Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Hamil Lagi?


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kini usia kandungan Fara memasuki usia lima bulan. Perutnya sudah terlihat membuncit.


Juna sangat menyayanginya, Ia selalu memberikan apapun yang di minta oleh Fara. Fara sangat bahagia dengan kehamilan pertamanya.


" Mama... Dedek bayinya sedang apa Ma saat ini?" Tanya Ghea mengusap perut Fara yang saat ini sedang duduk bersandar di atas ranjang.


" Sedang apa ya? Mungkin debaynya sedang bobok atau mungkin sedang main bola di dalam sini sekarang." Sahut Fara mengelus perutnya.


" Tidak boleh! Dedek bayinya harus main masak masakkan sama boneka biar Ghea ada temannya Ma, jangan laki laki yang bisanya main bola, Ghea tidak mau." Protes Ghea sambil cemberut.


" Eh ada apa ini? Kenapa anak Papa cemberut gini hmm?" Tanya Juna yang baru saja masuk ke dalam.


" Maaf Mas aku sedang menggoda Ghea dan membuat Ghea marah." Ucap Fara.


" Tidak apa sayang." Sahut Juna.


Juna mendekati Ghea lalu menangkup wajah Ghea yang masih cemberut.


" Kenapa sayang?" Tanya Juna menatap Ghea.


" Coba katakan kepada Papa biar Papa tahu apa yang membuat putri cantik Papa ini cemberut." Sambung Juna.


" Mama bilang kalau dedek bayinya sedang main bola, berarti dedek bayinya laki laki kan Pa, Ghea maunya dedek bayinya perempuan seperti Ghea biar bisa main masak masakkan bersama, Ghea tidak suka dedek laki laki Pa, Ghea maunya dedek perempuan seperti Ghea." Ujar Ghea.


" Mas kalau seperti ini gimana? Gimana kalau anak kita nanti benar benar laki laki? Apa Ghea tidak akan menyayanginya?" Tanya Fara sedikit khawatir.


" Jangan khawatir sayang! Aku akan memberikan Ghea pengertian." Sahut Juna.


" Iya Mas." Sahut Fara.


Juna mengelus kepala Ghea. Ia memangku Ghea duduk di atas ranjang.


" Sayang... Kita tidak bisa menentukan apakah dedeknya laki laki atau perempuan, semua itu kan pemberian Tuhan. Mau dedeknya laki laki ataupun perempuan, itu sama saja. Sama sama adiknya Ghea kan?" Tanya Juna.


" Iya Pa." Sahut Ghea menganggukkan kepala.


" Maka dari itu mulai sekarang jangan berdebat lagi ya, kan kasihan Mama kalau Mama sedih dedeknya juga akan sedih, kalau adiknya laki laki Ghea mau kan menyayangi dedeknya?" Tanya Juna.


" Iya Pa." Sahut Ghea.


" Anak pintar." Sahut Juna.


" Tapi sebenarnya dedek bayinya laki laki atau perempuan Pa? Ghea ingin tahu." Ujar Ghea.


" Kita akan tahu kalau dedek bayinya sudah lahir sayang, kalau sekarang kita belum tahu." Sahut Juna.


Ya Juna dan Fara tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka terlebih dahulu. Biarlah semua itu akan menjadi kejutan untuk mereka nanti.


" Baiklah Pa, Ghea akan menanti adik Ghea lahir." Sahut Ghea.


" Mama Ghea minta maaf ya sudah membuat Mama sedih." Ucap Ghea menatap Fara.


" Tidak pa pa sayang, Mama tidak sedih kok." Sahut Fara.


" Terima kasih Ma." Sahut Ghea memeluk Fara.


Fara mengelus kepala Ghea dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Semoga Kau memberikan Ghea adik seperti apa yang Ghea inginkan Ya Tuhan, agar aku tidak membuat Ghea kecewa." Batin Fara


...----------------...


Vebby dan Saka saat ini sedang berada di rumah Erald. Vebby dan Saka menggendong twins satu satu, sedangkan Erald dan Are sedang duduk di sofa sambil meminum kopinya.


" Aarash sayang sudah bisa apa sekarang nih?" Tanya Vebby mencium pipi gembul Aarash.


" Dia sudah bisa tengkurap Veb." Sahut Are.


" Wah cepat juga ya Kak, kalau Aaris?" Vebby bertanya lagi.


" Sama... Mereka sudah bisa tengkurap tapi belum bisa terlentang lagi, mereka akan merasa kesal kalau tidak bisa berbalik." Ucap Are.


" Pasti lucu ya Kak kalau melihat mereka berdua kesal, apalagi kalau mereka menangis bareng pasti ramai banget." Ujar Vebby.


" Iya." Sahut Are.


" Om bagaimana kabar Arsen? Apa dia masih mendekati pelayannya?" Tanya Erald menatap Saka yang sedang menimang Aaris.


" Ya masih pdkt sambil modus modus gitu, mereka semakin dekat karena selalu berdua bolak balik ke rumah sakit menjenguk adiknya Reya, tapi katanya hari ini adiknya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter." Sahut Saka.


" Terus mereka akan tinggal dimana Om?" Tanya Are.


" Ya tinggal di rumah Kak Gama lah, Arsen pasti tidak akan membiarkan Reya pergi jauh darinya." Ujar Saka.


" Apa Arsen pernah mengajak Reya ke sini Kak?" Tanya Vebby menatap Are.


" Pernah sih tapi cuma satu kali ya Mas." Ucap Are.


Are menyesap secangkir kopinya namun tiba tiba perutnya merasa mual. Ia membekap mulutnya dengan satu tangannya.


" Kenapa sayang?" Tanya Erald menatap Are.


" Hmpt"


Are berlari menuju kamar mandi yang berada di salah satu kamar tamu.


Huek.... Huek...


Are memuntahkan isi perutnya.


" Kamu kenapa sayang? Masuk angin atau asam lambung kamu kambuh?" Tanya Erald memijat tengkuk Are.


" Tapi kan kamu tidak sakit asam lambung kan." Sambung Erald.


Are membersihkan mulutnya dengan air bersih lalu mengelapnya menggunakan tisu.


" Aku tidak tahu Mas, tiba tiba perutku merasa mual seperti ini, kepalaku jadi berdenyut nyeri tak karuan." Ucap Are memegang kepalanya.


" Ya sudah kamu istirahat saja, Mas akan mengantarmu ke kamar ya." Ujar Erald menuntun Are.


Tiba tiba....


Brugh...


" Sayang." Pekik Erald menopang tubuh Are yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


" Sayang sadarlah! Kamu kenapa? Jangan membuat Mas khawatir begini donk!" Ujar Erald.


Erald membaringkan tubuh Are di atas ranjang. Ia keluar menemui Vebby dan Saka.


" Om, Veb." Panggil Erald.


" Ya Bang." Sahut Vebby.


" Tolong jagain Are sebentar, aku akan mengambil ponselku untuk mengabari Mami." Ucap Erald.


" Emang Are kenapa Er?" Tanya Saka.


" Are pingsan Om." Sahut Erald.


" Apa? Kak Are pingsan? Kenapa bisa pingsan Bang?" Tanya Vebby terkejut.


" Abang juga tidak tahu Veb, Abang ke kamar dulu ambil ponsel." Sahut Erald melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Tiga puluh menit kemudian, Mami Valen dan seorang dokter keluarga masuk ke dalam rumah Erald.


Dokter Anton segera memeriksa Are. Mami Valen, Erald, Saka dan Vebby melihat dokter Anton yang sedang memeriksa Are.


" Bagaimana kondisi menantu saya Dok? Sakit apa yang sedang menyerangnya saat ini?" Tanya Mami Valen menatap dokter Anton.


" Tenang Nyonya, Nona Are bukan terserang penyakit tapi Nona Are saat ini sedang mengandung."


" Apa." Pekik semua orang yang ada di sana.


" Me... Mengandung Dok? Apa Are hamil lagi?" Tanya Mami Valen memastikan.


" Iya Nyonya, saya ucapkan selamat untuk kalian semua, untuk memastikan berapa bulannya silahkan datang ke bagian obgyn di rumah sakit." Sahut dokter Anton.


" Oh Ya Tuhan.... Aku tidak mempercayai ini, Kak Are akan memberikan adik untuk twins padahal usia twins baru tiga bulan, benar benar hebat kamu Bang." Decak Vebby.


" Abang tidak tahu bagaimana reaksi Are jika tahu semua ini." Ucap Erald terlihat gelisah.


" Apa maksudmu Erald? Apa Are belum kb sampai kebobolan seperti ini?" Tanya Mami Valen menatap Erald.


" Se... Sebenarnya Are tidak tahu kalau Erald pernah melakukannya Mi."


" Apa? Jadi kamu melakukannya secara diam diam saat Are tidur lelap begitu?" Selidik Mami Valen.


" Iya Mi."


" Eralddddd."


" Abang....."


Teriak Mami Valen dan Saka bersamaan membuat dokter Anton dan Saka menggelengkan kepalanya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar Are tidak marah marah jika tahu Erald telah mencuri sesuatu darinya.....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2