Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Mual


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak kejadian Are di rawat di rumah sakit. Kini Erald dan Are sudah kembali ke rumahnya. Pagi ini Are sedang berdiri di depan wastafel menikmati rasa mual yang mengaduk aduk seisi perutnya.


Hoek.... Hoek...


Are memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berupa cairan putih di wastafel kamarnya.


" Sayang kamu mual lagi?" Tanya Erald menghampiri Are di dalam kamar mandi.


" Iya Mas rasanya mual banget, penginnya muntah terus padahal perutku udah kosong nggak ada isinya, aku kenapa ya Mas?" Sahut Are membasuh bibirnya dengan air bersih.


" Mas juga tidak tahu sayang, mungkin kamu salah makan saja tadi malam." Sahut Erald.


" Iya mungkin Mas, atau asam lambungku naik." Ujar Are.


" Apa sekarang sudah mendingan?" Tanya Erald.


" Iya Mas." Sahut Are mengusap bibirnya menggunakan tisu.


" Nanti kita ke rumah sakit ya, dari semalam kamu muntah muntah terus, Mas takut kamu kenapa napa sayang." Ucap Erald merapikan anak rambut Are.


" Besok aja lah Mas, sekarang aku pusing sama lemas banget, aku mau istirahat saja di kamar, kalau kita ke rumah sakit aku takutnya nggak kuat duduk mengantri di sana." Ujar Are.


" Kita minta layanan vvip saja, biar cepat sayang, kita akan buat janji dengan dokter rumah sakit milik Oppanya Tante Anli supaya setelah sampai kamu di periksa lebih dulu." Ujar Erald.


" Ya jangan gitu donk Mas! Kasihan yang lainnya, sebagai warga negara yang baik kita harus menjalankan budaya antri, jangan bawa bawa kekuasaan atau kenalan lah kasihan orang orang biasa yang mau periksa di sana, mereka juga butuh di layani dengan segera." Sahut Are.


Mohon maaf author tidak bermaksud menyinggung pihak manapun ✌


" Baiklah kalau begitu kita di rumah saja, Mas akan memanggil dokter saja ke rumah untuk memeriksamu, Mas bangga kepadamu yang masih memikirkan orang lain sayang." Sahut Erald.


" Itu harus kita tanamkan di hati kita Mas, kita juga harus bersikap adil pada sesama." Sahut Are.


" Baik sayang Mas mengerti, mau ke kamar sekarang?" Tanya Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


" Nggak usah jalan, Mas gendong aja." Ucap Erald menggendong ala bridal style menuju ranjangnya. Are mengalungkan tangannya ke leher Erald.


" Kasihan istri Mas yang cantik kalau sakit gini, sakitnya di bagi sama Mas donk Yank! Biar kita sama sama merasakan sakitnya." Ujar Erald yang di balas senyuman oleh Are.


" Kalau bisa aku akan kasih ke kamu semua sakit yang aku alami Mas, dan aku akan menjadi obatnya." Ujar Are.


" Pintar gombal sekarang ya." Ujar Erald.


Erald merebahkan tubuh Are ke atas ranjang dengan pelan, Ia menata tumpukan bantal di belakang Are untuk sandaran Are.


" Gimana? Apa sudah nyaman?" Tanya Erald menatap Are.


" Sudah Mas." Sahut Are.


" Sekarang waktunya sarapan, Mas sudah membawakan makanan untukmu sayang." Ucap Erald.


" Mas masak sendiri?" Tanya Are menatap Erald.


" Iya, ini bubur ayam spesial untukmu." Sahut Erald.

__ADS_1


" Terima kasih Mas, maafkan aku karena telah merepotkanmu." Ucap Are.


" Sayang kenapa berbicara seperti itu? Mas ini suamimu dan sudah menjadi kewajiban Mas untuk merawatmu jika kamu sakit, kamu juga akan merawat Mas kan jika Mas sakit?" Ujar Erald menatap Are.


" Tentu donk Mas." Sahut Are.


" Begitupun dengan Mas sayang, Mas akan merawatmu sampai kamu sembuh." Sahut Erald mencium kening Are.


" Terima kasih Mas." Sahut Are.


" Sekarang kamu tinggal makan, Mas akan menyuapi kamu." Sambung Erald mengambil makanan yang tadi di bawanya.


Erald menyodorkan sesendok makanan ke mulut Are, Are segera menerimanya. Ia mengunyah makanan dengan pelan tiba tiba...


" Hmpt." Are membungkam mulutnya dengan tangannya.


Are turun dari ranjang lalu berlari menuju kamar mandi. Erald meletakkan piringnya di atas nakas lalu menyusul Are ke kamar mandi.


Huek... Huek...


Are kembali memuntahkan makanannya.


" Sayang." Ucap Erald sambil memijat tengkuk Are.


Huek.... Huek....


" Sakitnya buat Mas aja lah Yank, Mas nggak tega lihat kamu kaya' gini." Ujar Erald.


Are membersihkan mulutnya dengan tisu. Ia membalikan badan menatap Erald yang berdiri di depannya dengan bersandar pada wastafel.


" Apa? Hamil?" Pekik Erald.


" Iya... Biasanya kan kalau orang hamil muntah muntah begini." Ujar Are.


Erald tersenyum senang menatap Are. Ia membayangkan akan menjadi seorang ayah dari bayi yang mungil dan lucu. Ia akan menimang bayi itu setiap hari, dan Ia akan selalu meluangkan waktunya untuk anaknya nanti.


" Mas." Panggil Are menyenggol lengan Erald.


" Ah iya sayang, gimana?" Tanya Erald sadar dari lamunannya.


" Kenapa Mas bengong? Apa Mas nggak suka jika aku hamil?" Selidik Are.


" Bukan seperti itu sayang, Mas sedang membayangkan menggendong seorang bayi mungil." Ujar Erald sambil mempraktekkan menimang bayi.


" Mas akan sangat bahagia sayang, Mas senang sekali jika sampai itu terjadi, Mas sudah lama menantikan moment ini sayang, moment dimana kamu hamil lalu meminta Mas untuk membelikan ini dan itu, Mas sangat bahagia sayang." Sambung Erald


Erald berlutut di depan Are, Ia menempelkan telinganya pada perut Are.


" Juniornya Daddy, apakah kamu sudah ada di dalam sini sayang?" Tanya Erald sambil mengelus perut rata Are.


" Aku nggak tahu Mas, aku mohon sama kamu jangan terlalu berharap! Aku takut membuatmu kecewa dan memutuskan harapanmu Mas." Ujar Are membuat Erald beranjak berdiri di depan Are.


" Tidak sayang, Mas tidak pa pa, Mas pasrah saja sama yang kuasa kapan dia akan memberikan kita momongan, tapi kali ini Mas menyakini jika memang ada Erald junior di dalam sini, semoga keyakinanku tidak salah." Sahut Erald mengelu perut Are.


" Amin, semoga saja Mas." Sahut Are.

__ADS_1


" Ayo sekarang kita kembali ke kamar." Ajak Erald menuntun Are ke ranjang.


" Duduk sini sayang." Ujar Erald.


Are duduk bersandar di atas ranjang.


" Mas telepon dokter dulu sayang." Sambung Erald mengambil ponselnya.


" Iya Mas." Sahut Are.


Erald menelepon dokter keluarga dan menyuruhnya membawakan alat tes kehamilan. Setelah selesai Ia kembali menghampiri Are. Ia duduk di tepi ranjang.


" Mau meneruskan makan atau mau makan yang lainnya?" Tanya Erald.


" Aku pengin makan asam jawa Mas." Sahut Are.


" Apa? A... Asam jawa pagi pagi gini?" Erald balik bertanya.


" Iya Mas, kamu beliin deh sekarang." Ujar Are.


" Mas mau beli dimana sayang? Apa minimarket atau super market di sini ada yang menjualnya?" Tanya Erald.


" Ya kamu harus cari dimana yang jual asam jawa lah Mas, dan harus dapat kalau belum dapat tidak boleh pulang." Ujar Are.


" Baiklah akan Mas carikan nanti setelah dokter memeriksamu." Sahut Erald.


Erald semakin yakin jika sang junior akan segera hadir di tengah tengah mereka. Erald menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Tak lama setelah itu dokter datang sambil menenteng tas berwarna hitam yang berisi peralatan medis.


" Silahkan Dok." Ucap Erald mempersilahkan dokter masuk ke kamarnya.


Dokter Beno menghampiri Are yang masih berbaring di atas ranjang.


" Apa yang ada keluhkan Nona?" Tanya Dokter Beno.


Dokter tampan berhidung mancung seumuran dengan Erald dan dokter Beno salah satu sahabat Erald yang bareng bareng mengenyam pendidikan S2 di luar negeri.


" Istriku muntah muntah sejak semalam Ben, dan pagi ini dia ingin makan asam jawa." Sahut Erald.


" Baiklah saya periksa dulu Nona." Ujar Dokter Beno.


Dokter Beno memeriksa Are dengan teliti. Ia tersenyum saat menekan pelan perut Are.


" Apa penyakit istriku Ben? Apa mungkin istriku sedang hamil saat ini? Atau hanya asam lambungnya saja yang kambuh?" Tanya Erald menatap dokter Beno.


Bantu dokter Beno menjawabnya donk....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Semoga sehat selalu....


Miss U All....

__ADS_1


TBC...


__ADS_2