Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Gadis Pencuri Hati


__ADS_3

Erald dan Are menghampiri Mami Valen dan Papi Nathan yang sedang menggendong twins.


" Astaga Mami... Papi... Kalian membuat jantung kami hampir copot tahu nggak sih? Kenapa nggak bilang kalau ambil twins dari ranjang, kami kira twins di culik Mi, Pi." Ucap Erald.


" Lagian kalian sedang bermesraan nggak ingat keadaan sekitar, Mami masuk ambil twins aja kalian nggak menyadari." Sahut Mami Valen.


" He he." Sahut Erald nyengir sambil menggaruk kepalanya.


" Lain kali tutup pintunya Bang, kalau benar benar penculik yang masuk mengambil twins gimana?" Ujar Papi Nathan.


" Iya Pi, maaf." Sahut Erald.


" Kami yang seharusnya meminta maaf, karena kami telah membuat kalian panik." Ucap Mami Valen.


" Iya Mi nggak pa pa." Sahut Erald.


" Oh ya sayang apa kamu tidak pa pa? Ada yang sakit nggak? Secara kan kamu tadi ikut lari lari." Ujar Erald menatap Are.


" Aku baik baik saja Mas." Sahut Are tersenyum lega.


Mereka melanjutkan mengobrol di gazebo belakang rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arsen berjalan bersama Revan dan Verdy di sebuah mall ternama di kota ini. Ketiga jomblo itu sedang melakukan pengunjungan pada sebuah restoran yang terkenal di dalam mall tersebut yang akan bekerja sama dengan perusahaan Revan.


" Awh." Pekik seorang gadis yang tiba tiba menabrak Arsen.


" Kalau jalan pakai mat...


" Kalau jalan pakai kaki Tuan, kalau melihat baru pakai mata." Ucap gadis tersebut memotong ucapan Arsen.


" Ha ha ha ha." Tawa Revan dan Verdy pecah seketika.


Arsen menatap tajam ke arah keduanya hingga membuat tawa keduanya berhenti seketika. Keduanya membuang pandangan ke sembarang arah guna menghindari tatapan mematikan dari Arsen.


" Hei Nona, dengar baik baik! Kau sudah salah menabrakku tapi kau tidak meminta maaf padaku..


" Saya bukan tidak minta maaf Tuan tapi belum... Maafkan saya Tuan." Lagi lagi gadis itu memotong ucapan Arsen.


" Mari Tuan Tuan." Ucap gadis itu.


Gadis cantik bermata hitam legam dengan rambut yang di kucir kuda membungkukkan badannya lalu meninggalkan ketiga jomblo yang terbengong menatap kepergiannya.


" Benar benar tidak sopan." Gerutu Arsen.


" Bukan tidak sopan tapi cantik Kak Ar." Sahut Verdy.


" Tahu apa kau soal wanita cantik? Cantik kalau tidak sopan dan tidak berpendidikan untuk apa." Ujar Arsen memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.


" Jangan begitu donk Kak, nanti kalau jodoh gimana." Ujar Revan menggoda Arsen.


" Aku? Berjodoh sama wanita tadi? Mending aku jadi jomblo seumur hidup." Sahut Arsen menunjuk dirinya sendiri.


" Kalau kata Veb nih ya Kak, jodoh itu pemberian Tuhan Kak, Kak Ar tidak bisa menolak ataupun menggantikannya dengan yang lainnya, jadi syukuri saja jika Tuhan mengirimkan dia sebagai jodoh Kakak." Ucap Verdy sok bijak.


" Aku akan lebih bersyukur kalau Tuhan memberikan aku jodoh yang punya etika dan kesopanan yang tinggi." Sahut Arsen melanjutkan langkahnya.


" Dia sopan kok Kak, buktinya dia meminta maaf sambil membungkukkan badannya sebelum dia pergi, Kakak saja yang tidak sabaran menunggu kata maaf darinya." Ujar Revan menjajari langkah Arsen.


" Kenapa jadi bahas wanita itu? Kenapa juga kalian malah membelanya? Kita tidak mengenalnya dan jika kamu suka, ambil aja." Ucap Arsen.


" Nggak mau ah." Sahut Revan.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Arsen menghentikan langkahnya. Ia menatap kedua adik sepupunya.


Verdy menatap Revan begitupun sebaliknya.


" Karena dia jodoh Kakak." Sahut keduanya bersamaan.


" Sialan kalian." Umpat Arsen hendak menjitak kepala Verdy namun Verdy segera menghindar.


" Kalau mengejek lagi Kakak tidak mau membantu bisnis kalian lagi." Ancam Arsen.


" Ah jangan donk Kak, baiklah kami akan diam." Ucap Verdy mencolek pinggang Revan.


" Iya Kak kami tidak akan meledek Kak Ar lagi." Sahut Revan.


" Bagus, sekarang ayo kita masuk ke resto itu, kita lihat bagaimana cara kerja dan pelayanan di sana." Ucap Arsen.


" Baik Kak." Sahut Verdy dan Revan bersamaan.


Arsen, Revan dan Verdy masuk ke dalam restoran suka hati. Banyak pengunjung yang makan di sana. Arsen mengedarkan pandangannya sambil terus berjalan tiba tiba...


Bruk....


Prang....


Seorang pelayan menabrak tubuh Arsen membuat makanan dan minuman tumpah ke baju Arsen dan tentunya gelas dan piringnya mendarat ke lantai.


Para pengunjung lainnya mempusatkan fokus mereka pada kejadian yang di anggap menarik perhatian itu.


" Ah maaf Tuan, maafkan saya! Saya tidak sengaja." Ucap pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.


" Aish.... Bagaimana bisa kamu seceroboh ini hah." Bentak Arsen membuat sang pelayan berjingkrak kaget.


" Kau lihat? Bajuku jadi kotor semua." Sambung Arsen.


" Kamu."


" Kamu." Ucap keduanya bersamaan.


Ternyata yang menabrak Arsen adalah gadis yang sama dengan gadis yang menabraknya tadi.


" Kamu tadi bilang kalau jalan pakai kaki terus melihat pakai mata kan?" Tanya Arsen menatap gadis itu.


" I... Iya Tuan." Sahut gadis itu gugup.


" Lalu apa kamu buta? Kamu menggunakan kakimu untuk berjalan tapi kamu tidak menggunakan matamu untuk melihat ke depan Nona." Tegas Arsen.


" Saya benar benar minta maaf Tuan, terus terang saja saya tidak fokus bekerja hari ini." Sahut gadis itu.


" Kalau tidak fokus kerja kenapa kamu bekerja hah? Kalau kerja harus profesional donk! Kalau tidak mending kamu di rumah saja." Kesal Arsen.


" Benar benar pelayanan yang buruk." Cebik Arsen.


" Saya harus bekerja karena saya membutuhkan banyak uang Tuan, saya bukan orang beruntung seperti anda yang bekerja di kantoran, saya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga saya Tuan." Sahut gadis itu.


" Beraninya kau mengatakan seperti itu kepadaku." Ucap Arsen geram.


" Reya apa yang kamu lakukan hah? Kenapa kamu bisa melakukan kesalahan seperti ini? Apa kamu tahu siapa Tuan yang berdiri di depanmu itu?" Bentak seorang pria yang bekerja sebagai manager restorant tersebut.


" Saya manusia biasa Pak, jadi wajar kalau saya melakukan suatu kesalahan dan saya sudah meminta maaf, bukankah sebagai sesama makhluk Tuhan kita harus saling memaafkan? Lagian ini bukan hal besar Pak, saya tidak sengaja melakukannya." Sahut Reya berani.


" Beraninya kau." Bentak sang manager mengangkat tangannya hendak memukul Reya.


Reya memejamkan matanya menanti tamparan itu mendarat di pipinya.

__ADS_1


" Dengar Tuan! Saya tidak suka kekerasan apalagi terhadap wanita." Ucap Arsen menangkis tangan manager tersebut.


" Maafkan saya Tuan, saya terbawa emosi." Sahut manager.


Reya membuka matanya menatap Arsen sebentar lalu Ia membuang mukanya.


" Bereskan kekacauan ini Nona, lain kali bersikaplah profesional dalam bekerja, fokus pada pekerjaanmu jika tidak bisa profesional maka berdiam dirilah di rumah dari pada kamu bekerja dan membuat kesalah, itu akan merugikan tempat kerjamu." Ucap Arsen menjauh dari Reya.


" Kau bisa bilang seperti itu karena kau tidak tahu apa yang sedang aku alami Tuan." Ucap Reya membuat Arsen menghentikan langkahnya.


Arsen membalikkam badanya menatap Reya.


" Saya hidup berdua dengan adik laki laki saya, saat ini dia sedang berjuang melawan maut di rumah sakit karena insiden tabrak lari yang di alaminya beberapa hari lalu, ada darah yang menyumbat di otaknya, adikku harus menjalani operasi sesegera mungkin, nyawanya terancam melayang jika sampai terlambat penanganannya, tapi apalah daya saya yang hanya hidup serba pas passan Tuan." Ucap Reya.


" Jika anda berada di posisi saya, apakah anda bisa fokus dalam bekerja? Jika saya berdiam diri dan tidak bekerja, lalu bagaimana dengan perawatan adik saya yang membutuhkan biaya banyak Tuan?" Sambung Reya.


Reya mendekati Arsen, Ia berdiri di depan Arsen sambil menatapnya.


" Jika anda tidak tahu apa yang sedang di alami oleh orang lain, lebih baik anda diam Tuan! Setidaknya dengan anda diam anda tidak menyakiti hati orang lain" Ucap Reya.


Reya beralih menatap managernya.


" Dan itu berlaku juga untukmu Pak manager yang terhormat, saya katakan mulai hari ini saya keluar dari pekerjaan ini, saya tidak mau bekerja dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain dan tidak bisa memahami kondisi yang orang lain alami, terima kasih sudah memperkerjakan saya selama beberapa tahun ini, dan maafkan saya jika selama ini saya banyak melakukan kesalahan." Ucap Reya berjalan meninggalkan restoran tempatnya bekerja selama beberapa tahun ini.


Arsen menatap kepergian Reya dengan perasaan yang tidak menentu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.


" Revan." Panggil Arsen.


" Iya Kak." Sahut Revan.


" Selidiki siapa wanita itu dan dimana tempat tingggalnya." Titah Arsen.


" Untuk apa Kak?" Tanya Revan mengerutkan keningnya. Pasalnya selama ini Arsen tidak pernah peduli dengan orang lain, apalagi seorang wanita.


" Lakukan saja perintahku." Sahut Arsen.


" Baik Kak." Sahut Revan.


" Dan satu lagi, cari tahu di rumah sakit mana adiknya di rawat." Ucap Arsen.


" Untuk apa Kakak ingin tahu soal gadis itu Kak? Apa Kakak menyukainya?" Tanya Verdy.


" Kau tidak perlu tahu." Sahut Arsen.


" Baik Kak, maaf." Ucap Verdy.


Hayooo kenapa nih tiba tiba Arsen peduli?


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat Arsen biar Arsen semangat mencari tahu soal Reya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


Tbc....


Yuk baca karya karya author yang lainnya


Caranya klik profile author lalu pilih karya dan silahkan pilih novel mana yang akan kalian baca....


Author tunggu dukungannya di sana ya...


Bye....

__ADS_1


__ADS_2