Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Menjagamu


__ADS_3

Semalaman Are menjaga Alvin sampai Ia tertidur masih dalam posisi duduk.


" Engh." Lenguh Alvin membuka matanya.


Mendengar lenguhan Alvin, Are membuka matanya menatap Alvin.


" Mas kamu sudah sadar." Ucap Are senang.


Are berjalan ke wastafel kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu Ia kbali menghampiri Alvin.


" Aku dimana?" Tanya Alvin.


" Kamu di rumah sakit Mas, semalam kamu kecelakaan Mas." Sahut Are.


Alvin mengingat ingat apa yang terjadi padanya semalam.


" Kata suster kamu kecelakaan dengan Rena Mas, apa kamu tidak mau tahu keadaan Rena?" Tanya Are membuat Alvin menatap ke arahnya.


" Tidak." Sahut Alvin.


" Mas butuh minum?" Tanya Are menatap Alvin. Alvin menganggukkan kepalanya.


Are mengambil segelas air putih untuk Alvin.


" Ini Mas." Ucap Are menyodorkan gelasnya.


Alvin hanya menatapnya seolah paham dengan maksud Alvin, Are mengambil sedotan yang ada di nampan. Lalu Ia membantu Alvin minum.


Alvin menyedot air putihnya sambil menatap Are.


Deg.... Deg....


Jantung Alvin berdetak kencang dua kali lipat. Ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya.


" Kenapa rasanya jantungku hampir copot dari tempatnya? Hatiku merasa hangat hanya menatap wajah Are saja." Batin Alvin.


" Sudah Mas?" Tanya Are setelah Alvin menghabiskan minumnya. Alvin menganggukkan kepalanya.


Are meletakkan gelas di atas nakas kembali.


" Aku panggil Dokter dulu Mas." Ucap Are beranjak.


" Tetaplah di sini." Ucap Alvin mencekal tangan Are.


Are menatap tangannya yang di pegang oleh Alvin.


" Duduklah." Titah Alvin.


Are menarik tangannya lalu kembali duduk di kursinya. Ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah karena Alvin menatapnya dengan tatapan yang entah.


" Kenapa kamu tidak mau menatapku?" Tanya Alvin.


" Tidak apa." Sahut Are.


Ceklek....


Pintu terbuka dari luar, nampak Erald masuk ke dalam dengan membawa plastik di kedua tangannya.


" Are kamu makan dulu nih." Ucap Erald menuju sofa yang belum menyadari jika Alvin sudah sadar.


" Iya Kak sebentar." Sahut Are.


" Kamu harus makan sekarang, kamu belum makan sedari semalam Re, nanti kalau kamu sakit gimana kamu bisa jagain Alvin." Ujar Erald menata makanannya.


" Kak Er." Panggil Are.


" Ya." Sahut Erald tanpa menoleh.

__ADS_1


" Mas Al sudah sadar." Ucap Alvin.


Erald menatap ke arah ranjang.


" Alvin." Pekik Erald menghampiri Alvin.


" Iya Bang." Sahut Alvin.


" Abang akan panggilkan Dokter dulu ya." Ujar Erald.


" Iya Bang." Sahut Alvin.


Erald kembali ke luar memanggil Dokter untuk memeriksa Alvin. Sedangkan di dalam kamar, Alvin masih menatap Are dengan tatapan yang membuat Are tidak nyaman.


" Tidak perlu menatapku seperti itu Mas, kalau kamu tidak mau aku ada di sini aku akan pergi." Ucap Are.


" Jangan.... Jangan tinggalkan aku sendirian, aku takut Ar." Sahut Alvin.


" Baiklah tapi jangan tatap aku seperti itu." Ucap Are.


" Baiklah." Sahut Alvin.


" Entah mengapa dengan melihat wajahmu membuat hatiku tenang Ar, apa aku mulai menyukaimu? Tapi rasanya tidak mungkin, Rena.... Kenapa aku tidak mengkhawatirkan keadaannya? Ada apa dengan hatiku? Apa cintaku untuk Rena sudah hilang bersamaan dengan kecelakaan yang aku alami? Kenapa rasanya aku tidak mau kehilangan Are? Ya Tuhan perasaan apa ini?" Gumam Alvin dalam hati.


" Mas mau makan? Sepertinya Kak Er membelikan aku bubur ayam untuk sarapan." Ucap Are menatap Alvin.


" Iya." Sahut Alvin.


Are segera mengambil sterefoam yang berisi bubur ayam. Ia kembali menghampiri Alvin.


" Apa Mas bisa duduk bersandar pada bantal?" Tanya Are.


" Sepertinya bisa." Sahut Alvin.


Are meletakkan bubur di atas nakas.


" Sini aku bantu Mas." Ujar Are membantu Alvin duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Gimana? Nyaman nggak Mas?" Tanya Are.


" Iya." Sahut Alvin.


" Sekarang kamu makan dulu biar nanti setelah di periksa Dokter langsung bisa minum obat, biar kamu cepet sembuh." Ujar Are.


Are menyuapkan bubur itu ke mulut Alvin dan di terima dengan baik oleh Alvin. Alvin terus menatap Are tanpa berkedip seolah Ia takut jika Are akan menghilang saat Ia mengedipkan mata.


" Kamu juga harus makan, kamu belum makan dari semalam kan." Ucap Alvin.


" Nanti aja Mas, aku belum lapar kok." Sahut Are.


" Aku suapi kamu." Ucap Alvin mengambil alih sendok dari tangan Are.


Alvin menyodorkan sesendok bubur ke mulut Are membuat Are melongo menatap ke arahnya.


" Ada angin apa sampai Mas Al bisa berbuat lembut kepadaku? Apakah otaknya geser dari tempatnya? Atau jangan jangan dia menganggapku sebagai Rena lagi." Ujar Are dalam hati.


" Are." Ucap Alvin membuat Are tersadar dari lamunannya.


" Tidak usah Mas." Sahut Are mengambil sendok dari tangan Alvin membuat Are kecewa.


" Kamu makan yang banyak ya biar cepet sehat." Ucap Are kembali menyuapi Alvin.


" Apa kamu sudah bosan mengurusku?" Tanya Alvin.


" ya bisa di katakan begitu, tapi lebih tepatnya aku bosan jika berlama lama di rumah sakit, aku lebih suka berada di rumah." Sahut Are membuat hati Alvin mencelos.


Entah mengapa Alvin suka saat saat seperti ini. Ia tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Erald masuk ke dalam bersama Dokter yang menangani Alvin.


" Silahkan Dok." Ucap Erald.


" Senang melihat anda sudah sadar Tuan Alvin." Ucap Dokter.


" Terima kasih Dok." Sahut Alvin.


" Apa anda makan dengan baik?" Tanya Dokter.


" Iya Dok, apalagi di suapi sama istri saya." Ucap Alvin menatap Are. Are hanya tersenyum kepada Alvin.


" Baiklah saya periksa dulu ya." Ujar Dokter memeriksa orgam organ vital Alvin.


" Semuanya baik Tuan Alvin, tidak ada yang perlu di khawatirkan, benturan keras pada kepala anda juga tidak berakibat fatal, kemarin kami sudah melakukan tindakan scan." Terang Dokter.


" Alhamdulillah." Sahut Are.


" Kamu senang?" Tanya Alvin membuat Are mengerutkan keningnya.


" Kamu senang jika aku baik baik saja?" Tanya Alvin.


Are menatap Dokter dan Erald bergantian.


" Ya tentulah Mas, aku senang kau baik baik saja, cepat sembuh Mas." Ucap Are.


" Terima kasih." Ucap Alvin.


" Hah?" Are melongo mendengar ucapan terima kasih dari Alvin.


" Kamu baik baik saja kan Mas? Jangan jangan otak kamu yang luka." Ujar Are.


" Tidak Nona, Tuan Alvin baik baik saja begitupun dengan otaknya, sepertinya yang tidak baik baik saja itu hatinya." Sahut Dokter.


" Hatinya? Hatinya kenapa Dok?" Tanya Are polos.


" Hati Tuan Alvin terserang sindrom cinta Nona." Ucap Dokter.


Are melongo saat menyadari kebodohannya. Lalu Ia tersenyum kecut menatap Alvin.


" Ya kau benar Dok, Tuan Alvin memang terserang sindrom jatuh cinta kepada wanita yang kecelakaan bersamanya." Ucap Are berjalan meninggalkan mereka.


Are keluar ruangan, Ia terus berjalan menuju taman yang berada di rumah sakit itu. Ia duduk di bangku taman menyendiri mencoba menyelami perasaannya kepada Alvin. Ia merasa jika Alvin sudah berubah. Ia merasa Alvin memiliki perasaan tertarik kepadanya.


" Kenapa di sini?" Tanya Erald duduk di samping Are.


" Mencari angin saja Kak." Sahut Are.


" Bukankah Alvin sedikit berubah, tapi mengapa Kakak merasa sepertinya kamu tidak menyukai perubahan yang Alvin tunjukkan." Ujar Erald menatap Are.


" Entahlah Kak." Sahut Are menatap langit langit yang mulai panas.


" Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak." Ucap Erald.


" Pertanyaan yang mana?" Tanya Are menatap Erald.


" Tentang perasaanmu kepada Alvin saat ini, kamu mencintai Alvin kan?" Tanya Erald.


" Aku....


Aku apa hayooo.....


Enak nggak di gantung lagi? Author iseng ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat melanjutkan ceritanya ya....


Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya untuk author... Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC.....


__ADS_2