
Mara segera masuk ke kamar lalu menguncinya. Ia mengambil ponsel lalu menelepon seseorang untuk mengabarkan sesuatu hal yang teramat penting baginya. Setelah selesai Ia mematikan sambungan teleponnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang menatap langit langit kamar.
" Apapun akan aku lakukan untukmu, seberapapun besar resikonya aku akan menjalankan apa yang kau perintahkan, aku akan membuat mereka membayar atas semua penderitaanmu." Monolog Mara tersenyum smirk.
Mara memejamkan matanya masuk ke alam mimpi. Begitupun dengan para penghuni rumah Papi Nathan yang lainnya.
Pagi hari sinar matahari telah menyingsing, Are mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping menatap Erald yang sedang tidur pulas memeluk dirinya. Are tersenyum melihat ketampanan suami yang sangat Ia cintai, bukan hanya itu namun wajah suaminya nampak begitu teduh di dalam hatinya. Are mengubah posisinya menjadi miring menghadap Erald, Ia meraba wajah Erald dengan lembut.
" Mas masih mengantuk sayang." Gumam Erald tanpa membuka matanya.
" Bangun Mas! Ini sudah agak siang lhoh, bukannya kamu ada meeting pagi ini." Ujar Are.
Erald membuka matanya menatap jam pada dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
" Masih jam enam sayang, Mas meeting jam delapan." Ucap Erald kembali memejamkan matanya.
" Ya udah kalau Mas masih mau tidur, aku mau mandi dulu." Ucap Are hendak beranjak namun Erald justru mengeratkan pelukannya.
" Nggak boleh, diam di sini aja." Ujar Erald.
" Mas aku harus menyiapkan sarapan juga." Ujar Are.
" Biarkan art songong itu yang menyiapkannya, tugasmu hanya melayani Mas saja bukan yang lainnya titik." Sahut Erald.
" Hmm baiklah, aku akan melakukan apapun sesuai keinginanmu." Sahut Are pasrah.
" Yang bener?" Tanya Erald memastikan.
" Emangnya kamu mau aku melakukan apa?" Tanya Are.
" Mendingan kita ulangi yang semalam Yank." Ucap Erald.
" Nggak mau ah Mas, badanku masih pegal pegal semua." Sahut Are.
" Sekali saja." Tawar Erald.
" Kamu ngomongnya sekali, tapi kalau di turuti jadi berkali kali." Sahut Are.
" Kali ini beneran deh sekali saja, Mas kan juga harus bersiap untuk meeting." Ujar Erald.
" Baiklah." Sahut Are pasrah mau menolak takut dosa.
Erald mulai mencium bibir Are dengan lembut, tangannya bergerilya kemana mana. Permainan yang menguras tenaga mereka mainkan untuk menyambut pagi hari yang cerah, secerah hati mereka saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai sarapan Erald berpamitan kepada Are untuk berangkat ke kantor. Ia memeluk tubuh Are lalu mencium kening Are dengan lembut di dalam kamar mereka.
" Mas berangkat dulu ya, setelah meeting Mas akan langsung pulang." Ucap Erald menatap Are.
" Iya Mas hati hati ya, semoga meeting kali ini lancar dan hasilnya sesuai apa yang kamu harapkan." Ucap Are.
" Amin, terima kasih sayang." Ucap Erald mengulurkan tangannya. Are mencium punggung tangan Erald dengan takzim.
" Oh ya sayang, Mas meminta padamu jangan terlalu dekat dengan Mara ya, entah mengapa Mas merasa dia berniat buruk kepadamu." Ucap Erald.
" Mas dia itu temanku, tidak mungkinlah dia punya niatan buruk kepadaku." Ujar Are.
" Sayang apapun bisa terjadi seiring berjalannya waktu, kalian sudah lama tidak bertemu kamu juga pasti sudah tidak mengenal sifat Mara yang baru kan? Mas meminta kamu harus tetap hati hati." Ujar Erald.
__ADS_1
" Iya Mas." Sahut Are.
" Kalau begitu Mas berangkat dulu, kalau ada apa apa kamu segera kabari Mas ya, Assalamu'alaikum." Ucap Erald.
" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Are.
Erald keluar dari kamarnya, Are duduk selonjor bersandar pada head board sambil mengecek laporan perusahaan pada ponselnya.
Drt.... Drt....
Telepon berdering tanda panggilan masuk. Are melihat id pemanggil.
" Kak Juna." Gumam Are.
Are menggeser tombol hijau.
" Halo Kak." Sapa Are setelah mengangkat panggilan teleponnya.
" Halo Re, kamu bisa ke sini nggak?" Tanya Juna di sebrang sana.
" Kenapa Kak?" Are balik bertanya.
" Ghea sedikit demam." Sahut Juna.
" Apa Kak? Ghea demam?" Pekik Are.
" Iya, tapi kamu jangan khawatir, demamnya tidak terlalu tinggi kok, cuma dia nanyain kamu terus." Ujar Juna.
" Baik Kak, aku akan segera ke sana." Sahut Are.
" Terima kasih Re, aku tunggu." Sahut Juna.
" Iya Kak." Sahut Are memutuskan sambungan teleponnya.
" Ar lo mau kemana?" Tanya Mara dengan nampan berisi dua jus di tangannya.
" Aku mau ke rumah anak angkatku dulu, dia demam Ra." Sahut Are.
" Yah padahal aku sudah buatkan jus buat kita berdua, kamu bilang mau bersantai sama aku." Ujar Mara.
" Kebetulan aku sedang haus Ra, aku akan meminumnya." Ucap Are mengambil segelas jus jeruk buatan Mara, lalu Ia meminumnya hingga setengah gelas.
" Makasih Ya Ra, aku pergi dulu nanti kalau Mami nyariin aku bilang kalau aku ke rumah Ghea ya." Ujar Are.
" Ok." Sahut Mara menatap kepergian Are.
Are masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Juna dengan kecepatan sedang. Lima belas menit kemudian Are sampai di kediaman Juna dan Ghea.
" Shh... Kok kepalaku berdenyut ya." Ucap Are memegangi kepalanya.
Are turun dari mobil lau berjalan menuju pintu rumah Juna.
" Assalamu'alaikum." Ucap Are.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Juna membukakan pintunya.
Ceklek....
Bugh..
__ADS_1
" Are." Ucap Juna menopang tubuh Are yang terhuyung ke depan tubuhnya.
" Are kamu tidak pa pa?" Tanya Juna menyentuh kedua pundak Are.
" Entah kenapa tiba tiba kepalaku merasa sedikit pusing Kak." Sahut Are memegang kepalanya.
" Duduklah dulu." Ucap Juna hendak menuntun Are ke sofa namun tiba tiba...
Brugh...
Are tidak sadarkan diri dalam dekapan Juna, Juna segera membopong Are ala brydal style menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh Are pelan ke atas ranjangnya.
" Are, kamu kenapa Are?" Tanya Juna sedikit cemas.
" Are bangunlah! Jangan membuat aku cemas Are." Ujar Juna.
" Mama kenapa Pa?" Tanya Ghea yang baru saja masuk ke dalam kamar Juna.
" Papa tidak tahu sayang, tiba tiba Mamamu tidak sadarkan diri." Sahut Juna.
Juna duduk di tepi ranjang, Ia menggosok tangan Are berharap Are bisa cepat sadar.
" Papa beri Mama sesuatu yang bisa menyadarkan Mama Pa." Ujar Ghea.
" Biasanya orang pingsan di kasih minyak kayu putih sayang, tapi kita kan nggak punya, kamu kan udah besar udah nggak pakai minyak kayu putih lagi." Sahut Juna bingung.
" Pa telepon Papa Erald saja, suruh Papa Erald ke sini." Ujar Ghea.
" Ah iya, Papa akan mencoba menelepon Erald." Sahut Juna.
Juna mengambil ponselnya untuk menelepon Erald, namun Juna ingat jika Ia tidak punya nomor telepon Erald.
" Ah sial." Umpat Juna.
" Kenapa Pa?" Tanya Ghea.
" Papa tidak punya nomer telepon Papa Er." Sahut Juna.
" Pakai ponsel Mama aja Pa, pasti ada kontak Papa Er di sana." Ujar Ghea.
" Papa tidak tahu kode ponsel Mama Are sayang." Sahut Juna.
Ya Are selalu mengunci ponselnya dengan kata sandi hingga membuat orang lain tidak bisa membukanya.
" Ghea punya nomer Aunti Fara Pa, Ghea telepon Aunti Fara aja ya." Ucap Ghea.
" Baiklah sayang segera kasih tahu Aunti Fara kalau Mama pingsan." Sahut Juna.
Ghea menelepon Fara mengabarkan jika Are pingsan di rumahnya. Setelah Juna mengirimkan sharelock, Fara segera ke rumah Juna.
Di dalam ruangan Erald, saat ini Erald sedang melihat foto yang di kirimkan oleh seseorang yang tidak di kenal. Tangannya mengepal erat menahan rasa sesak yang menjalar dalam hatinya. Emosi yang membuncah dalam dirinya membuatnya ingin membuang semua yang ada di depannya.
Kira kira foto apa ya????
Penasaran atau udah bisa ketebak nih?
Jangan lupa like koment vote dan hadiah biar author semangat ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....