
Satu bulan telah berlalu kini Are resmi menyandang status janda. Ia menjalani hidup dengan tenang tanpa gangguan dari Erald maupun Alvin. Ia masih tinggal di rumah kedua orang tuanya, tentang kepindahannya waktu itu hanya kebohongan saja supaya Alvin tidak terus mengejarnya.
Alvin sering ke rumah Are untuk mengecek keberadaannya namun Are selalu berhasil menghindarinya. Saat ini Are fokus mengembangkan bisnis perusahaannya hingga ke mancanegara. Perusahaannya berkembang pesat atas usaha Are, Raga dan Naya. Mereka bertiga bersatu dalam perusahaan di bantu oleh orang kepercayaan Mami Valen.
Hari sudah menjelang sore, Are sedang duduk bersantai di kursi kebesarannya sambil menyesap white coffe kesukaannya.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dari luar.
" Masuk." Ucap Are.
Ceklek....
Raga masuk ke dalam menghampiri Are.
" Maaf mengganggu waktu anda Nona, apakah anda sedang sibuk Nona?" Tanya Raga.
Are melotot tajam ke arah Raga yang berbicara formal kepadanya.
" Wih sans kali." Sambung Raga duduk di sofa.
" Mau apa lo kemari?" Tanya Are menatap Raga.
" Mau jalan sama gue nggak?" Tanya Raga.
" Kemana?" Tanya Are.
" Ke taman." Sahut Raga.
" Males ah entar ketemu sama Alvin." Sahut Are.
" Ya enggaklah kan rumah Alvin jauh." Sahut Raga.
" Kalau sampai ketemu Alvin gue jitak kepala lo." Ancam Are.
" Ayo." Ajak Raga menarik tangan Are.
" Jangan di tarik gitu donk." Ucap Are.
Raga tahu jika saat ini Are sedang sedih memikirkan Erald. Itulah sebabnya Ia mengajaknya ke taman kota.
Setelah masuk ke dalam mobil, Raga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju taman kota. Sesampainya di sana Are mengembangkan senyumnya kala melihat banyak anak anak kecil sedang bermain di sana.
" Gue turun dulu." Ucap Are membuka pintu mobilnya lalu berjalan ke arah anak kecil yang sedang duduk sendirian. Raga hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Hai manis." Sapa Are duduk di samping gadis mungil sekitar umur empat tahunan.
" Aunty siapa?" Tanya anak itu.
" Kenalin, Aunti Are." Ucap Are mengulurkan tangannya.
Anak itu hanya menatap wajah Are. Are mengembangkan senyumnya saat menyadari sikap anak itu.
" Tenang saja Aunti orang baik kok, siapa namamu?" Tanya Are.
" Namaku Ghea." Sahut gadis kecil yang ternyata bernama Ghea.
" Ghea... Nama yang cantik secantik orangnya." Ujar Are.
" Kenapa kamu sendirian? Kamu nggak mau bermain bersama teman teman?" Tanya Are menatap Ghea.
" Mereka bukan temanku." Sahut Ghea mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa?" Tanya Are.
" Mereka selalu meledekku, kata mereka aku nggak punya Mama." Sahut Ghea.
" Emang Mama Ghea kemana?" Tanya Are.
" Mama Ghea udah ada di surga saat ngelahirin Ghea." Sahut Ghea.
Tiba tiba terbesit ide dalam pikiran Ghea. Ghea turun dari kursi lalu menarik tangan Are membuat Are mengikuti langkahnya.
" E kita mau kemana Ghea?" Tanya Are bingung.
Ghea menarik tangan Are sampai pada kerumunan teman temannya.
" E Ghea datang lagi, dasar anak nggak punya Mama." Ejek anak laki laki berbadan gemuk.
" Nggak usah main sama kita deh, entar kita ketularan nggak punya Mama kaya' kamu." Ucap anak perempuan berbadan kecil.
" Siapa bilang aku nggak punya Mama? Nih kenalkan Mamaku." Ucap Ghea membuat Are melongo. Ghea mengerlingkan sebelah matanya kepada Are.
" Gawat... Gue kejebak sama bocil." Batin Are.
" Emang bener Tante ini Mama kamu?" Tanya anak perempuan yang lainnya.
__ADS_1
" Beri tahu teman temanku Ma, kalau Mama itu Mama aku." Ucap Ghea mendongak menatap wajah Are dengan penuh harapan.
" Beneran Tante?" Tanya teman teman Ghea.
" Eh iya bener, kenalin aku Mamanya Ghea." Ucap Are terpaksa.
" Kok aku nggak pernah lihat Tante?" Tanya anak laki laki berbadan gemuk.
" Karena Tante sibuk bekerja, tapi mulai sekarang Tante akan sering sering menemani Ghea bermain." Sahut Are.
" Dan buat teman teman yang udah ngehina Ghea nggak punya Mama, sekarang kalian harus minta maaf sama Ghea dan tidak boleh menghina Ghea lagi ya." Sambung Are.
" Baik Tante." Sahut teman teman Ghea.
" Ghea maafin aku ya."
" Ghea aku minta maaf ya."
" Ghea ayo kita main." Ucap mereka bergantian.
" Nggak mau, aku mau main sama Mama aja." Sahut Ghea menggandeng tangan Are.
" Ayo Ma." Ajak Ghea.
Are dan Ghea membalikkan badannya ingin kembali ke kursi tadi namun mereka terkejut saat ada seorang pria tampan yang sedang bersedekap dada dan tersenyum manis ke arah mereka.
" Papa." Panggil Ghea menubruk tubuh pria tadi.
" Nakal ya udah bisa main sendiri, padahal Papa udah melarang kamu main keluar." Ujar Papanya Ghea.
" Aku bosan di rumah Pa." Sahut Ghea.
" Terima kasih sudah membantu anak saya, perkenalkan aku Arjuna Papanya Ghea." Ucap Arjuna mengulurkan tangannya.
" Aku Aresha, panggil saja Are." Sahut Are membalas uluran tangan Arjuna.
Ghea Maharani putri dari Arjuna Antonio seorang karyawan swasta di Bank. Istrinya meninggal saat melahirkan Ghea, dan saat ini Ia masih fokus membesarkan Ghea oleh sebab itu Ia masih betah menduda.
" Mama bisa panggil Papa dengan nama Juna seperti yang lainnya." Ujar Ghea.
" Ah itu benar." Sahut Juna.
" Ok... Kak Juna." Ucap Are.
" Juna aja nggak usah pakai Kak." Ujar Juna.
" Baiklah terserah kau saja." Sahut Juna.
Are menatap Raga yang berdiri di belakang Juna.
" Kak Juna kenalin, dia Raga teman sekaligus asistentku." Ucap Are menunjuk Raga.
Juna membalikkam badannya menatap Raga.
" Raga."
" Juna." Ucap keduanya bersamaan.
" Kalian saling kenal?" Tanya Are menatap keduanya bergantian.
" Kenal lah... Juna temanku waktu sekolah dulu." Ujar Raga.
" Oh." Gumam Are.
" Gimana kabarmu?" Tanya Raga.
" Yah beginilah seperti yang kau lihat." Sahut Juna.
" Ini anakmu?" Tanya Raga menunjuk Ghea.
" Iya, kenalin sayang dia Om Raga teman lama Papa." Ujar Juna.
" Hai Om, Om temannya Mama Ghea ya." Ucap Ghea membuat Raga mengerutkan keningnya.
" Mama Are Om." Sambung Ghea.
" Mama Are?" Tanya Raga menatap Are.
" Iya... Aunti Are sekarang kan menjadi Mamaku." Sahut Ghea.
" Iya Om Raga teman Aunti." Sahut Are tidak mau Raga bertanya macam macam.
" Iya." Sahut Raga.
" Ayo Ga kita jalan jalan ke sana." Ajak Are.
" Ayo." Sahut Raga.
__ADS_1
" Mama bolehkah aku ikut bermain dengan Mama?" Tanya Ghea menatap Are penuh harap.
Are menatap Juna yang di balas anggukan kepala.
" Boleh, Gimana kalau kita bermain berempat biar ramai?" Saran Are.
" Boleh juga." Sahut Juna.
" Memangnya kita mau bermain apa?" Tanya Raga.
" Bermain tangkap bola." Sahut Are.
" Emangnya lo bawa bola?" Tanya Raga menatap Are.
" Ya belilah, tuh di minimarket sebrang pasti ada." Ujar Are.
" Ya udah sana beli dulu." Sahut Raga.
" Eh gue bosnya di sini, kenapa lo yang nyuruh gue?" Ujar Are.
" Ini di luar kantor Are, jadi lo buka. lagi bos gue." Sahut Raga.
" Gue balas perbuatan lo besok pagi di kantor." Ancam Are.
" Ah bisanya lo ngancam terusn ya udah gue yang beli deh." Ujar Raga mengalah.
" Ya udah buruan beli." Ujar Are.
" Duitnya?" Tanya Raga menyodorkan tangannya.
" Masukin ke tagihan lo." Sahut Are.
" Balikin ya." Ujar Raga.
" Beres, besok gue transfer beserta bonusnya." Sahut Are.
" Wah Mama banyak duitnya." Ucap Ghea.
" Iya donk, emang Papa Ghea nggak banyak duitnya?" Tanya Are menatap Ghea.
" Aku hanya karyawan biasa." Sahut Juna.
" Ah maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." Ucap Are merasa bersalah.
" Tidak pa pa." Sahut Juna.
" Gimana kalau kapan kapan Aunti ajak kamu jalan ke Mall, kita bisa menikmati semua permainan yang ada di sana." Ujar Are.
" Beneran Ma?" Tanya Ghea dengan mata berbinar.
" Iya sayang, mau nggak?" Tanya Are.
" Mau Ma... Mau." Sahut Ghea menganggukkan kepalanya.
" Tidak usah Re, itu akan sangat merepotkan kamu." Ucap Juna.
" Tidak kok... Lagian Mall itu milik Are, jadi nggak akan membuat kantong Are terkuras." Sahut Raga yang baru datang membawa bola.
" Mama punya mall? Ghea aja nggak pernah Papa ajak ke sana." Sahut Ghea polos.
" Sayang." Ucap Juna.
" Maaf Pa." Ucap Ghea.
" Nggak Papa Kak, namanya anak kecil." Ujar Are.
" Maaf ya." Ucap Juna.
" Tidak masalah, ayo kita main." Ucap Are.
" Are, apa kamu tidak keberatan jika Ghea memanggilmu Mama? Sepertinya Ghea menganggapmu sebagai Mamanya." Ujar Juna menatap Are.
" Tidak apa Kak, senyamanya Ghea aja, biarkan Ghea menganggapku Mamanya tapi sebelumnya aku tegaskan kalau aku tidak bisa menikahi Papanya." Ucap Are tersenyum.
" Baiklah aku mengerti." Sahut Juna.
" Ya sudah ayo kita bermain." Ajak Are.
Mereka bermain tangkap bola dengan gembira. Hari ini Juna merasa sangat bersyukur di pertemukan dengan Are yang bisa membuat senyum putrinya kembali merekah. Walaupun Are tidak bisa menjadi Mama sambungnya namun setidaknya Ghea akan mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Juna yakin suatu saat nanti Ghea akan mengerti tentang hubungannya dan Are.
Waduh janda ketemu duda nih? Kira kira jodoh nggak ya?
*Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All*
__ADS_1
TBC ...