Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Pernikahan & Kepergian


__ADS_3

" Tidak bisa." Ucap Bella membuat semua orang menatap ke arahnya. Ia menuruni tangga menghampiri Are dan Alvin.


" Kenapa tidak bisa?" Tanya Are menatap Bella.


" Karena Erald harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepadaku." Sahut Bella.


" Perbuatan yang mana yang kau maksudkan?" Tanya Are santai.


" Perbuatan yang kemarin siang Erald lakukan padaku." Sahut Bella membuat semua orang saling melempar pandangan.


" Memangnya apa yang Erald lakukan padamu? Katakan yang jelas supaya Erald bisa bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat kepadamu." Ucap Are.


" Em... Di.. Dia... Dia memper**** ku." Sahut Bella.


Semua orang melongo menatap Erald dengan tatapan mengintimidasi.


" Bagaimana bisa orang tidak sadarkan diri bisa berbuat seperti itu, sepertinya kau yang memper****nya." Ucap Are.


" Jaga ucapanmu Are." Bentak Bella.


" Jangan pernah berteriak di depanku." Bentak Are.


" Wanita rendahan sepertimu tidak pantas berkata lembut kepadaku, apalagi berbicara kasar kepadaku Bella." Sambung Are menunjuk wajah Bella.


" Kau tidak tahu apa apa Are, kemarin kau hanya melihat setelahnya saja." Ujar Bella.


" Aku mengetahui semuanya Bella." Sahut Are membuat Bella melongo.


" Aku mengetahui semua rencana busukmu dan Alvin." Tegas Are menatap Bella dan Alvin bergantian.


" Apa maksudmu Are?" Tanya Alvin menatap Are.


" Tidak perlu berpura pura Alvin, aku tahu jika kau bekerja sama dengan Bella untuk menjebak Mas Erald, kau menyuruh Bella untuk datang ke kantor Mas Erald, Bella memasukkan obat tidur ke dalam minuman Mas Erald sehingga membuat Mas Erald tidak sadar, lalu Bella membuat suasana seolah olah Mas Erald melakukan hal yang tidak pantas kepada Bella, kau berniat untuk memisahkan kami namun kau gagal dengan rencana itu, dan kau membuat rencana untuk menculikku dan menikahiku sebelum Mas Erald menikahiku, aku tahu semuanya Alvin." Terang Are.


" Kau... Kau tahu darimana Are? Aku tidak bermaksud...


" Aku menyadap semua percakapanmu dengan Bella yang sedang merencanakan semuanya, jadi kau tidak perlu berkilah lagi, aku diam tidak memberitahu Abangmu karena aku masih menghargaimu sebagai adik dari calon suamiku, tapi kau membuatku mengungkap semuanya " Ujar Are.


" Kau menyadap ponsel kami?" Tanya Bella memastikan.


" Ya.. Jadi sekarang kau yang harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu kepada calon suamiku, sebentar lagi polisi akan kemari menangkap kalian berdua, semoga dengan ini akan membuat kalian sadar dan menjadi manusia yang lebih baik lagi." Ucap Are.


Are mendekati Erald. Ia menatap wajah Erald begitupun dengan Erald. Keduanya saling menatap dengan penuh cinta.


" Kamu sangat cantik sayang, seperti pengantin yang melarikan diri." Canda Erald.


" Jangan melarikan diri itu terlihat menyiksa untukmu, tapi seperti pengantin yang di culik karena kecantikanku yang mempesona penculiknya." Ujar Are.


" Kamu bisa saja, aku mencintaimu." Ucap Erald.


" Aku juga." Sahut Are.


" Ayo kita pulang, pak penghulu sudah menunggu kita di rumah." Ucap Erald.

__ADS_1


" Ayo Mas." Sahut Are.


" Tunggu Are, Mami ingin mengatakan kata terakhir untuk bajing*n yang sedang berdiri di depan Mami." Ucap Mami Valen menatap tajam ke arah Alvin yang sedang berdiri di depannya.


" Ma...


" Jangan pernah memanggilku Mami dengan mulut kotormu." Bentak Mami Valen.


" Sekarang juga aku putuskan kau bukanlah bagian dari keluarga Ardiansyah, kau hanya orang lain dan aku... Aku tidak akan menahan polisi untuk membawamu, kau memang pantas di hukum untuk semua perbuatanmu Alvin." Bentak Mami Valen menunjuk Alvin.


" Mami... Maafkan aku." Ucap Alvin.


" Aku tidak sudi memaafkanmu, aku kecewa sama kamu... Sangat kecewa." Ketus Mami Valen.


" Ayo sayang kita pulang! Kita tinggalkan rumah penjahat sepertinya, biarkan dia hidup sendiri." Ucap Mami Valen menahan sesak di dadanya.


Sebenarnya sebagai seorang ibu, Mami Valen tidak tega mengucapkan kata kata menyakitkan kepada putra tercintanya. Namun hatinya sakit ketika melihat putra yang sangat Ia sayangi, putra yang Ia didik dengan penuh kasih sayang kini menjadi monster untuk keluarganya sendiri. Bahkan Alvin tega menikam Erald dari belakang. Tak terasa air mata Mami Valen menetes begitu saja. Ia segera mengusapnya karena tidak mau ada yang tahu jika saat ini Mami Valen merasakan kerapuhan yang sangat dalam.


Erald merangkul pundak Are berjalan menuju pintu ke luar. Bella melirik pisau buah yang ada di atas meja. Ia mengambilnya lalu berlari menghampiri Are. Alvin yang melihatnya segera berlari mendahului Bella.


" Are..." Teriak Alvin mendorong tubuh Are hingga tersungkur di lantai.


Tiba tiba...


" Argh..." Teriak Alvin saat pisau yang Bella pegang menancap pada bagian perut atasnya.


Seketika tubuh Alvin merosot ke bawah.


" Alllviiiinnnn." Teriak Are menghampiri Alvin yang berlumuran darah.


" Jodi... Amankan Bella, jangan sampai dia kabur." Teriak Are.


Jodi pun menyergap Bella lalu mengurungnya di kamar tamu.


" Alvin." Ucap Papi Nathan memangku kepala Alvin menggunakan pahanya.


" Alvin... Hiks..." Isak Mami Valen melihat Alvin sekarat.


" Alvin bertahanlah!" Ucap Are.


" A.... Are maafkan aku, sepertinya waktuku tidak lama lagi, aku merasakan sakit yang teramat sangat Ar." Ucap Alvin dengan nafas tersengal.


" Jangan bilang seperti itu, kau harus bertahan! Mas segera bawa Alvin ke rumah sakit." Ucap Are menatap Erald.


" Tidak perlu Ar." Sahut Alvin menggenggam tangan Are.


" Aku ingin meminta sesuatu darimu untuk yang terakhir kalinya... Kali ini benar benar yang terakhir Ar, aku tidak akan meminta apapun lagi darimu." Ucap Alvin.


Are menatap Erald yang menganggukkan kepalanya.


" Katakan apa keinginanmu! Sebisa mungkin aku akan mengabulkannya seperti sebelumnya." Ucap Are.


" Menikahlah dengan Bang Erald sekarang juga di depanku, aku ingin menjadi bagian dari kebahagiaanmu, jadikan mas kawin yang akan aku berikan kepadamu sebagai mas kawin Bang Erald." Ujar Alvin.

__ADS_1


" A... Aku..." Are menjeda ucapannya. Ia bingung harus mengatakan apa.


" Baiklah sayang, kau akan melihat Are dan Erald menikah sekarang juga, pak penghulu tolong segera nikahkan mereka, dokumennya akan segera di bawakan oleh orang suruhan saya." Ucap Mami Valen.


" Baik Nyonya." Sahut pak penghulu.


Are dan Erald duduk lesehan di depan Alvin, sedangkan pak penghulu duduk di depan Erald.


" Saudara Aderald Valentino Ardiansyah." Ucap pak penghulu menjabat tangan Erald.


" Saya." Sahut Erald.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Aresha Angelista Wijaya binti Wijaya dengan mas kawin sebuah kalung berlian seberat dua puluh gram di bayar tunai." Ucap pak penghulu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Aresha Angelista Wijaya binti Wijaya dengan mas kawin tersebut tunai." Sahut Erald lantang.


" Bagaimana saksi?" Tanya pak penghulu.


" Sah." Sahut kedua saksi.


" Alhamdulillah." Ucap semua orang yang hadir di sana.


Setelah pak penghulu selesai membacakan doa doa, nafas Alvin tersengal sengal membuat semua orang panik.


" Alvin... Bertahanlah Nak." Ucap Papi Nathan.


" Papi, Mami, Abang dan Are.... Aku meminta maaf atas semua kesalahanku selama ini." Ucap Alvin.


" Kami sudah memaafkanmu sayang, pergilah dengan tenang kami sudah mengikhlaskan kepergianmu." Ucap Mami Valen berderai air mata.


" Ma... af... kan... A... ku." Ucap Alvin menghembuskan nafas terakhirnya.


" Alviiinnnn." Teriak Mami Valen dan Are bersamaan.


" Ha.....aaa...." Mami Valen meraung melihat kepergian putra kesayangannya dengan cara mengenaskan.


" Hiks... Hiks... Mas." Isak Are.


Erald menarik tubuh Are ke dalam pelukannya.


" Bersabarlah sayang, ini semua sudah menjadi takdir Tuhan." Ucap Erald mengelus punggung Are.


" Mas...." Lirih Are masih terisak.


" Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita semua sayang." Ucap Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


Sedih nggak sih kehilangan Alvin?


Jangan lupa like koment dan votenya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2