Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Bertemu Alvin


__ADS_3

Siang ini Erald mengajak Are makan siang di restoran xx dekat kantor Are. Setelah memesan makanan dan minuman keduanya makan sambil sesekali bergurau.


" Sayang cobain deh makanan Mas." Ucap Erald menyodorkan sesendok saus cumi kepada Are.


Are menerima suapan dari Erald.


" Enak nggak?" Tanya Erald.


" Enak Mas." Sahut Are.


" Mas juga mau cobain makananmu, suapi donk." Ujar Erald.


Are pun menurut, Ia menyodorkan sepotong steak menggunakan garpunya ke mulut Erald, Erald segera mengunyahnya.


" Kok enakan punya kamu ya Yank." Ujar Erald.


" Masa' sih." Sahut Are.


" Duh Mas sama mbaknya romantis banget pakai acara suap suapan segala." Ujar seorang wanita paruh baya yang melewati meja Are.


Are menatap Erald yang mengambangkan senyum ke arahnya.


" Mas kamu sengaja kan melakukannya?" Selidik Are.


" Melakukan apa sayang?" Tanya Erald pura pura tidak mengerti.


" Kamu sengaja mengecoh aku supaya kita terlihat seperti orang lagi suap suapan kan?" Tanya Are.


" Ya memang kita suap suapan kan sayang." Sahut Erald santai.


" Malu tahu Mas." Ujar Are.


" Kenapa harus malu hmm? Mereka bahkan kagum dengan keromantisan kita." Ucap Erald.


" Tau ah." Cebik Are.


" Jangan marah donk sayang, Mas kan pengin belajar bersikap romantis sama kamu, biar nanti pas kita sudah nikah kamu nggak bosan sama sikap Mas yang lurus kaya' jalan tol." Terang Erald.


" Ada ada aja kamu ini Mas." Kekeh Are.


" Tapi kamu suka kan." Tebak Erald.


" Apapun yang ada pada dirimu aku menyukainya Mas." Sahut Are.


" Terima kasih sayang." Ucap Erald.


" Sama sama Mas." Sahut Are.


Keduanya kembali melanjutkan makan.


" Sayang kamu mau konsep pernikahan kita yang bagaimana?" Tanya Erald menatap Are.


" Gimana Mami ajalah Mas, semuanya aku pasrahkan sama Mami kita cuma terima bersih aja, bukannya aku nggak mau terlibat dalam persiapan pernikahan kita, tapi aku sibuk banget jadi nggak ada waktu buat mempersiapkan semuanya, kamu tahu kan Mas kalau aku hidup sendiri jadi nggak ada yang membantu aku untuk persiapan pernikahan kita, kamu memahami kondisiku kan Mas?" Tanya Are.


" Sangat mengerti sayang." Sahut Erald.


" Aku minta maaf ya Mas, kalau kamu mau acara kita sesuai konsep yang kamu inginkan, kamu tinggal bilang aja kan sama Mami biar nanti Mami bilang sama pihak WOnya." Ujar Are.


" Mas juga nggak tahu soal begitu sayang, Mas tahunya kerja cari duit buat memenuhi kebutuhan dan masa depan kamu dan anak anak kita nanti." Sahut Erald membuat Are terharu.


" Terus ngapain kamu tanya begitu sama aku kalau kamu sendiri tidak tahu?" Tanya Are menatap Erald.


" Mas ingin pernikahan kita terasa begitu istimewa untukmu jika semuanya sesuai pilihanmu." Sahut Erald.


" Terima kasih Mas kau telah mengutamakan diriku daripada dirimu sendiri." Ucap Are.

__ADS_1


" Memang sudah seharusnya begitu sayang." Sahut Erald.


" Abang kamu di sini." Ucap Alvin menghampiri mereka. Are dan Erald menoleh ke arah Alvin.


" Apakah aku boleh gabung bersama kalian?" Tanya Alvin yang kebetulan hendak makan di sana.


Erald menatap Are yang di balas anggukan kepala oleh Are.


" Baiklah silahkan duduk dan cepat pesan makanan." Ucap Erald.


" Iya Bang, terima kasih." Sahut Alvin duduk di kursi di sebelah kanan Are.


" Hai Ar lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanya Alvin menatap Are.


" Baik." Sahut Are singkat.


" Kau pindah dimana selama satu tahun ini?" Tanya Alvin.


" Aku tidak kemana mana." Sahut Are.


" Jadi kamu berbohong padaku?" Selidik Alvin.


" Iya." Sahut Are.


" Kenapa?" Tanya Alvin.


" Karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Sahut Are.


Alvin memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.


" Aku tidak menyangka kau bohong kepadaku soal kepindahanmu hanya untuk menghindariku, pantas saja walaupun aku sering ke kantormu berharap bisa bertemu denganmu namun kamu selalu menolaknya dengan berbagai alasan, kau benar benar menutup akses untuk aku mendekatimu kembali." Ucap Alvin.


" Aku minta maaf, aku melakukan semua itu supaya kamu tidak berharap lagi kepadaku, aku tidak ingin membuat hidupmu sia sia, kau hanya membuang waktumu untuk menunjukkan rasa cintamu kepadaku, seberapa besar usahamu akan sia sia saja karena sampai kapan pun kita tidak akan bisa bersama lagi." Sahut Are dingin menohok hati Alvin. Tidak ada lagi kelembutan dalam suara Are kepadanya.


" Aku sadar akan hal itu Ar, untuk itu sekarang aku katakan jika aku sudah ikhlas melepaskanmu untuk Bang Erald, aku turut bahagia atas rencana pernikahan kalian, semoga kalian berbahagia selamanya." Ucap Alvin.


" Terima kasih dan semoga yang kau ucapkan tulus dari dalam hatimu, karena aku tidak bisa membedakan mana yang tulus dan yang tidak apa yang keluar dari bibirmu." Sahut Are.


" Sayang." Gumam Erald.


" Aku udah kenyang Mas, lagian jam istirahat juga udah habis aku mau kembali ke kantor." Ucap Are.


" Baiklah akan Mas antar." Sahut Erald.


" Al maaf ya, Abang harus mengantar Are." Sambung Erald menatap Alvin. Ia merasa tidak enak atas sikap Are kepada adiknya.


" Iya Bang hati hati." Ucap Alvin.


Are dan Erald berjalan menuju mobil. Setelah keduanya masuk ke dalam Erald segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Yank Mas kurang suka dengan sikapmu kepada Al tadi, jangan terlalu dingin donk bagaimanapun juga dia adikku." Ujar Erald.


" Inilah aku Mas, lagian kalau aku bersikap lembut kepadanya yang ada dia baper terus menaruh harapan lagi kepadaku, lebih baik aku bersikap dingin untuk menjaga jarak dengannya." Ujar Are.


" Tapi kan sayang...


" Aku tidak mau berdebat, aku sudah mengatakannya jika aku melakukannya untuk menjaga jarak dengannya." Sahut Are memotong ucapan Erald.


" Tapi bukan karena kamu masih ada perasaan sama dia kan?" Tanya Erald membuat Are menatap tajam ke arahnya.


" Sayang jangan menatapku seperti itu ah, Mas takut." Canda Erald.


" Makanya kalau ngomong yang bener Mas, aku nggak suka kalau kamu tuduh begitu." Ketus Are.


" Siapa yang menuduh? Kan Mas cuma nanya, satu tahun nggak ketemu ternyata sikap kamu benar benar berubah ya, dulu kamu pendiam, manis, lembut, sekarang kamu emosian." Ujar Erald.

__ADS_1


" Aku berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dari sebelumnya, karena aku tidak mau terpuruk karena tersakiti." Sahut Are.


" Sekarang tidak akan ada lagi yang menyakiti hatimu karena Mas akan selalu menjadi perisaimu." Ucap Erald menghentikan mobilnya.


" Terima kasih Mas." Ucap Are menatap Erald.


Erald menatap wajah Are dan keduanya saling pandang, Erald memajukan wajahnya lalu...


Cup...


Erald mengecup bibir Are dengan lembut.


" Kamu sukanya main nyosor aja Mas." Gerutu Are.


" Maaf... Mas selalu tidak bisa mengendalikan diri Mas jika berada di dekatmu, Mas selalu ingin mendekapmu dan tidak akan melepaskanmu, ah Mas jadi nggak sabar pengin cepet cepet halalin kamu, biar Mas bisa bebas ngapain aja." Ujar Erald.


" Sabar Mas." Ucap Are.


" Mas akan selalu sabar menanti seperti apa yang Mas lakukan selama ini." Sahut Erald.


" Ya udah aku turun dulu Mas, kamu mau mampir?" Tanya Are.


" Kalau Mas mampir yang ada nanti kamu tidak bisa bekerja, karena Mas pasti akan gangguin kamu." Ucap Erald.


" Daripada gangguin mending bantuin aja gimana?" Ujar Are.


" Boleh deh, biarkan Mas yang menyelesaikan pekerjaan kamu, kamu tinggal duduk manis menerima hasilnya." Ucap Erald.


" Ok." Sahut Are.


Keduanya turun dari mobil lalu berjalan menuju lift untuk naik ke ruangan Are.


Sedangkan di dalam restoran, Alvin meneruskan makannya. Tak lama setelah itu ada seorang wanita yang menghampirinya.


" Alvin." Panggil wanita itu.


Alvin menatap ke arahnya, wanita sedikit cantik berambut pendek dengan baju seksinya membuat mata Alvin sedikit sakit.


" Siapa ya?" Tanya Alvin.


" Kamu lupa sama aku? Aku Bella temannya Erald." Sahut Bella.


Alvin mencoba mengingat ingat sosok Bella. Ia tersenyum smirk kala mengingat jika Bella adalah wanita yang dulu mengejar Erald semasa sekolah.


" Kamu yang suka sama Bang Erald kan?" Tanya Alvin memastikan.


" Kamu masih ingat, sekarang gimana kabar Erald?" Tanya Bella duduk di depan Alvin.


" Baik, kalau kamu sendiri apa kamu masih mencintai Bang Erald?" Tanya Alvin.


" Sejujurnya sampai saat ini aku masih mencintai abangmu, aku ingin menemuinya tapi aku kehilangan kontaknya, mau ke rumah kalian katanya kalian udah pindah." Ujar Bella.


" Sekarang kamu bisa menemui Bang Erald di kantornya, dia bekerja di AV Group menjadi seorang CEO." Ujar Alvin.


" Apa? CEO?" Tanya Bella mastikan.


" Iya." Sahut Alvin.


" Gue harus bisa mendapatkan Erald demi menunjang hidup gue." Ujar Bella dalam hati.


" Maaf aku harus kembali ke kantor, kamu pesanlah sesuatu biar aku yang membayarnya." Ucap Alvin beranjak dari kursinya.


" Terima kasih." Sahut Bella.


Alvin berjalan keluar dengan senyuman mengembang di bibirnya. Ada sesuatu yang tersirat dari dalam hatinya yang membuat harapannya kembali berkembang.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2