
Reya menatap tajam ke arah Arsen membuat Arsen bergidik ngeri.
" Aku bisa jelaskan Reya." Ucap Arsen.
" Apa yang akan kamu jelaskan Bang? Kenapa kamu mengatakan hal itu kepada Arkan? Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan kepada kami?" Tanya Reya.
" Sebenarnya Arkan salah paham kepadaku, saat aku mau menjelaskannya Arkan selalu memotong ucapanku, jadi ya aku membiarkan dia berasumsi sendiri dulu nanti baru aku jelaskan kepadanya." Ujar Arsen.
" Sekarang jelaskan kepada Arkan, aku akan membersihkan ini dulu." Ucap Reya keluar kamar mengambil sapu.
" Jadi begini Arkan, Reya itu bekerja di sini sebagai pelayan yang hanya melayani kebutuhanku." Ucap Arsen menatap Arkan.
" Kebutuhan yang seperti apa Bang?" Tanya Arkan.
" Jangan berpikiran buruk dulu! Kebutuhan yang aku maksud di sini adalah kebutuhan seperti mempersiapkan baju untukku, menyiapkan makan untukku dan membersihkan kamarku, begitu Arkan bukan melayaniku di atas ranjang, aku tidak akan melakukan hal sehina itu dengan wanita yang belum menjadi milikku." Jelas Arsen membuat Arkan mengerti.
" Sudah jelas?" Tanya Reya masuk ke dalam menyapu pecahan beling gelas tadi.
" Iya Kak, maafkan aku karena aku menuduh Kakak yang tidak tidak, aku hanya takut dan khawatir saja sama Kakak." Ucap Arkan.
" Iya Kakak maafkan, kamu kan adikku." Sahut Reya.
" Terima kasih Kak, kau memang Kakak terbaik untukku." Sahut Arkan memeluk Reya.
" Biar aku yang mengerjakan Kak." Ucap Arkan melepas pelukannya.
" Tidak usah, kamu istirahat saja! Kamu kan baru sembuh jadi kamu harus banyak banyak istirahat, kamu mau melanjutkan sekolah kan." Ujar Reya.
" Iya Kak, tapi kalau Kakak tidak punya biaya nggak usah aja nggak pa pa Kak, aku akan kerja saja membantu Kakak membayar hutang hutang Kakak ke Bang Arsen." Sahut Arkan.
" Kamu harus melanjutkan sekolah supaya kamu punya tamatan yang tinggi, bagaimanapun caranya Kakak akan tetap membiayainya Kan, yang kamu pikirkan cukup belajar yang giat jadi anak pintar, supaya nanti kamu bisa menjadi orang sukses yang siap membantu semua orang yang susah seperti kita." Ujar Reya.
" Iya Kak, aku akan melakukan seperti apa yang Kakak mau, terima kasih Kak sudah menjadi Kakak yang baik untukku." Ucap Arkan.
" Ya sudah sekarang berbaringlah dan istirahat, Kakak akan membuatkan makan siang untuk kamu dan Bang Arsen." Ucap Reya.
" Iya Kak." Sahut Arkan naik ke atas ranjang.
" Aku salut sama hubungan kalian berdua." Ucap Arsen.
" Kagum kenapa? Perasaan hubungan kami biasa aja." Sahut Reya.
" Kamu begitu menyayangi adik kamu, dan kamu bertanggung jawab sebagai pengganti orang tua kamu, kamu benar benar wanita tangguh dan baik hati." Ujar Arsen.
" Memang itulah tugas dan kewajibanku Bang." Sahut Reya.
" Ayo kita keluar, biarkan Arkan istirahat sebentar sebelum makan siang." Ucap Arsen.
" Iya." Sahut Reya.
__ADS_1
Arsen dan Reya meninggalkan kamar Arkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam minggu telah tiba. Malam dimana para pasangan menghabiskan waktu bersama walau hanya sekedar berjalan jalan di alun alun kota saja.
Arsen mengajak Reya ke taman yang tak jauh dari alun alun kota. Suasana malam di kota ini memang sangat ramai. Banyak para pemuda pemudi duduk di bangku taman ataupun pinggir alun alun.
" Kenapa kita ke sini Bang?" Tanya Reya saat Arsen menarik tangannya berjalan menjauh dari mobilnya.
" Nanti kau akan tahu sendiri." Sahut Arsen.
" Memangnya mau apa kita ke sini? Apa kamu mau mengajak kencan pacar kamu? Tapu kenapa kamu mengajak aku? Seharusnya kamu pergi sendiri Bang biar aku nggak jadi obat nyamuk kalian nanti." Ujar Reya terus mengikuti langkah Arsen.
" Diam dan jangan banyak bertanya! Ternyata kamu cerewet juga." Ujar Arsen.
" Memang dari dulu aku cerewet, baru nyadar Bang." Sahut Reya.
Arsen menghentikan langkahnya tepat di depan kolam yang ada di taman itu. Pinggiran taman sudah di hias nyala api lilin dan di taburi kelopak bunga mawar putih membuat suasana semakin romantis.
Di depan sana nampak sebuah meja dan dua kursi yang di tata rapi. Ada beberapa piring yang tertutup yang Reya yakini adalah makanan pesanan Arsen untuk sang kekasih.
" Wah Bang kamu romants banget sih, kalau aku yang jadi pacar kamu pasti aku akan klepek klepek melihat semua ini Bang." Ucap Reya.
" Lalu kenapa kamu tidak menjadi pacar aku saja?" Tanya Arsen.
Reya menatap ke Arsen membuat pandangan keduanya saling bertemu. Arsen menatap mata indah milik Reya yang terlihat begitu meneduhkan hati.
Jantung keduanya berdetak tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini empat kali lebih kencang, sesuatu berdesir di hati keduanya.
" Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa deg deggan saat menatap mata Bang Arsen? Apakah aku menyukainya?" Tanya Reya dalam hatinya.
" Hah sadarlah Reya! Sadarlah siapa kamu dan siapa dirinya... Walaupun benar aku mencintainya tapi tidak seharusnya aku mengharapkan itu darinya." Sambung Reya dalam hatinya.
" Kau begitu cantik Reya membuatku semakin menyukaimu, hari ini aku ingin mengungkapkan semua keinginan dan perasaanku kepadamu, ku harap kau mau menerimanya." Batin Arsen.
Reya segera memutus pandangannya terlebih dahulu lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghilangkan rasa gugupnya.
" Kenapa kamu tidak menjawabnya? Apa kamu tidak punya jawaban dari pertanyaanku?" Tanya Arsen terus menatap Reya.
" Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang tidak penting bagiku." Sahut Reya.
" Mungkin tidak penting bagimu tapi sangat penting bagiku." Ujar Arsen.
" Apa maksudmu Bang?" Selidik Reya.
" Tidak lupakan saja." Sahut Arsen.
Arsen menarik tangan Reya berjalan di atas kelopak kelopak mawar yang indah menuju meja makan.
__ADS_1
" Eh kenapa kamu mengajakku ke sini Bang? Nanti kalu pacar kamu lihat gimana? Kan bisa jadi salah paham nanti." Ujar Reya.
" Tidak ada yang ke sini selain kita berdua." Sahut Arsen.
" Kita berdua? Memangnya kita berdua mau ngapain Bang?" Tanya Reya polos.
" Mau makan lah! Emangnya mau ngapain?" Arsen balik bertanya kepada Reya.
" Kalau cuma makan mah bisa di rumah kali Bang, tidak perlu jauh jauh ke sini." Ujar Reya.
" Biar romantis Reya." Sahut Arsen.
" Sekarang duduklah!" Titah Arsen.
Reya duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Arsen.
Arsen berlutut di depan Reya.
" Apa yang kamu lakukan Bang?" Tanya Reya.
" Aku ingin melakukan hal yang benar Reya." Sahut Arsen.
" Hal benar apa yang kau bicarakan Bang?" Reya kembali bertanya. Ia merasa heran dengan tingkah Arsen saat ini.
" Reya." Ucap Arsen menggenggam tangan Reya.
Arsen mendongak menatap Reya begitupun sebaliknya.
" Aku ingin mengatakan kejujuran yang selama ini aku pendam dan aku sembunyikan darimu, aku tidak sanggupenahannya lagi, oleh sebab itu kamu harus mengetahuinya.." Ucap Arsen.
" Katakan saja! Apa itu Bang." Sahut Reya.
" Sebenarnya sejak pertemuan pertama kita entah mengapa aku merasa terikat denganmu, entah mengapa aku ingin menjaga dan melindungimu, entah mengapa setiap hari aku ingin berada di dekatmu, aku merasa nyaman dengan adanya dirimu sebagai temanku." Ucap Arsen.
" Tapi sekarang aku menyadari jika aku mencintaimu, hatiku langsung melabuhkan cintanya kepadamu, aku ingin memilikimu sebagai pendamping hidupku kelak, aku ingin kamu selalu mengiringi setiap langkahku, aku ingin kau menjadi istri dan ibu dari anak anakku." Ujar Arsen.
Mata Reya berkaca kaca mendengar ungkapan cinta dari Arsen.
" Reya Pradipta... Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Arsen menatap Reya.
Mau di jawab apa nih????
Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiahnya biar Rea menjawab "Mau" ya...
Terima kasih untuk reader yang telah mendukung author...
Semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....