
Di dalam perjalanan pulang hanya ada keheningan yang menghantarkan mereka. Sesampainya di rumah Juna, Juna menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumahnya.
" Apa kau tidak mau mampir barang sebentar? Aku akan meminjamkan bajuku untukmu." Ucap Juna menatap Fara.
" Tidak perlu, aku mau langsung pulang saja, silahkan keluar dari mobilku." Sahut Fara dingin membuat Juna menghela nafasnya pelan.
" Fara aku minta maaf jika ada ucapanku yang menyinggung perasaanmu, aku tidak bermaksud melukai hatimu Fara, katakan padaku dimana letak kesalahanku!" Ujar Juna.
" Tidak ada yang salah, aku sendirilah yang bersalah, sekarang cepat turun aku sudah kedinginan." Ucap Fara.
" Baiklah aku turun, kamu hati hati ya, kalau ada apa apa hubungi aku." Sahut Juna.
" Hmm." Gumam Fara. Lagi lagi Juna hanya menghela nafasnya saja.
" Sayang ayo kita turun." Ucap Juna kepada Ghea.
" Iya Pa." Sahut Ghea membuka pintunya.
" Aunti... Ghea pulang dulu ya, Aunti hati hati di jalan." Ujar Ghea.
" Iya sayang, langsung istirahat ya biar nggak capek." Ujar Fara.
" Siap Aunti." Sahut Ghea.
Fara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
Sedangkan di dalam kamar Are, Are sedang duduk di atas ranjang dengan paha Erald sebagai bantalan. Erald mengelus kepala Are dengan lembut.
" Mas aku mengantuk kamu elus gitu." Ujar Are.
" Kalau mengantuk ya tidur donk sayang." Sahut Erald.
" Tapi inikan masih sore Mas, masa' iya aku tidur." Ujar Are.
" Ibu hamil itu harus istirahat kapan saja saat dia lelah sayang." Ucap Erald.
" Iya tapi nanti aja lah Mas, saat ini aku pengin makan bakso beranak yang ada di perempatan jalan itu lhoh Mas." Ujar Are.
" Sekarang banget?" Tanya Erald.
__ADS_1
" Iya sekarang, buruan gih kamu beli jangan pake lama ya." Ujar Are.
" Kamu nggak ikut? Kita makan saja di sana, kaya'nya akan lebih enak deh Yank di makan di sana sambil melihat suasana sore." Ujar Erald.
" Aku akan malu jika setelah makan aku muntah di sana Mas, kamu kan tahu kalau perutku belum bisa di ajak kompromi, kamu beliin aja ya di bungkus, bawa pulang aja." Sahut Are.
" Baiklah Mas akan membelikannya buat kamu sama dedek bayinya Daddy tersayang, sehat sehat di dalam sini sayang, Daddy berangkat dulu ya beli bakso buat Mommy kamu, nggak usah pakai sambal ya Yank." Ujar Erald.
" Pakai lah Mas, kasih sambal dua sendok sama kecapnya banyakin biar terasa maknyus gitu." Ucap Are membayangkan betapa nikmatnya makan bakso kuah pedas.
" Nanti kalau perut kamu sakit gimana? Kan kasihan dedeknya juga sayang, jangan banyak banyak ya." Ujar Erald.
" Kalau sakit tinggal di obati Mas, gitu aja ribet amat, udah gih buruan beli keburu ileran nanti anak kita Mas." Ucap Are.
" Baiklah sayang baiklah, Mas berangkat dulu kamu hati hati di rumah." Ucap Erald mencium kening Are.
" Iya Mas." Sahut Are.
Erald keluar kamar sedangkan Are memainkan ponselnya.
Sampai di rumah Fara segera masuk ke dalam. Di sana rupanya ada Vebby dan Saka yang sedang duduk bersama Tante Ria.
" Hallo Ma." Sapa Ara mencium pipi Mama Ria.
" Aku dari pantai Ma, tadi mau beli baju malas jadi aku pulang deh." Sahut Fara.
" Oh ya kalian ngapain ke sini? Kok tumbem dua duaan." Ujar Fara menatap Vabby dan Saka.
" Sebenarnya aku kangen sama Tante Kak, aku mau ketemu Tante tapi kamu tahu sendiri kan Kak kalau aku punya penguntit rahasia yang selalu mengikutiku kemana mana." Ucap Vebby melirik ke arah Saka dan di balas senyuman oleh Saka.
" Nggak usah senyum senyum, aku nggak suka." Cebik Vebby.
" Ya udah lanjutin ngobrolnya, aku ke kamar dulu mau mandi." Ucap Fara.
" Iya Kak silahkan." Sahut Vebby.
Vebby menoleh ke arah Saka yang masih menatapnya sambil tersenyum.
" Ngapain sih sedari tadi senyum senyum mulu' kaya' nggak ada kerjaan aja." Ujar Vebby cemberut.
__ADS_1
" Jangan seperti itu sama yang lebih tua Veb, tidak baik sayang." Sahut Tante Ria.
" Maaf Tante, lagian Vebby merasa risih di tatap begitu sama Om Saka." Ucap Vebby menundukkan kepalanya.
" Saka kan suka sama kamu, ya nggak pa pa donk curi curi pandang sama kamu, san minta maafnya sama Saka donk, bukan sama Tante." Ujar Tante Ria.
" Om Saka... Veb minta maaf ya." Ucap Vebby menatap Saka.
" Tidak masalah sayang, apapun yang kau lakukan padaku tidak akan aku ambil hati dan akan selalu aku maafkan karena aku begitu menyayangimu." Sahut Saka. Vebby memutar bola matanya malas.
" Ya kan Tante? Tante Ria setuju nggak kalau aku melamar Vebby?" Tanya Saka menatap Tante Ria.
" Kalau Tante sih setuju aja Sak, tapi ya semua itu terserah gimana Tante Cia dan Vebby, mereka yang akan menjalani menjadi keluargamu bukan Tante." Sahut Tante Ria.
" Iya Tan." Sahut Saka.
" Gimana Veb? Kalau kamu mau nggak? Bilang kalau kamu sudah siap maka sesegera mungkin aku akan melamarmu, aku tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi Veb, aku sudah tidak muda lagi seperti dulu, sudah waktunya aku membina rumah tangga bukan." Ujar Saka.
" Ngomong apaan sih Om, berisik banget perasaan dari tadi." Sahut Vebby.
" Veb....." Ucap Saka.
" Om kan tahu kalau dari dulu Mama nggak suka sama Om, mendingan Om cari wanita lain aja." Ujar Vebby.
" Aku nggak mau menikahi wanita manapun selain kamu, aku hanya mencintaimu Vebby, tidak ada yang lain." Sahut Saka.
" Aku kan sudah bilang kalau Mama tidak menyukaimu Om, jadi jangan mengharap soal menikahi Vebby deh, lagian Vebby juga bakal cari calon suami sendiri yang masih muda, seumuran lah denganku, tampan dan mapan nggak kaya' Om, udah tua, jelek nggak keren lagi, pokoknya bukan tipe Veb banget deh." Ucap Vebby menjulurkan lidahnya.
" Jika sampai itu terjadi maka bersiaplah menjadi janda sebelum pernikahan itu terjadi Vebby, aku nggak main main dengan apa yang aku ucapkan selama ini, aku akan menyingkirkan siapapun pria yang berusaha mendekatimu seperti selama ini, kamu hanya milikku, hanya milikku dan tidak akan ada pria lain yang akan menikahimu selain aku, pria yang kau anggap tua, jelek dan tidak keren, kau hanya milikku." Tekan Saka menatap tajam ke arah Vebby membuat Vebby bergidik ngeri karena merasa takut.
Ya... Selama ini Vebby tidak punya teman laki laki karena Saka selalu membuat teman laki lakinya menjauh ketakutan.
" Sekarang ayo kita pulang, aku tidak mau mendengar hinaan kamu lagi, karena apa?" Tanya Saka.
" Karena rasanya sangat sakit di hati ini Veb, ku mohon mengertilah akan perasaan yang aku miliki sejak kecil ini." Ucap Saka menggandeng tangan Vebby.
Setelah berpamitan Saka melajukan mobilnya menuju rumah Om Irvan, Papanya Vebby dengan kecepatan tinggi karena suasana hatinya yang sedang tidak menentu.
**TBC....
__ADS_1
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya.
Miss U All**....