
" Tidak perlu bertele tele, katakan ya atau tidak, jika ya maka saya akan meninggalkan cek sekarang juga, jika tidak maka saya tunggu surat panggilan dari polisi untuk suami saya." Sahut Are memotong ucapan Pak Amat.
" Saya... Baiklah saya setuju, saya meminta uang santunan dengan nominal yang cukup untuk menghidupi anak dan calon cucu saya." Ucap Pak Amat membuat Are merasa lega. Ia lebih rela kehilangan uangnya daripada kehilangan suami tercintanya.
" Baiklah, ini ceknya dan tulis sendiri nominal yang anda inginkan, masalah kita selesai sampai di sini, jangan pernah berani menemui keluargaku setelah ini." Ujar Are.
" Baik Nona, kami ucapkan terima kasih kepada anda dan kami mohon maaf atas apa yang telah kami lakukan kepada Nak Erald.
" Tidak masalah, kalau begitu kami pulang dulu." Pamit Are.
" Hati hati! Nona, Nyonya dan Tuan." Ucap Pak Amat.
" Terima kasih Pak." Sahut Papi Nathan.
Mereka berempat beranjak menuju mobil. Erald mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
" Sayang gimana kalau kita langsung ke rumah sakit saja." Ujar Erald.
" Ke rumah sakit?" Tanya Mami Valen mengerutkan keningnya.
" Siapa yang sakit?" Sambung Mami Valen menatap Are dan Erald yang duduk di kursi depan.
" Enggak sakit Mi cuma mau chek up saja." Sahut Erald.
" Owh." Gumam Mami Valen.
" Gimana Yank? Kita langsung ke rumah sakit saja ya." Ujar Erald.
" Boleh Mas." Sahut Are.
Erald melajukan mobilnya menuju rumah sakit ibu dan anak, sesampainya di sana Erald menghentikan mobilnya di halaman parkir rumah sakit membuat Mami Valen sedikit heran.
" Kalian mau chek up apa sih? Kok kita ke sini?" Tanya Mami Valen.
" Nanti Mami juga akan tahu sendiri." Sahut Erald.
" Ayo sayang kita turun." Ucap Erald membukakan pintu mobil untuk Are.
Mereka berempat masuk ke dalam menuju ruang obgyn dimana Erald sudah membuat janji sebelumnya. Di depan pintu Erald dan Are di sambut oleh seorang suster.
" Selamat siang Tuan dan Nyonya, silahkan masuk! Dokter sudah menunggu kedatangan anda." Ucap suster.
" Terima kasih Sus." Ucap Are masukke dalam di ikuti Mami Valen dan Papi Nathan dari belakang.
" Silahkan duduk Tuan dan Nyonya." Ucap Dokter.
" Terima kasih Dok." Sahut Are duduk di kursi depan Dokter.
" Mami duduk Mi." Ucap Erald
Mami duduk di samping Are sedangkan Papi Nathan dan Erald duduk di belakang para istrinya.
__ADS_1
Dokter Mila merasa kagum dengan keluarga Erald. Baru kali ini ada keluarga yang mengecek kandungan bersama sama dengan kedua orang tuanya. Benar benar keluarga yang harmonis pikirnya.
" Apa yang anda keluhkan Nona?" Tanya Dokter Mila menatap Are.
" Kemarin saya mual mual Dok, dan setelah saya tes ternyata hasilnya positif." Ujar Are.
Mami Valen menatap Are dengan tatapan tidak percaya.
" Sayang kamu...." Ucap Mami Valen menjeda ucapannya.
" Iya Mi, dan saya ingin memastikan keadaan saya dan calon janin saya Dok." Ucap Are menatap Dokter Mila.
" Baiklah Nona, sekarang berbaringlah di atas ranjang! Saya akan memeriksa anda dan calon janin anda." Ucap Dokter Mila.
" Iya Dok." Sahut Are.
Are berbaring di atas ranjang. Dokter Mila menutup perut Are menggunakan selimut.
" Lihatlah ke monitor Tuan, Nyonya dan Nona." Ucap Dokter Mila.
" Iya Dok." Sahut mereka semua.
Dokter Mila menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.
" Lihatlah Nona! Titik hitam yang berada di kantung ini merupakan calon janin anda, bentuknya masih sekecil biji kacang hijau dan di perkirakan usianya mencapai enam minggu." Ucap Dokter Mila.
" Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Mami Valen.
" Alhamdulillah." Ucap mereka serempak.
" Tunggu... Sepertinya masih ada kejutan lagi." Ujar Dokter Mila.
" Kejutan? Kejutan apa Dok?" Tanya Are penasaran.
" Saya belum bisa memastikannya, tunggu beberapa bulan lagi Nona saya akan menyampaikan kejutan itu." Sahut Dokter Mila.
" Baiklah Dok saya tidak akan memaksa anda, biarkan semua ini menjadi rasa penasaran untuk saya." Sahut Are.
" Jaga kesehatan anda Nona, jangan sampai lelah, stress, apalagi sampai kecapekan." Ucap Dokter Mila.
" Istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, perbanyak minum air putih, dan jangan lewatkan untuk makan buah buahan, saya akan resepkan beberapa vitamin untuk anda minum, datang kembali satu bulan lagi." Ucap Dokter Mila kembali ke kursinya.
Are turun dari ranjang, Mami Valen mendekatinya.
" Selamat sayang, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, jaga selalu kesehatanmu dan calon cucu Mami, semoga kalian selalu bahagia." Ucap Mami Valen memeluk Are.
" Terima kasih Mi." Sahut Are.
Mami Valen melepas pelukannya, Ia mendekati Papi Nathan.
" Pi akhirnya Mami akan mempunyai cucu untuk Mami pamerkan kepada teman teman Mami, ah Mami seneng banget Pi... Selama ini Mami selalu di pamer pameri sama mereka mentang mentang mereka sudah pada punya cucu." Omel Mami Valen.
__ADS_1
" Bu Dokter." Ucap Mami Valen menatap Dokter Mila.
" Iya Nya." Sahut Dokter Mila.
" Kalau bisa jadikan cucu saya ada dua ya, biar teman teman saya pada iri dan pada malu karena telah menghina saya, kata mereka sudah tua kok belum punya cucu." Ucap Mami Valen membuat Dokter Mila tersenyum.
" Isyaallah Nyonya, kita berdoa saja semoga Nona Are mengandung anak kembar." Ucap Dokter Mila.
" Amin." Sahut mereka semua.
" Ini resep yang harus di tebus Tuan Erald, di minum sampai habis ya." Ujar Suster memberikan kertas berisikan resep kepada Erald.
" Terima kasih Sus, kalau begitu kami permisi." Ucap Erald.
Mereka berempat keluar dari ruangan obgyn menuju bagian farmasi.
Setelah menebus obat, Erald melajukan mobilnya menuju rumahnya. Di dalam perjalanan Mami Valen terus berbicara meluapkan rasa bahagia yang membumbung dalam hatinya.
" Pi... Mami mau menginap di rumah Erald untuk beberapa hari." Ucap Mami Valen.
" Mami mau apa menginap di sana?" Tanya Papi Nathan.
" Mami mau merawat Are selama masa mengidamnya, Mami tidak mau jika sampai Are kenapa napa selama masa kehamilan trisemester pertamanya." Sahut Mami Valen.
" Tapi Mami akan mengganggu kebersamaan mereka berdua Mi." Ujar Papi Nathan.
" Are, Erald... Boleh nggak Mami menginap di rumah kalian? Mami ingin ikut merawat Are selama masa mengidam." Ucap Mami Valen.
Erald menatap ke arah Are yang di balas anggukan kepala oleh Are.
" Baiklah Mi, kami akan sangat bahagia karena Mami begitu antusias menyambut kehadiran calon anak kami." Sahut Erald.
" Terima kasih sayang, Are mulai sekarang kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, biarkan Mami dan Erald yang mengerjakannya, kamu tinggal duduk manis sambil mempelajari seputar kehamilan dan merawat bayi ya." Ujar Mami Valen.
" Siap Mi, terima kasih untuk perhatian dan kasih sayang yang Mami berikan kepadaku." Ucap Are.
" Sama sama sayang." Sahut Mami Valen.
Are merasa begitu bahagia bisa memiliki mertua seperti Mami Valen yang begitu menyayanginya. Are menggenggam tangan Erald sambil tersenyum manis ke arah Erald.
" Terima kasih sayang." Ucap Erald mencium punggung tangan Are.
TBC....
Beberapa bab fokus ke masa ngidam Are ya
Hari ini satu bab dulu ya... Migrain author lagi kambuh ini aja di paksain menulis...
Jangan lupa like koment dan vote serta hadiahnya ya
Miss U All...
__ADS_1