Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Pertengkaran


__ADS_3

Fara turun dari mobil, Ia berjalan masuk ke dalam rumah Juna yang kebetulan pintunya terbuka.


" Assalamu'alaikum." Ucap Fara.


" Wa'alaikumsallam Aunti." Sahut Ghea.


" Dimana Mama Are?" Tanya Fara.


" Di kamar Papa, Aunti." Sahut Ghea.


" Dimana kamar Papamu sayang?" Tanya Fara.


" Ayo Aunti ikut Ghea." Sahut Ghea berjalan menuju kamar Juna.


" Papa... Aunti Fara sudah datang." Ujar Ghea masuk ke dalam kamar Juna.


Juna menoleh ke arah Ghea dan Fara.


" Kak Are kenapa Jun?" Tanya Fara.


" Tidak tahu, tiba tiba dia pingsan saat mau masuk rumah." Sahut Juna.


Fara duduk di sebelah Are, sedangkan Juna berdiri di samping ranjang menatap Are yang masih setia memejamkan matanya.


" Aku harus telepon Bang Er biar abang ke sini." Ujar Fara mengeluarkan ponsel dari tasnya.


Fara mencoba menelepon Erald beberapa kali namun panggilan tidak terjawab.


" Kok nggak di jawab sih." Gerutu Fara.


" Gimana? Apa Tuan Erald mengangkatnya?" Tanya Juna.


" Tidak! Kita tunggu saja sampai Kak Are sadar." Sahut Fara.


" Baiklah." Sahut Juna.


Ghea naik ke atas ranjang yang tidak terlalu besar itu. Ia memijit kaki Are membuat Fara mengikuti tindakannya. Sekitar lika menit kemudian Are mengerjapkan matanya.


" Shh..." Desis Are memegangi kepalanya.


" Kak Are." Ucap Fara.


Are menatap Fara, Ghea dan juga Juna bergantian.


" Fara, kenapa kamu di sini?" Tanya Are menatap Fara.


" Tadi kamu pingsan, terus Juna meneleponku." Sahut Fara.


" Aku pingsan?" Tanya Are memastikan.


" Iya tadi saat kamu masuk rumah tiba tiba kamu pingsan." Sahut Juna.


" Kepalaku pusing sekali Kak." Ucap Are.


" Aku belikan obat ya." Ujar Juna.


" Tidak perlu Kak, aku mau pulang saja." Sahut Are.


" Baiklah, biar aku yang mengantarmu." Sahut Juna.


" Tidak usah Kak, Kak Juna jagain Ghea saja di rumah, biar Fara yang mengantarku pulang." Sahut Are.


" Baiklah." Sahut Juna.


" Maaf ya sayang Mama tidak bisa jagain Ghea, Mama pusing banget sayang." Ucap Are mengelus kepala Ghea.


" Tidak pa pa Ma, Ghea udah baikan kok." Sahut Ghea.


" Maafkan aku Re, gara gara aku menyuruhmu ke sini kamu jadi begini." Ujar Juna.


" Tidak pa pa Kak, mungkin kondisiku saja yang tidak fit hari ini makanya jadi begini." Sahut Are.

__ADS_1


" Ya sudah kalau mau pulang aku akan mengantarmu Kak, tadi aku juga udah telepon Bang Er tapi tidak di angkat." Ujar Fara.


" Mas Er lagi meeting Far." Ucap Are.


" Oh pantas saja, ayo Kak." Ajak Fara mengapit lengan Are.


" Mama hati hati ya, cepet sembuh Ma." Ucap Ghea.


" Terima kasih sayang." Sahut Are.


" Biar aku gendong aja." Ucap Juna.


" Argh." Pekik Are saat merasa tubuhnya melayang ke udara. Juna menggendong Are menuju mobil Fara. Fara mengikutinya dari belakang.


" Aku semakin tertarik kepadamu Juna, kau begitu perhatian kepada Are, semoga perasaanmu kepada Are hanya sebatas teman saja." Batin Fara.


" Istirahat di rumah! Mobilmu akan aku antar nanti." Ucap Juna setelah mendudukkan Are di kursi samping kemudi.


" Besok juga nggak pa pa Kak, atau Kak Juna antar ke rumah saja yang dekat, ada pak satpam di sana." Ujar Are.


" Itu lebih mudah, hati hati ya kalau ada apa apa telepon kami." Ujar Juna.


" Terima kasih Kak." Ucap Are.


" Juna... Terima kasih ya sudah menolong Kakak iparku." Ucap Fara sebelum masuk ke mobil.


" Sama sama." Sahut Juna.


Fara melajukan mobilnya menuju rumah Mami Valen karena memang Are masih menginap di rumah mertuanya. Lima belas menit mobil Fara memasuki rumah utama keluarga Ardiansyah. Fara menuntun Are menuju kamarnya.


Rumah nampak sepi karena Mami Valen dan Papi Nathan sedang berkunjung ke rumah Oppa Alex.


" Tiduran sini Kak! Aku kembali ke kantor ya Kak, kalau ada apa apa telepon aku." Ucap Fara membantu Are berbaring.


" Iya, terima kasih Far." Ucap Are.


" Sama sama Kak, kalau butuh sesuatu panggil Mara saja karena sepertinya Aunti Vaken belum pulang." Ujar Fara.


" Hmm." Gumam Are.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari Erald baru pulang dari kantor. Ia memasuki rumah dengan langkah gontai tanpa semangat. Entah apa yang terjadi kepadanya di kantor tadi.


" Baru pulang Tuan?" Tanya Mara saat berpapasan dengan Erald di ruang tamu.


Erald nampak acuh melanjutkan langkahnya.


" Tuan." Panggil Mara membuat Erald menghentikan langkahnya.


" Nona Are sedang tidak enak badan, dan saya mengira kalau Nona Are saat ini sedang hamil Tuan, saya ucapkan selamat kepada anda Tuan Erald." Ucap Mara.


Tanpa menyahut ucapan Mara, Erald melanjutkan langkahnya menuju kamar Are.


Ceklek....


Erald membuka pintunya lalu Ia menutupnya kembali.


" Kamu baru pulang Mas?" Tanya Are yang duduk bersandar pada headboard.


" Hmm." Gumam Erald masuk ke dalam kamar mandi.


" Ada apa dengan Mas Erald? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini kepadaku, atau Mas Er sangat lelah ya." Ujar Are dalam hatinya.


Sepuluh menit kemudian Erald keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja seperti biasanya.


" Maaf Mas aku tidak menyiapkan baju ganti, kepalaku masih pusing Mas." Ujar Are menatap Erald.


" Tidak masalah, aku bisa mengambil sendiri." Sahut Erald dingin membuat Are mengerutkan keningnya.


" Mas kamu kenapa? Apa kamu ada masalah? Atau kamu merasa lelah karena seharian ini bekerja?" Tanya Are menatap Erald yang sedang memakai bajunya.

__ADS_1


" Tidak, kamu sendiri kenapa?" Tanya Erald mendekati Are.


" Aku tidak tahu Mas, tadi pagi tiba tiba kepalaku pusing." Sahut Are.


Erald mengepalkan tangannya ketika mengingat foto yang Ia terima tadi pagi. Foto Are dan Juna berpelukan. Dan satu lagi foto Juna menggendong Are masuk ke dalam kamarnya. Emosi Erald kembali memuncak, ingin rasanya Ia melemparkan barang barang ke wajah Are.


" Apa mungkin kamu hamil? Kalau benar, kamu hamil dengan siapa?" Tanya Erald.


Jeduarrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong mendengar pertanyaan dari Erald. Are menatap Erald dengan tatapan yang entah.


" Apa maksud pertanyaanmu Mas?" Are balik bertanya.


" Kita menikah belum genap satu bulan, tidak mungkin kan kalau kamu sakit karena sedang hamil saat ini, kecuali kalau....." Ujar Erald melukai hati Are.


" Kau menuduhku bermain dengan pria lain atau kau ingin menanyakan apakah aku sakit karena aku hamil atau bukan?" Tanya Are menatap tajam ke arah Erald.


" Aku... Aku....


" Langsung pada intinya, aku tidak suka berbasa basi." Sahut Are memotong ucapan Erald.


Erald menatap Are yang terlihat sangat kecewa dengan ucapannya. Cairan bening menghiasi pelupuk matanya.


" Aku tahu kemana arah pembicaraanmu Mas." Ucap Are turun dari ranjang.


Are berjalan menuju pintu namun Erald mencekalnya.


" Mau kemana?" Tanya Erald.


" Kemanapun aku mau, jika sudah tidak ada kepercayaan di antara kita untuk apa kita bersama." Sahut Are.


" Bukan itu maksudku." Ucap Erald.


" Lalu apa maksudmu? Kau berpikir aku hamil anak orang lain begitu kan? Tanpa kau berkata aku sudah tahu apa maksudmu, aku tidak menyangka kau tega menuduhku berbuat hal serendah itu." Sahut Are.


" Jangan pergi sebelum kita menyelesaikan masalah ini di sini, jangan pergi dengan membawa kesalah pahaman, aku minta maaf." Ucap Erald menyesali tindakannya yang terburu buru karena sudah tidak tahan menahan emosi dari dalam dirinya sejak tadi.


Are menepis tangan Erald, Ia menatap tajam ke arah Erald.


" Jika kau tidak membuat masalah di antara kita, maka saat ini kita pasti sedang dalam keadaan baik baik saja, dan kau sendiri yang menciptakan kesalah pahaman ini." Ucap Are membuka pintu.


" Are." Panggil Erald mengejar Are yang berlari menuruni anak tangga.


" Are tunggu." Ucap Erald membuat langkah Are berhenti.


" Kau bahkan tidak sudi memanggilku sayang lagi, aku tidak tahu kau sebenarnya kenapa, apa yang membuatmu menuduhku seperti itu aku juga tidak tahu, yang jelas aku tidak terima dengan tuduhanmu Tuan Aderald, dan aku tidak sudi hidup dengan orang yang tidak bisa tulus mempercayaiku sepenuhnya." Ucap Are mendorong tubuh Erald.


" Are tunggu." Teriak Erald.


Are berlari menuju mobil Erald yang kebetulan kuncinya tidak di cabut dari tempatnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mengusap air matanya.


" Kau tega berbicara seperti itu padaku Mas, aku tidak menyangka kau bisa mengatakan hal serendah itu kepadaku, sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Hiks.... Rasanya begitu sakit di sini." Ucap Are sambil terus menangis meluapkan rasa sakit dalam hatinya.


Sedangkan Erald, Ia menarik kasar rambutnya. Ia menyesali kecerobohannya yang membuat Are pergi meninggalkannya.


" Argh....." Teriak Erald.


" Maafkan aku sayang yang telah mengikuti egoku hingga aku melukaimu." Monolog Erald.


Erald segera berlari ke garasi untuk mengambil salah satu mobil Mama Valen. Mama Valen selalu meletakkan kunci mobil di laci yang ada di garasi tersebut. Erald melajukan mobilnya membelah jalanan kota mencari Are.


Nah loh..... Menyesal kan?


Kira kira ketemu nggak ya???


Penasaran nggak nih dengan lanjutan ceritanya?


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat....


Terima ksih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu

__ADS_1


Miss U All...


TBC.. ..


__ADS_2