
Pagi harinya semua orang yang menginap di rumah Erald berkumpul di ruang keluarga. Alvin, Saka, Mami Valen, Papi Nathan, Tante Ria, Tante Cia, Vebby, dan Fara duduk di sofa dengan kepala penuh pertanyaan. Untuk apa mereka berkumpul di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah pertanyaan pertanyaan yang bersarang di kepala mereka.
Erald menggandeng tangan Are menuruni tangga menghampiri mereka semua. Semua mata tertuju kepada mereka kecuali Alvin yang sedang menundukkan kepalanya. Menatap wajah Alvin, Are menghentikan langkahnya, ada rasa takut saat Ia teringat kejadian semalam.
" Tidak perlu takut sayang, ada Mas di sini." Ucap Erald.
Erald dan Are berdiri di belakang sofa. Erald menatap tajam ke arah Alvin.
" Alvin." Panggil Erald.
Alvin menatap ke arah Erald dengan rasa takut.
" Ke sini!" Titah Erald.
Alvin menatap semua orang yang ada di sana bergantian. Ia tidak berani menghadapi kemarahan Erald yang akan Ia keluarkan setelah ini.
" Alvin, apa kau tuli?" Tanya Erald dengan nada tinggi.
Mami Valen menatap Alvin dan Erald bergantian. Ingin rasanya Ia bertanya ap yang sebenarnya terjadi, namun baik Mami Valen ataupun Papi Nathan tidak ada yang berani bertanya. Apalagi melihat Erald yang sepertinya dalam keadaan emosi.
" Alvinnnnn." Geram Erald.
Alvin beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Erald dan berdiri di depan Erald.
Tiba tiba...
Bugh....
Erald memukul wajah Alvin pada bagian pipi kanannya. Semua orang yang melihat itu melongo sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Bugh...
Erald kembali memukul wajah Alvin, kali ini pada bagian pipi kiri. Alvin tidak melawan karena Ia tahu akan kesalahannya.
Bugh.... Bugh.... Bugh.....
Erald berkali kali memukul wajah Alvin hingga ujung bibirnya lebam dan mengeluarkan darah.
" Mas sudah." Jerit Are tidak tega melihat Alvin tersungkur di lantai dengan muka lebam.
" Jangan menghalangiku Re, aku harus menghajar bajingan yang sudah membuatmu ketakutan." Ucap Erald tegas.
Bugh... Bugh...
Erald menendang perut Alvin.
Uhuk... Uhuk....
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Bentak Erald menarik kerah Alvin yang masih duduk di lantai.
" Aku terpaksa melakukannya." Sahut Alvin mengakui kesalahannya. Ia tidak akan bisa mengelak karena Erald pasti sudah tahu apa yang telah Ia lakukan kepada Are.
__ADS_1
" Kau bilang kau terpaksa? Sialan kau Alvin." Bentak Erald.
Bugh....
Erald menghadiahi bogeman lagi kepada Alvin.
" Cukup Bang, Alvin bisa mati jika kamu hajar terus terussan seperti ini." Ucap Mami Valen.
" Lebih baik dia mati daripada dia hidup menjadi orang yang tidak berguna Mi." Sahut Erald.
" Apa maksudmu Erald? Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua? Kenapa kau menghukum adikmu seperti ini? Kesalahan apa yang telah Alvin perbuat?" Tanya Papi Nathan.
" Aku bahkan malu untuk mengatakannya Pi." Sahut Erald.
" Alvin katakan kesalahan apa yang kamu perbuat sehingga membuat Abangmu marah seperti in!" Ucap Papi Nathan.
" Aku tidak bersalah Pi." Ucap Alvin mencoba berdiri tegap di depan Erald walaupun sebenarnya tubuhnya terasa tak karuan.
" Apa kau bilang? Kau bilang kau tidak bersalah? Bagaimana bisa kau bilang seperti itu setelah apa yang kamu lakukan semalam?" Tanya Erald menatap Alvin.
" Karena aku memperjuangkan cintaku dan milikku, aku akan mengambil apa yang menjadi hakku selama ini." Teriak Alvin.
" Pelankan suaramu atau aku akan menghajarmu lagi." Ucap Erald.
" Kenapa? Pukul saja aku! Pukul semaumu tapi aku tidak akan berhenti untuk mengejar Aresha kembali." Ucap Alvin membuat Mami Valen melongo.
Mami Valen dan Papi Nathan berdiri mendekati Alvin dan Erald. Sedangkan Are tetap berdiri di belakang Erald seolah mencari perlindungan.
" Alvin melakukan tindakan tidak senonoh kepada Are Mi, semalam Alvin hendak memp**** Are."
Jeduar....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Mami Valen tidak menyangka jika putra yang Ia besarkan mampu berbuat hal serendah itu. Mami Valen mendekati Alvin dan....
Plak.....
Tamparan keras mendarat di pipi Alvin sebelah kanan membuat pipinya terasa panas.
" Kau benar benar bajingan Alvin." Bentak Mami Valen.
" Mami tidak menyangka kau bisa melakukan hal serendah ini? Dimana otakmu selama ini hah?" Tanya Mami Valen menunjuk dahi Alvin.
" Mami malu memiliki putra sepertimu Alvin... Mami malu dengan semua tingkah lakumu selama ini, dulu kau menyiksa dan menyianyiakan Are tapi apa yang kau lakukan sekarang, kau mengejar cintanya sampai kau buta jika Are adalah calon kakak iparmu saat ini Alvin, Mami kecewa sama kamu, Mami kecewa... Benar benar sangat kecewa Alvin, lebih baik kau membusuk saja di penjara, Mami sudah tidak mau melihat wajahmu lagi." Ucap Mami Valen berderai air mata.
" Aku mencintai Are Mi, aku sangat mencintai Are... Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku kepadanya lalu aku harus bagaimana Mi? Aku tidak rela Are menjadi milik orang lain, aku tidak rela Mi.. Hiks..." Tubuh Alvin luruh ke lantai bersamaan dengan kesedihannya.
" Tapi tidak seharusnya kamu berbuat hal memalukan seperti ini Alvin." Bentak Mami Valen.
" Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau membuat Are ketakutan melihat dirimu, lihatlah! Are bersembunyi di balik punggung abangmu dari tadi." Sambung Mami Valen.
Alvin menatap Are yang memang bersembunyi di balik tubuh Erald.
__ADS_1
" Kau mengguncang psikisnya, kau membuatnya trauma dengan kelakuan bejatmu itu, dan kesalahanmu kali ini tidak bisa di maafkan, kau harus angkat kaki dari keluarga ini." Ucap Mami Valen dengan penuh ketegasan.
" Apa maksudmu sayang? Jangan melakukan hal yang nantinya kau sesali." Ucap Papi Nathan.
" Aku tidak akan menyesal dengan keputusanku Mas, walaupun aku harus kehilangan anak sepertinya aku tidak akan pernah menyesalinya." Sahut Mami Valen.
" Mami maafkan aku." Ucap Alvin.
" Tidak ada kata maaf untukmu, kau mau pergi atau mau masuk ke penjara? Pilihan ada di tanganmu." Ucap Mami Valen meninggalkan Alvin dan yang lainnya.
" Papi...
" Maafkan Papi, Papi tidak bisa berbuat apa apa Al jika Mamimu sudah memutuskan karena kau tahu keputusannya adalah mutlak." Sahut Papi Nathan memotong ucapan Alvin. Papi Nathan menyusul Mami Valen ke kamarnya.
" Bang aku minta maaf." Ucap Alvin menatap Erald.
" Are benar jika kamu tidak pernah mempunyai rasa ketulusan dari dalam hatimu, Abang tidak bisa memaafkanmu lagi." Sahut Erald.
" Ayo sayang kita ke kamar saja, Mas sudah muak melihat kemunafikan dari orang berwajah dua." Sambung Erald menggandeng tangan Are. Keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
Alvin beralih menatap Saka.
" Om." Panggil Alvin.
" Om tidak bisa berbuat apa apa, Papimu saja tidak bisa melawan Mamimu apalagi Om." Ucap Saka meninggalkan ruang keluarga.
" Aunti sangat kecewa dengan tindakanmu Al, terima saja hukuman dari Mamimu." Ucap Tante Ria.
" Ayo sekarang kita pulang saja, biarkan Kakak dan Erald menenangkan dirinya." Ajak Tante Cia.
" Ayo Ma." Sahut Fara dan Vebby.
Semua orang meninggalkan Alvin satu *** satu hingga kini Alvin sendiri di ruang keluarga.
" Kenapa tidak ada yang mau mengerti perasaanku? Are maafkan aku karena aku kembali membuatmu terluka, kau pasti semakin membenciku, Mami benar jika aku harus pergi jauh dari keluarga ini, aku akan pergi." Monolog Alvin beranjak dari sana.
Alvin melangkahkan kakinya dengan sakit pada batin dan fisiknya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Are kembali. Itulah tekadnya saat ini. Alvin mengambil ponsel di dalam sakunya, Ia menelepon Bella.
" Halo Vin." Ucap Bella.
" Rencanaku gagal, sekarang lo jalankan rencana selanjutnya." Ucap Alvin.
" Baiklah." Sahut Bella.
Rencana apa yang mereka jalankan?
Jangan bosan untuk selalu like koment vote dan hadiahnya ya...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1
TBC....