Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Masa Ngidam


__ADS_3

Pagi ini Erald benar benar kewalahan mengurus babby twins. Kebetulan Mami Valen sedang ada acara arisan dengan teman temannya. Baby twins tumbuh menjadi anak yang aktif dan seperti tidak mau mengalah satu sama lain.


Hua....aaa


Aarash dan Aaris menangis secara bersamaan.


" Sayang, Aarash sama Aaris nangis nih, Mas harus gimana sayang?" Teriak Erald di depan pintu kamar mandi.


" Ya tinggal di gendong aja Mas, aku sebentar lagi selesai kok, nih baru pakai baju." Sahut Are dari dalam.


" Mas nggak bisa menggendong mereka sekaligus sayang." Ujar Erald.


" Gendongnya gantian Mas, yang penting tenangin dulu." Ucap Are.


" Baiklah sayang Mas akan mencoba menggendong satu persatu." Ujar Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


Hua.... a.. a....


Suara tangisan twins semakin kencang membuat Erald sedikit bingung. Erald menggendong Aarash namun Aaris juga bertingkah seolah ingin di gendong.


" Aaris sayang sebentar ya nunggu Mommy, Daddy nggak bisa menggendong kalian secara bersamaan, nunggu Mommy sebentar ya." Ujar Erald menimang Aarash yang sudah mulai diam.


Aaris menggejolkan kaki dan tangannya menatap Erald.


" Aarash sayang, tuh lihat adik kamu! Dia juga ingin di gendong sama Daddy sayang." Ucap Erald.


" Nanti kalau Mommy udah selesai mandinya, Aaris gendong Daddy ya, biar Aarash gantian yang di gendong sama Mommy." Ucap Erald.


Sungguh ajaib memang. Kedua anak Erald lebih suka di gendong sama Erald dari pada sama Are. Menangis sekencang apapun keduanya akan diam bila di gendong oleh Erald.


" Ternyata punya babby membuat kita seperti orang gila ya Mas, suka ngomong sendiri ha ha ha." Ucap Are membuat Erald terkejut.


" Sayang kamu ngagetin Mas aja, kapan kamu keluar dari kamar mandi? Mas nggak melihatnya tiba tiba kamu udah berdiri di sini." Ucap Erald.


" Kamunya lagi fokus sama twins makanya nggak melihat aku keluar Mas." Sahut Are mengambil Aaris dari boxnya.


" Apapun yang Mas hadapi Mas sangat bahagia sayang bisa memiliki kalian semua, memang inilah impian Mas selama ini." Ucap Erald.


" Iya Mas, terima kasih karena kau selalu bersabar menjaga kami." Ucap Are.


" Sama sama sayang." Sahut Erald.


" Anak Mommy haus ya, Mommy buatkan susu dulu ya." Ujar Are menimang Aaris namun Aaris belum juga diam.


" Sepertinya Aaris mau di gendong sama Mas sayang, sini gantian kamu yang gendong Aarash biar Mas uang gendong Aaris." Ucap Erald.


" Anak Mommy udah pintar membedakan mana gendongan Mommy sama gendongan Daddy ya." Ujar Are meletakkan Aaris di atas ranjang.


Mereka bertukar menggendong twins.


" Aku buat susu dulu Mas." Ucap Are.


" Biar Mas aja sayang, kamu di sini saja! Lagian badan kamu juga belum fit benar." Ujar Erald.


" Suruh Mbak Siti aja Mas yang buatin, kasihan Aaris kalau kamu sambi bikin susu." Ujar Are.


" Baiklah." Sahut Erald.


Erald keluar kamar sambil menggendong Aaris yang sudah mulai banyak tingkah. Ia tidak mau diam walau hanya sebentar.

__ADS_1


" Sayang mau di bawa kemana cucu Mami?" Tanya Mami Valen yang baru masuk ke dalam rumah.


" Kebetulan Mami sudah pulang, twins sepertinya harus Mi, minta di bikinin susu." Ucap Erald.


" Biar Mami yang buat, kamu gendong Aaris aja." Ujar Mami Valen menuju dapur.


Erald kembali ke kamarnya.


" Lhoh Mas kok cepat sekali, mana susunya?" Tanya Are menatap Erald.


" Lagi di buatin sama Mami." Sahut Erald.


" Oh Mami sudah pulang." Ujar Are.


" Iya barusan." Sahut Erald.


Are dan Erald menimang kedua anak mereka, sampai....


Hmpt...


Are menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.


" Kenapa sayang? Apa kamu mual lagi?" Tanya Erald cemas.


Are menganggukkan kepalanya.


" Tidurkan Aarash di ranjang sayang! Mas khawatir kamu akan pingsan." Ucap Erald.


Ya biasanya setelah muntah muntah Are bisa pingsan tiba tiba.


Are mengikuti ucapan Erald. Setelah itu Ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


" Mami... Mami." Teriak Erald.


" Ada apa sayang? Apa yang terjadi? Mami baru sampai tangga kamu sudah teriak teriak." Omel Mami Valen.


" Mami temani twins dulu, aku mau menyusul Are di kamar mandi." Ucap Erald segera menyusul Are di dalam kamar mandi.


Huek... Huek...


" Sayang kenapa kau masih muntah muntah begini sih, Mas tidak tega melihatmu seperti ini sayang." Ujar Erald memijat tengkuk Are.


Are mengusap mulutnya menggunakan tisu. Ia berdiri lemas di depan Erald sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.


" Apa kepalamu juga pusing sayang?" Tanya Erald menatap Are.


Are menganggukkan kepalanya.


Erald memiliki menggendong Are ala bridal style menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuh Are di atas ranjang dengan pelan.


" Istirahatlah! Mas akan membuatkan minuman hangat untukmu." Ucap Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


Erald keluar kamarnya menuju dapur membuatkan minuman untuk Are.


...****************...


Di tempat lain tepatnya di kamar Saka. Vebby sedang bermanja manja bersandar di lengan Saka. Saka mengelus kepala Vebby dengan penuh kasih sayang.


" By tiba tiba aku ingin makan seblak." Ucap Vebby.

__ADS_1


" Seblak? Makanan apa itu sayang?" Tanya Saka.


" Kamu kudet banget By." Cebok Vebby.


" Apa lagi itu kudet?" Tanya Saka lagi.


" Kurang up date By, dan seblak itu makanan enak yang berasa pedas sekali, ada telur, ada mie, ada kerupuknya dan ada ceker ayamnya juga." Terang Vebby.


" Aku kan belum pernah makan makanan seperti itu sayang." Sahut Saka.


" Makanya nanti kamu harus cobain." Ujar Vebby.


" Buruan beliin By." Sambung Vebby.


" Dimana aku bisa mendapatkan makanan itu sayang?" Tanya Saka.


" Di depan rumah sakit kota ada kedai seblak yang terkenal enak By, aku mau dua bungkus ya, masing masing bungkus di kasih ceker ayam tiga." Ujar Vebby.


" Apa kamu mau menghabiskan semuanya?" Saka bertanya lagi.


" Sebenarnya kamu mau beliin nggak sih By? Nanya mulu dari tadi." Ucap Vebby cemberut.


" Aku beli dua itu biar kita bisa makan bareng, bukan cuma buat aku saja tapi juga buat kamu, gimana sih gitu aja nggak tahu." Kesal Vebby menjauh dari Saka.


" Maaf sayang, aku nggak tahu kalau kamu berpikir seperti itu, jangan cemberut lagi! Aku akan membelikannya sekarang juga." Ucap Saka.


Saka segera turun dari ranjang. Ia mwnyambar kunci mobilnya lalu berjalan keluar kamar.


Saat di depan pintu Saka menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang menatap Vebby yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah di tekuk. Saka nyengir kuda ke arah Vebby.


" Maaf sayang aku lupa." Ucap Saka kembali mendekati Vebby.


Cup...


Saka mengecup kening Vebby dengan lembut.


" Aku pergi dulu ya." Ucap Saka mengelus kepala Vebby.


Saka beralih ke perut Vebby yang terlihat sedikit membuncit.


" Sayang, Papa pergi dulu ya, kamu jangan nakal! Di rumah sama Mama dan jangan menyusahkan Mamamu, susahkan Papa saja." Ucap Saka mengelus perut Vebby.


" Biar Papa makin susah." Lanjut Saka di dalam hati.


" Iya Papa, sekarang buruan beli apa yang Mama mau sebelum Mama marah lagi." Sahut Vebby menirukan suara anak kecil.


" Ok." Sahut Saka.


Saka keluar dari kamarnya dengan perasaan was was. Pasalnya semenjak Vebby hamil, Vebby sering marah marah nggak jelas.


Sikapnya juga semakin manja kepada Saka, apapun keinginannya harus di turuti kalau tidak dia akan marah seharian penuh membuat Saka semakin stress.


" Sabar Saka... Semua karena ulahmu, kau yang menginginkan dia seperti ini, jadi kau harus ikhlas menerimanya demi calon anakmu yang sangat kamu nanti." Monolog Saka sambil terus berjalan menuju mobilnya.


Siapa nih yang waktu hamil seperti Vebby?


Jangan lupa tetap tekan like koment vote dan hadiahnya untuk author ya...


Terima kasih untuk readers yang telah mensupport author semoga sehat selalu..


Miss you All...

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2