Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Ikhlas


__ADS_3

Pulang dari rumah Juna, Vebby segera berlari menuju kamarnya menghampiri Saka yang baru saja pulang dari luar kota.


" Hubby." Teriak Vebby.


Saka yang sedang berdiri menatap jendela menoleh ke arahnya.


" Sayang kenapa kau berteriak seperti itu? Apa terjadi hal buruk kepadamu?" Tanya Saka mendekati Vebby.


" Hubby... Kak Fara hamil, lalu kapan aku akan hamil By? Masa' kita kalah sama Kak Fara, sepertinya kita harus periksa ke rumah sakit barang kali aku atau kamu tidak sehat By, ayo bersiap siap! Kalau kita tidak periksa bisa jadi aku nggak akan hamil hamil, aku dan kamu kan sudah ingin menimang bayi lucu." Cerocos Vebby membuat kepala Saka berdenyut.


" Tapi aku rasa kalau aku sehat By, selama ini tidak ada masalah dengan kesehatanku, itu berarti kamu yang kurang sehat di sini By, kita harus periksa sekarang juga By." Sambung Vebby.


Saka menghela nafasnya pelan.


" Sayang tenanglah! Tidak perlu panik seperti ini." Ucap Saka menyentuh kedua pundak Vebby.


" Bagaimana aku harus tenang By? Kak Fara sudah hamil tapi kenapa aku belum? Padahal kita udah unboxing duluan, aku khawatir kalau kita akan susah mendapatkan momongan By, semakin ke sini kita semakin tua By, itu akan semakin susah mendapatkan anak." Ujar Vebby.


" Rejeki itu sudah tertukar dan tidak akan tertukar sayang, kita berdoa dan berusaha semampu kita saja, selebihnya kita pasrahkan kepada Tuhan, jika Tuhan sudah berkehendak maka apa yang akan terjadi, terjadilah termasuk kehamilan yang kamu inginkan." Ujar Saka mencoba menenangkan Vebby.


" Tapi memeriksakan kesehatan juga salah satu bentuk dari usaha kan By?" Tanya Vebby duduk di tepi ranjang dengan lesu.


" Iya aku tahu, tapi kamu terlihat seperti memaksakan kehendak sayang, kamu periksa karena kamu berkeinginan cepat cepat hamil kan." Sahut Saka yang si balas anggukan kepala oleh Vebby.


" Tidak perlu terburu buru sayang, semua akan tiba pada waktunya, kau akan hamil setelah tiba waktunya nanti." Sambung Saka.


Vebby menatap ke arah Saka.


" Bukankah kamu juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak di antara kita? Kamu yang bilang kalau ukur kamu sidah tidak muda lagi kan? Lalu kenapa sepertinya sekarang kamu sudah tidak menginginkannya lagi? Apa kau sudah mendapatkannya dari yang lain?" Selidik Vebby curiga ada sesuatu yang di sembunyikan Saka.


" Sayang bukan begitu, aku memang sangat menanti dan menginginkan seorang anak di antara kita, tapi aku tidak mau membebankan keinginanku kepadamu, aku tidak mau kamu merasa terbebani dan membuatmu terobsesi dengan kehamilanmu sayang, itu akan membuatmu stres dan justru akan membuatmu susah hamil." Ucap Saka menangkup wajah Vebby.


" Pernikahan kita baru seumur jagung, masih ada banyak waktu untuk memikirkan dan menjalani semua ini dengan tenang sayang, jadi mulai sekarang kita jalani kehidupan kita dengan bahagia tanpa adanya beban keinginan ingin memiliki anak, kita pasrahkan kepada Tuhan, yakinlah jika rencana Tuhan begitu indah untuk kita, kita nikmati masa masa kita berdua dulu." Ucap Saka.


" Terima kasih By kamu sudah memahami diriku." Ucap Vebby memeluk Saka.


Saka membalas pelukan Vebby lalu mengelus punggungnya. Keduanya saling ikhlas menerima takdir Tuhan untuk keduanya.


Saka melepas pelukannya, Ia menangkup wajah Vebby dengan kedua tangannya.


Cup...


Saka mengecup bibir Vebby dengan lembut. Vebby membuka sedikit mulutnya membuat Erald menyusupkan lidahnya. Ia mengekspos setiap inchinya.


Suara decapan memenuhi ruangan kamar keduanya. Saka mendorong pelan tubuh Vebby ke atas ranjang. Ia terus ******* bibir Vebby sambil tangannya bergerilya kemana mana.


" Shh." Desis Vebby saat tangan Saka meremas squishynya.


" By..." Lirih Vebby.


Ciuman Saka turun ke leher Vebby. Ia membuat beberapa lukisan merah di sana. Vebby meremas sprei menahan gejolak dalam dirinya.

__ADS_1


" Aku datang sayang." Bisik Saka yang di balas anggukan kepala oleh Vebby.


Saka memberikan sentuhan yang membuat Vebby terlena seperti terbang ke atas nirwana. Keduanya menyatu dalam lautan cinta yang tak bertepi.


Suara erang*n dan desa**n memenuhi kamar menjadi saksi cinta keduanya. Tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.


...****************...


Di dalam kamar Erald, saat ini Erald sedang menjaga twins. Sedangkan Are sedang berada di dalam kamar mandi.


" Sayang Arash ngompol nih." Teriak Erald sambil terus menimang Aaris.


" Iya sebentar Mas." Sahut Are dalam kamar mandi.


Erald menatap Aarash di atas boxnya yang terus bergerak tak nyaman.


" Kamu risih ya sayang, sebentar ya Dad bobokin Aaris dulu di ranjang." Ujar Erald.


" Aaris sayang kamu bobok dulu di sini ya, Daddy mau gantiin popok Aarash dulu, kasihan Aarash sudah tidak nyaman dengan popok basahnya." Ujar Erald membaringkan Aaris di ranjangnya.


Erald membopong Aarash lalu membaringnya di atas ranjangnya bersebelahan dengan Aaris.


" Aarash sayang ganti popok dulu biar kamu kembali nyaman, kamu pipis nggak bilang bilang sih jadi Daddy nggak tahu kalau kamu pipis." Ucap Erald mengganti popok Aarash dengan telaten.


" Nah sekarang sudah selesai, sekarang kalian berdua tinggal main sama Daddy, biarkan Mommy kalian mandi dulu ya." Ujar Erald.


Erald memutar mainan yang bisa berbunyi dan berputar putar membuat twins mengembangkan senyuman mereka.


Ceklek....


Are keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Erald di ranjangnya.


" Sudah di ganti popoknya Mas?" Tanya Are.


" Sudah sayang." Sahut Erald.


" Benar benar Daddy siaga nih." Puji Are duduk di depan meja rias.


" Harus donk sayang." Sahut Erald mendekati Are.


Erald mengalungkan tangannya ke leher Are dari belakang. Ia menatap Are melalui pantulan cermin.


" Mas akan berusaha sebaik mungkin menjadi suami siaga dan Daddy yang baik untuk Aarash dan Aaris dan tentunya adik adiknya nanti." Ucap Erald mencium pucuk kepala Are.


" Adik adiknya?" Tanya Are mengerutkan keningnya.


" Iya adik adik Aarash dan Aaris, Mas ingin mempunyai anak yang banyak supaya rumah kita ramai seperti sekolah paud." Ujar Erald.


" Baiklah, aku akan memberikan apa yang kamu mau Mas, aku akan melahirkan sebelas anak untukmu supaya kamu bisa membuat tim kesebelasan, dengan restu Tuhan tentunya." Sahut Are.


" Terima kasih sayang, kamu memang wanita terbaik dalam hidup Mas." Ucap Erald.

__ADS_1


Are beranjak berdiri di depan Erald. Ia menatap wajah tampan suaminya.


" Aku mencintaimu Mas." Ucap Are memeluk Erald.


" Mas juga mencintaimu sayang." Sahut Erald.


Deg...


Jantung Are berdetak kencang saat melihat ranjangnya kosong. Ia langsung melepas pelukannya.


" Mas twins kemana? Kok ranjang kita kosong?" Tanya Are panik.


Erald melihat ke arah ranjang.


" Iya sayang, twins kemana? Mbak Siti..." Teriak Erald.


" Haduh Mas twins kemana? Siapa yang mengambil twins? Kenapa kita tidak melihatnya saat orang itu mengambil twins Mas? Mas sih nggak menutup pintu." Ujar Are.


Erald dan Are berjalan keluar kamar untuk mencari Aarash dan Aaris.


" Mbak Siti." Panggil Are berteriak.


" Mbak Siti kamu dimana?" Panggil Erald.


" Mas sepertinya Mbak Siti pergi deh." Ujar Are.


Keduanya menuruni anak tangga menuju ruang keluarga barang kali twins bersama Mbak Siti di sana, namun hasilnya nihil.


" Mas dimana Aarash dan Aaris Mas?" Tanya Are.


" Kita cari di taman belakang sayang, siapa tahu Mbak Siti ada di sana." Ucap Erald.


Are dan Erald menuju taman belakang. Dari kejauhan terdengar samar samar suara orang menimang bayi.


Are dan Erald segera berlari menghampirinya dan.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar Aarash dan Aaris ketemu...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


Silahkan mampir ke novel author


**Ternyata Dia Hanya Milikku**


Author melanjutkan cerita Fahri dan Rasi di sana ya...


Sampai ketemu dengan kisah Fahri dan Rasi


__ADS_1


TBC....


__ADS_2