekarang apa yang akan Abang lakukan?" Tanya Alvin.
" Pulanglah bersamaku dan menetap di sana Bang, Mami pasti akan bahagia." Ucap Alvin.
" Baiklah." Sahut Erald.
" Dengan kau bersatu bersama Are setidaknya membuatku bisa melihat Are setiap hari Bang, walaupun dia tidak bisa menjadi milikku lagi tapi aku bahagia bisa melihatnya walaupun dari jauh." Batin Alvin.
Keduanya pulang ke rumah Erald. Mereka akan mengambil penerbangan besok pagi untuk kembali ke tanah air.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Erald dan Alvin sudah sampai di rumah Mami Valen. Saat ini Erald, Alvin, Mami Valen dan Papi Nathan sedang berkumpul di ruang keluarga.
" Kamu sekarang kurus Bang, pasti kamu terlalu memforsir tenagamu untuk bekerja." Tebak Mami Valen.
" Iya Mi." Sahut Erald.
" Abang sibuk bekerja untuk mengalihkan pikirannya dari Are Mi, Abang bahkan sampai melupakan pola makannya Mi." Ujar Alvin.
" Apa sih kamu Al." Ucap Erald.
" Bener begitu Bang?" Tanya Papi Nathan.
" Enggak Pi." Sahut Erald.
__ADS_1
" Bener juga nggak pa pa kali Bang, aku juga nggak pa pa kok, aku sudah ikhlas melepas Are sepenuhnya Bang." Ujar Alvin.
" Ya udah deh Abang ngaku, iya tebakanmu tepat sekali." Ucap Erald akhirnya.
" Mami nggak bisa bayangin Bang, bagaimana Abang menahan rindu sama perasaan Abang selama ini, Mami yakin pasti tersiksa banget." Ujar Mami Valen.
" Ya begitulah Mi." Sahut Erald malu malu.
" Nggak perlu malu kali Bang, tinggal bilang iya Mi, aku juga pernah merasakannya kok Bang." Ucap Alvin.
" Udah ah berhenti godain Abang." Ucap Erald.
" Mi Oma sama Opa pada kemana? Dari tadi aku nggak lihat mereka?" Tanya Erald mengalihkan pembicaraan.
" Oma pulang ke rumah orang tua Oma sayang, Oma sama Opa kamu berniat untuk pindah ke sana." Jelas Mami Valen.
" Dan jika nanti Abang nikah, Abang tinggal di sini aja ya." Ujar Mami Valen.
" Biar aku yang tinggal di sini, Abang biar tinggal di rumah Abang yang di belikan Mami sama Papi." Ucap Alvin.
" Nggak gitu juga kali Al, rumah itu udah Abang kasih ke kamu, kalau Abang nikah nanti Abang akan membeli rumah baru biar Abang sama istri Abang bisa menikmati suasana baru." Ujar Erald.
" Ah iya aku lupa, Are juga pasti nggak mau kalau tinggal di rumah yang kita tempati, banyak kenangan buruk di sana." Ujar Alvin.
" Jangan ngomong gitu Al, Abang cuma nggak mau mengambil apa yang sudah Abang kasih ke kamu aja, udah lah nggak usah di pikirkan! Lagian belum tentu Are mau sama Abang, dia pasti lebih memilih ayahnya anak itu." Ujar Erald.
" Ah iya hampir aja Mami lupa Bang, anak yang sering bersama Are namanya Ghea, Are sudah menganggapnya anak sendiri jadi kalau kamu mau sama Are kamu juga harus wellcome sama Ghea." Ujar Mami Valen setelah mendapat informasi dari tangan kanannya.
" Iya Mi, aku juga suka anak kecil kok." Sahut Erald.
" Ya udah Mi, Pi, aku mau ke kamar dulu ya mau istirahat." Ujar Erald.
" Baiklah." Sahut Mami Valen.
Erald beranjak meninggalkan keluarganya menuju ke kamarnya jika Ia sedang menginap di sini. Erald masuk ke kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya menatap langit langit kamar.
" Are... Aku datang untuk mendapatkan cintamu lagi, aku harap kau tidak akan menolakku lagi, aku akan membuatmu menerimaku apapun caranya akan aku lakukan demi bisa hidup bersamamu." Monolog Erald mengembangkan senyum di wajahnya.
Kira kira berhasil nggak nih si Erald?
Kita lihat perjuangannya dulu ya...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semakin semangat ngetiknya
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu
Miss U All...
TBC....
__ADS_1