Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Benarkah aku kehilanganmu?


__ADS_3

" Sayang..... Kamu benar benar membuat Mas deg degan tahu nggak, jantung Mas tuh hampir copot saat Ratna bilang Mas yang melakukannya, Mas pikir dunia Mas akan berhenti di sini dan Mas akan kehilangan kamu." Ucap Erald sambil menyuapi Are.


" Ya maaf Mas, aku tidak tahu mau ngeprank kamu yang gimana, aku hanya kepikiran tentang itu saja jadi ya aku suruh Mbak Ratna buat membantuku." Sahut Are.


" Benar benar nakal kamu ya." Ucap Erald mencubit pelan hidung Are.


" Ini juga kemauan anak anak kita Mas." Ujar Are.


" By the way anak anak Daddy juga suka ngusilin Daddy ya, udah pintar membuat Dad uring uringan nih, tapi nggak pa pa yang penting kalian bahagia." Ucap Erald mengelus perut Are.


" Maaf Dad, mumpung hari ulang Daddy jadi kita bikin ulah ngeprank Daddy biar Daddy galau, cemas dan merasa dag dig dug gitu, maaf ya Dad." Ucap Are menirukan suara anak kecil.


" Iya sayang Dad maafin kok, sekarang sebagai tanda terima kasih Daddy kepada kalian karena udah di kasih kejutan yang spesial, maka malam ini Daddy akan mengunjungi kalian, kita akan bermain bersama sampai pagi sayang." Ucap Erald membuat Are melotot ke arahnya.


" Sampai pagi? Yang benar aja kamu Mas, aku nggak kuat lah kalau sampai pagi bisa bisa patah tulang punggungku." Protes Are.


" Kamu tinggal diam aja, biar Mas sama babby yang main sayang, sekarang habiskan dulu makanannya dan jangan protes, kumpulkan tenaga yang banyak untuk malam ini." Ucap Erald.


Are cemberut menatap Erald, Erald memajukan wajahnya lalu....


Cup...


Erald mengecup bibir Are dengan lembut.


" Nggak baik sayang kalau melayani suami sambil cemberut gitu, senyum yang manis dan layani Mas dengan ikhlas maka kamu akan mendapatkan pahala." Ujar Erald.


" Hmm." Gumam Are.


Setelah menghabiskan makan malam dan membersihkan diri, Erald menepati ucapannya.


Erald mulai mencium bibir Are dengan lembut, Ia menahan tengkuk Are untuk memperdalam ciumannya. Are membalas ciuman Erald membuat jiwa kelakian Erald semakin tertantang.


Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Tangan Erald mulai mendarat ke area favoritnya. Are mendes*h menikmati sentuhan yang Erald berikan kepadanya.


Keduanya menyatukan diri dengan penuh perasaan bahagia. Suara erangan dan desah*n memenuhi kamar yang menjadi saksi betapa mereka saling mencintai.


Gemericik air hujan menambah syahdu suasana romantis mereka. Are terbuai dalam buaian suami tercintanya.

__ADS_1


Di tempat lain tepatnya di rumah sakit, Vebby terus menggenggam tangan Saka seolah menyalurkan kekuatan untuk suami tercintanya. Malam ini Ia dengan setia menunggu suaminya sadar dengan di temani Mama dan Papanya.


Vebby menatap wajah pucat Saka dengan tatapan sendu.


" By sadarlah! Buka matamu! Aku sangat merindukanmu By, aku mohon sadarlah! Jangan tinggalkan aku, aku tidak mau kehilangan kamu By, ku mohon buka matamu demi aku." Ucap Vebby mencium punggung tangan Saka.


" Kamu ingin melihat lucunya saat aku hamil, kamu ingin merasakan bagaimana aku merepotkanmu saat ngidam nanti kan? Aku mohon buka matamu, jangan seperti ini! Aku tidak bisa hidup tanpamu By, aku mohon jangan tinggalkan aku... Hiks..." Ucap Vebby terisak.


Om Irvan dan Tante Cia menatap Vebby dengan tatapan sedihnya melihat Vebby terpuruk seperti itu.Tante Cia menyadari betapa besar cinta Vebby untuk Saka. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena sempat melarang hubungan mereka.


" Kau lihat sayang! Vebby sangat mencintai Saka, andai saja dari dulu kamu memberikan restumu kepada mereka pasti saat ini kita sudah memiliki cucu." Ujar Om Irvan.


" Iya Mas, aku baru menyadarinya setelah melihat semua ini, aku minta maaf." Sahut Tante Cia.


" Kita berdoa saja untuk kesembuhan Saka." Sahut Om Irvan.


" Vebby." Panggil Om Irvan.


" Iya Pa." Sahut Vebby.


" Hari sudah malam, sekarang kamu tidurlah! Biar Papa yang menjaga Saka, kamu harus menjaga kesehatanmu juga kan? Jangan sampai Saka sembuh justru kamu yang sakit." Ujar Om Irvan menatap Vebby.


" Baiklah." Sahut Om Irvan.


Vebby naik ke atas ranjang dengan pelan. Ia memeluk Saka lalu memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Vebby mengerjapkan matanya saat mendengar suara gaduh di ruangan Saka. Ia melihat banyak suster dan seorang dokter berdiri di samping ranjang suaminya.


Vebby menatap Saka yang terbaring lemah tanpa alat alat medis yang menempel pada tubuhnya lagi. Ia melihat Papa dan Mamanya di pojokan ruangan yang sedang menangis sesegukan.


Jantungnya berdegup dengan kencang, pikiran buruk menghampirinya. Ia segera turun dari ranjang mendekati dokter yang menangani Saka.


" Dok apa yang terjadi kepada suami saya?" Tanya Vebby memastikan.


" Maaf Nona, kami sudah berusaha semaximal mungkin untuk menyelamatkan Tuan Saka, tapi Tuhan berkehendak lain, Tuan Saka tidak bisa kami selamatkan."


Jeduar.......

__ADS_1


Ucapan dokter Rayyan bagaikan petir yang menyambar tubuh Vebby. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak, nafasnya tercekat di tenggorokan membuat dadanya sakit luar biasa.


Tubuh Vebby terhuyung ke belakang, beruntung Om Irvan segera menangkapnya.


" Sayang, menangislah jika kamu mau menangis! Keluarkan sesak di dadamu, jangan kamu tahan sayang, ini akan berakibat buruk pada keadaanmu." Ucap Om Irvan.


" Pa..... Om Saka Pa.... Om Saka pergi meninggalkan aku, dia melanggar sumpah dan janjinya untuk selalu tetap berada di sisihku Pa tapi malah dia pergi jauh dariku untuk selamanya Pa, dia membohongiku Pa." Lirih Vebby.


" Ikhlaskan semuanya sayang.... Mungkin ini yang terbaik untuk Saka agar dia tidak merasakan sakit lagi, ikhlaskan kepergiannya! Biarkan dia pergi dengan tenang sayang." Ucap Tante Cia mengusap kepala Vebby.


" Heh... Ikhlas...." Kekeh Vebby.


" Bagaimana aku bisa mengikhlaskan kepergiannya secepat ini Ma? Aku sangat mencintainya, aku punya harapan besar kepadanya dan pada pernikahan kami." Ucap Vebby menatap ke depan dengan tatapan kosong.


" Aku berharap akan hidup bahagia bersama Om Saka dan anak anakku nanti, kami punya impian untuk masa depan pernikahan kami, dia berjanji akan selalu membuatku bahagia, tapi apa? Dia pergi begitu saja Ma.... Dia pergi meninggalkan aku yang baru beberapa hari di nikahinya, kenapa dia tega melakukan semua ini kepadaku Ma? Kenapa Ma? Kenapa dia tega?" Vebby mengguncang kedua bahu Mamanya.


Rasanya saat ini Ia sudah tidak punya harapan hidup. Tujuan hidupnya sudah tiada bersamaan dengan kepergian Saka.


" Sayang menangislah, keluarkan semua sesak di dadamu." Ucap Om Irvan.


Entah mengapa Vebby sangat sulit untuk mengeluarkan air mata. Tatapannya kosong seperti raga tanpa nyawa.


" Vebby menangislah sayang, Saka tiada, Saka sudah meninggal sayang, menangislah." Ucap Tante Cia menepuk pipi Vebby.


Tante Cia khawatir akan terjadi sesuatu dengan Vebby jika Vebby tidak bisa mengeluarkan kesedihannya.


" Vebby... Lihatlah! Saka sudah tiada sayang, dia meninggalkan kamu untuk selamanya." Ucap Tante Cia menarik Vebby ke hadapan Saka yang sudah terbujur kaku di atas ranjang.


Vebby menyentuh pipi Saka yang nampak begitu pucat. Tiba tiba air mata menetes di pipinya.


" Tidakkkkkkkkkk......"


Sedih nggak nih Saka tiada?


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat mengetiknya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC.....


__ADS_2