
Brak......
Kecelakaan tidak bisa di hindari. Mobil Alvin menabrak sebuah truk tersebut. Kepala Alvin terluka karena terbentur stir dengan keras membuatnya tak sadarkan diri dan kakinya terjepit badan mobil begitupun dengan Rena yang tak kalah parahnya dengan Alvin.
Sejenak kecelakaan itu membuat kerumunan warga yang hendak menolong mereka. Tubuh Alvin di evakuasi di tengah guyuran hujan. Ia di bawa menuju ambulan untuk mendapat perawatan di rumah sakit terdekat.
Di dalam kamar Are, Are nampak begitu gelisah. Ia menatap jam yang menempel pada dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.
" Kenapa perasaanku tidak enak ya? Aku merasa terjadi sesuatu dengan Mas Al, kenapa jam segini dia belum pulang? Ya Tuhan apa yang terjadi padanya? Aku mohon lindungilah dia dimanapun dia berada." Monolog Are sambil berjalan mondar mandir di depan ranjang.
Untuk menghilangkan kegelisahannya Are ingin membuat kopi. Ia keluar kamar berpapasan dengan Erald yang baru keluar dari kamarnya.
" Kamu belum tidur Re?" Tanya Erald menatap Are.
" Aku tidak bisa tidur Kak." Sahut Are menutup pintu.
" Kenapa?" Tanya Erald.
" Entah mengapa perasaanku tidak enak, aku merasa gugup dan gelisah seperti ada sesuatu yang terjadi." Sahut Are.
" Kenapa kita merasakan hal yang sama? Kakak juga merasa begitu." Ujar Erald.
" Ada apa ya Kak? Apa mungkin terjadi sesuatu dengan Mas Al?" Tanya Are.
" Al belum pulang?" Selidik Erald.
" Belum Kak." Sahut Are menggelengkan kepalanya.
" Astaga.... Keluyuran kemana sih tuh anak." Ujar Erald.
" Nggak tahu Kak, mungkin lagi asyik sama Rena." Ucap Are.
" Ya sudah jangan di pikirkan, sebentar lagi pasti dia pulang atau kalau dia mabuk lagi dia akan pulang pagi." Ujar Erald.
" Iya Kak, aku mau ke dapur dulu." Ucap Are.
" Kamu haus? Atau lapar?" Tanya Erald.
" Aku mau buat kopi Kak, Kak Er mau? Enak lhoh hujan hujan gini minum kopi panas." Tawar Are.
" Boleh deh." Sahut Erald.
Keduanya menuruni tangga menuju dapur. Are membuat dua cangkir coffe latte untuknya dan Erald.
" Di minum Kak." Ucap Are meletakkan secangkir kopi di depan Erald.
" Makasih." Ucap Erald.
" Sama sama Kak." Sahut Are duduk berhadapan dengan Erald.
" Gimana lukamu? Apa sudah mendingan atau makin sakit? Kalau makin sakit besok kita ke rumah sakit aja ya." Ujar Erald menatap tangan Are.
__ADS_1
" Udah mendingan kok Kak, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Sahut Are.
" Sudah di ganti belum perbannya?" Tanya Erald sambil menyeruput kopinya.
" Udah barusan Kak." Sahut Are.
Keduanya asyik meminum kopi bersama dari cangkir masing masing sampai ponsel Erald berdering.
Drt... Drt....
Erald mengambil ponsel pada saku celana boxernya. Ia menatap id pemanggil yang merupakan nomer tak di kenal.
" Siapa Kak?" Tanya Are penasaran.
" Nomer baru." Sahut Erald.
" Angkat aja Kak siapa tahu penting." Ujar Are. Erald menganggukkan kepalanya.
" Halo." Ucap Erald mengangkat panggilannya.
" Selamat malam Tuan, apakah benar ini Tuan Aderald?" Tanya seseorang di sebrang sana.
" Iya benar siapa ini?" Tanya Erald.
" Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan jika saudara Alvin Valentino mengalami kecelakaan dan saat ini berada di rumah sakit Medikal sehat Tuan." Terang Polisi.
" A... Apa? Adik saya kecelakaan?" Tanya Erald memastikan. Siapa tahu pendengarannya bermasalah.
" Ba... Baik Pak saya akan segera ke sana, terima kasih." Sahut Erald mematikan sambungan teleponnya.
" Kenapa Kak? Siapa yang kecelakaan? Ma Al?" Tanya Are menatap Erald.
" Iya Re, Alvin kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit." Sahut Erald.
" Ya ampun Mas Al." Ucap Are menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
" Lalu bagaimana kondisinya Kak?" Tanya Are.
" Kakak juga tidak tahu, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit ya." Ujar Erald.
" Iya Kak." Sahut Are.
" Kamu ganti baju gih, pakai jaket juga biar nggak kedinginan." Ucap Erald.
" Iya Kak." Sahut Are kembali ke kamarnya. Begitupun juga dengan Erald.
Erald melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Alvin di rawat. Lima belas menit Erald memarkirkan mobilnya. Ia turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Are.
" Ayo turun." Ucap Erald.
" Iya Kak, terima kasih." Sahut Are turun dari mobil.
__ADS_1
Keduanya berjalan berdampingan masuk ke dalam lobby rumah sakit. Erald menanyakan kepada suster dimana tepatnya Alvin di rawat.
" Sus dimana korban kecelakaan yang bernama Alvin Valentino?" Tanya Erald pada bagian informasi.
" Ada di ruang vvip nomer dua Tuan." Sahut suster setelah mengeceknya lewat komputer.
" Apa suster tahu bagaimana kondisinya?" Tanya Erald.
" Menurut keterangan Dokter pasien terluka parah di bagian kepala dan kakinya, dan sampai sekarang pasien masih belum sadarkan diri." Terang suster.
" Baiklah kalau begitu terima kasih." Ucap Erald.
" Sama sama Tuan." Sahut suster.
Are dan Erald langsung menuju ruang vvip nomer dua mengikuti petunjuk yang ada. Sesampainya di depan pintu ruangan itu, Are menghentikan langkahnya.
" Kenapa? Apa kamu tidak mau masuk ke dalam?" Tanya Erald menatap Are.
" A... Aku tidak sanggup Kak, bagaimana kalau Mas Al terluka parah? Atau mungkin kakinya patah? Tadi kan suster bilang kalau Mas Al terluka parah di bagian kepala dan kaki." Ujar Are membuat Erald tersenyum.
" Makanya kita lihat dulu seberapa parahnya luka Alvin, Alvin pasti baik baik saja Re buktinya dia tidak menjalani operasi kan." Ujar Erald.
" Alvin anak yang kuat Re, jadi jangan khawatir." Sambung Erald menggenggam tangan Are dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya Ia gunakan untuk membuka pintu.
Ceklek....
Erald menggandeng Are masuk ke dalam menghampiri Alvin yang berbaring di ranjang tidak sadarkan diri. Erald menatap iba ke arahnya. Kepala di perban, wajah sedikit lecet akibat terkena pecahan kaca dan kaki kanan di perban juga.
" Mas Alvin." Ucap Are duduk di kursi samping ranjang. Ia menggenggam tangan Alvin lalu menciumnya. Erald memejamkan matanya menatap semua itu.
" Mas sadarlah, cepat bangun ya biar kamu bisa marahin aku lagi." Ucap Are.
" Kamu ini ada ada aja Re, emangnya kamu suka ya di marahi sama Alvin?" Tanya Erald.
" Daripada Mas Al diam terbaring di sini mending terus marah marah sama aku tapi dia sehat dan baik baik saja kan Kak." Sahut Are membuat hati Erald tersentuh.
" Kau memang wanita yang baik Re, semoga setelah Al sadar nanti dia sudah berubah, dia bisa melihat kebaikan dan kasih sayangmu kepadanya selama ini, kau memang wanita yang berhati tulus Re." Ujar Erald.
" Aku tidak sebaik yang kamu kira Kak, aku menikahi Mas Al demi bisa merebut kembali perusahaan ayahku, tapi walaupun begitu aku tidak menginginkan ada kata perpisahan, aku berusaha mencintai Mas Al segenap hatiku, sejak aku setuju menikah dengannya aku bertekad mengabdikan seluruh hidupku untuknya, aku membayangkan akan hidup bahagia bersamanya dengan cinta yang Mas Al berikan kepadaku." Ucap Are menatap Alvin yang masih setia memejamkan matanya.
" Tapi ternyata aku salah, Mas Al sudah punya wanita lain di hatinya, dan fakta yang aku terima jauh berbanding terbalik dengan apa yang aku bayangkan, jangankan cinta dan kasih sayang, perhatiannya saja sangat sulit aku dapatkan, aku lelah Kak.... Aku menyerah pada perasaanku sendiri." Sambung Are.
" Bagaimana perasaanmu sekarang terhadap Alvin?" Tanya Erald.
Gimana ya????? Ada yang tahu??? Tulis di kolom komentar...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC.....