Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Akhirnya Menyerah


__ADS_3

Hari Senin telah tiba, kini tiba waktunya untuk Are kembali ke kursi kebesarannya untuk menyelesaikan pekerjaan pekerjaan yang siap menyita waktunya. Jarinya dengan lihai menari di atas keyboard komputernya, matanya terus menatap ke layar putih yang bertuliskam banyak kata kata yang membuat Are pusing sendiri.


Tok tok tok


" Masuk." Ucap Are.


Ceklek...


Are menatap ke arah pintu yang ternyata Jodi, orang kepercayaan Mami Valen yang menjadi guru untuk Are selama ini. Jodi merupakan pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun yang mengubah Are menjadi pemimpin yang kompeten dan mampu mengembang perusahaannya dalam waktu satu tahun ini.


" Maaf jika saya mengganggu waktu anda Nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona." Ucap Jodi sopan.


" Tidak masalah, siapa yang ingin menemuiku?" Tanya Are menatap Jodi.


" Tuan Erald." Sahut Jodi.


" Apa? Kak Erald ke sini?" Tanya Are terkejut.


" Iya Nona, beliau ada di lobby menunggu persetujuan anda untuk naik ke atas." Ucap Jodi.


" Bilang padanya kalau saya sedang sibuk dan tidak bisa menerima tamu hari ini." Ucap Are.


" Tapi beliau mengatakan ingin menemui anda karena hal penting Nona, mungkin ini menyangkut kerja sama yang baru saja kita jalin dengan perusahaannya." Ujar Jodi.


" Jika memang mengenai kerja sama dia bisa membicarakannya dengan Raga atau Kau kan? Kenapa harus aku?" Tanya Are menatap Jodi.


" Maafkan saya Nona, saya hanya menebak saja." Sahut Jodi.


" Sekarang keluarlah! Saya harus menyelesaikan pekerjaan." Ucap Are.


" Baiklah Nona, saya permisi." Pamit Jodi meninggalkan ruangan Are.


"Kau akan lihat bagaimana aku membuatmu tidak bisa tidur Kak Er." Batin Are tersenyum smirk.


Are memantau Erald lewat rekaman cctv. Di sana nampak Jodi sedang menghampiri Erald.


" Maaf Tuan Erald, Nona Are sedang tidak bisa menerima tamu." Ucap Jodi menatap Erald.


" Kenapa?" Tanya Erald beranjak berhadapan dengan Jodi.


" Nona Are sedang banyak pekerjaan Tuan." Sahut Jodi.


" Itu hanya alasan dia saja." Ucap Erald berjalan menuju lift.


" Tuan tunggu." Panggil Jodi membuat langkah Erald berhenti.


" Ini urusan pribadiku Jodi, jaga batasanmu dan jangan menghalangiku! Aku ke sini atas perintah Mami Valen." Tekan Erald membuat Jodi tidak bisa berbuat apa apa.


" Baiklah Tuan maaf." Ucap Jodi.

__ADS_1


Erald melanjutkan langkahnya, Ia naik menuju lantai sepuluh dimana ruangan Are berada. Setelah keluar dari lift, Erald berjalan menuju ruangan Are.


Ceklek.....


Erald membuka pintu, tanpa basa basi Erald masuk ke dalam. Are yang sedang duduk di kursinya menoleh ke arah Erald yang sedang menghampirinya.


" Are aku mau minta maaf sama kamu, aku...


" Aku memaafkanmu, sekarang pergilah." Usir Are memotong ucapan Erald.


" Aku mohon Are jangan menghindariku lagi." Ucap Erald.


" Kau sudah kehilangan kesempatan itu satu tahun yang lalu." Ucap Are.


" Are ku mohon jangan mengungkit kejadian satu tahun yang lalu lagi, aku menyesalinya Are, aku menyesal telah meninggalkan cintaku di sini, sekarang aku datang untuk menjemput cintaku, aku mohon Are jangan menolakku lagi, aku mencintaimu Re, aku sangat mencintaimu sepenuh hatiku." Ujar Erald.


" Aku juga mau minta maaf atas kejadian semalam, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat aku berada di dekatmu, hatiku menginginkanmu Are, aku mencintaimu." Ucap Erald mendekati Are.


Are beranjak kini keduanya saling berhadapan.


" Aku sudah minta maaf padamu, dan bukankah barusan kau bilang kau sudah memaafkan aku, jadi ku mohon hal itu tidak perlu di bahas lagi, cukup sampai di sini ya, aku mohon... Aku hanya ingin membicarakan tentang masa depan kita." Ujar Erald menatap Are.


" Baiklah aku tidak akan mengungkit masa lalu lagi, sekarang pergilah." Sahut Are.


Erald menangkup wajah Are, Ia menatap Are dengan tatapan penuh cinta. Untuk sesaat keduanya saling menatap dengan perasaan masing masing.


Jantung keduanya berdetak dengan begitu kencang. Are tidak mampu mengendalikan perasaannya. Cairan bening menetes di pipi Are.


" Are kenapa kamu menangis? Apa aku melukaimu lagi? Maafkan aku Are kalau aku membuatmu terluka lagi maafkan aku, aku tidak pernah punya niatan untuk melukai hatimu Are." Ucap Erald memeluk Are.


" Hiks.... Hiks....." Isak Are.


" Ku mohon jangan menangis Re, aku nggak kuat melihat air matamu, aku tidak sanggup melihat kesedihan di matamu." Ucap Erald.


Are masih terisak dalam pelukan Erald. Ia meluapkan kerinduan yang selama ini menyiksa batinnya lewat air matanya. Nyatanya Ia kalah, Ia tidak mampu menolak pesona Erald terlalu lama. Cukup sudah selama satu tahun ini. Bukankah keduanya sama sama tersiksa? Erald pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia meneteskan air mata merasakan kesedihan yang Are rasakan saat ini.


" Jangan pernah membenciku Re, aku tidak akan kuat menahan kebencian yang kau berikan kepadaku, aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu sepenuh hatiku, wanita yang aku cintai adalah dirimu, wanita yang aku anggap kekasihku adalah dirimu, dan wanita yang ingin aku nikahi satu tahun itu adalah dirimu." Ucap Erald.


" Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Tanya Are melepas pelukannya. Ia menatap wajah Erald yang di penuhi air mata.


" Karena aku punya keyakinan jika kau akan menjadi milikku suatu hari nanti, aku punya cinta yang tulus untukmu, aku sangat mencintaimu dan ku mohon jangan membenciku lagi." Ucap Erald menarik kembali tubuh Are ke dalam pelukannya.


" Aku membencimu karena kamu membuatku tidak bisa melupakanmu selama ini, aku membencimu karena kamu menjauh dariku, aku membencimu karena kamu memilih pergi meninggalkan aku, aku membencimu karena kamu membuatku menahan rindu sepanjang malam selama satu tahun ini, aku membencimu karena bayanganmu tidak bisa menghilang dari mimpiku, aku membencimu karena kamu membuatku tersiksa dengan perasaan ini, aku membencimu Kak Er, aku membencimu." Ucap Are panjang lebar.


" Sekarang aku datang mendekat ke arahmu, sekarang aku datang untuk menghapus rindu di dalam hatimu, sekarang aku datang untuk mengobati luka yang pernah aku torehkan dalam hatimu, sekarang aku datang untuk membuat mimpimu menjadi kenyataan, sekarang aku datang untuk menghilangkan siksaan dalam hatimu atas perasaan ini, sekarang tidak ada alasan untukmu untuk membenciku lagi, jadi mulai sekarang mari kita buka lembaran baru demi masa depan yang bahagia, sekarang mari kita melangkah bersama menjemput kebahagiaan nan penuh cinta itu." Ucap Erald.


Are melepas pelukan Erald. Ia menatap wajah Erald untuk mencari ketulusan dari sana.


" Apa benar kau mencintaiku?" Tanya Are.

__ADS_1


" Aku sangat mencintaimu." Ucap Erald.


" Seberapa besar cintamu padaku?" Tanya Are.


" Sebesar cintaku pada Mamiku." Sahut Erald.


" Apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan cintaku?" Tanya Are.


" Aku akan melakukan apapun untukmu." Sahut Erald.


" Apa kau akan mengorbankan hidupmu demi hidupku?" Tanya Are.


" Tentu saja." Sahut Erald.


" Sekarang giliran aku yang bertanya padamu." Ucap Erald.


" Apa?" Tanya Are.


" Apa kau juga mencintaiku Aresha Wijaya?" Tanya Erald menatap Are.


" Tidak." Sahut Are membuat Erald mengerutkan keningnya.


" Are jangan membohongiku dan membohongi dirimu sendiri, katakan yang sesungguhnya Are, ku mohon." Ujar Erald.


" Itulah kenyataannya Tuan Erald." Sahut Are membuat hati Erald mencelos.


" Tidak mungkin, aku akan bertanya sekali lagi kepadamu, apa kau mencintaiku Are?" Tanya Erald.


" Tidak." Sahut Are.


Hati Erald terasa mati mendengar jawaban Are. Benarkah Are sudah tidak mencintainya lagi? Jika benar ini memang salahnya. Ia meninggalkan Are begitu saja di saat Are mengutarakan perasaannya. Apakah hati Are mati saat itu juga? Lalu apa maksud Are mengatakan semua itu tadi? Kenapa dia mengatakan jika dia merindukan Erald selama ini? Apakah Are mencoba membohonginya?


" Are aku akan bertanya lagi padamu, ini pertanyaan terakhir dan jawabanmu akan aku anggap sebagai jawaban yang sebenarnya." Ujar Erald berharap Are mengubah jawabannya.


" Tanyakan saja maka jawabanku akan tetap sama." Ujar Are.


" Jawablah dengan benar sesuai apa yang ada dalam hatimu karena aku tidak akan bertanya lagi padamu, dan aku akan melangkah mundur jika memang kau tidak mencintaiku, jadi gunakan kesempatan ini dengan baik Are." Ujar Erald.


" Are apakah kau mencintaiku Aresha Wijaya?" Tanya Erald sekali lagi.


Jawaban apa yang akan Are berikan kepada Erald? Temukan jawabannya di bab selanjutnya


Jangan lupa untuk tekan like koment dan hadiahnya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2