
" Saka....." Teriak Mami Valen.
Brugh..... Brugh.....
Tubuh Saka terguling guling dari atas tangga sampai lantai bawah.
Brugh....
" Hubby." Teriak Vebby berlari menghampiri tubuh Saka yang tergeletak di lantai.
" Hubby bertahanlah By." Ucap Vebby mengangkat kepala Saka ke paha.
" Hubby ku mohon pertahankan kesadaranmu, bukalah matamu! Tatap aku By! Ku mohon bertahanlah! jangan tinggalkan aku! Hiks..." Ucap Vebby mengelus wajah Saka yang kini berwarna merah akibat darah yang mengalir dari dahinya.
Saka menatap Vebby dengan sendu. Ingin sekali Ia mengucapkan kata kata untuk menenangkan Vebby namun bibirnya terasa berat untuk terbuka. Rasa sakit yang kini mendera dalam tubuhnya membuatnya ingin menutup mata, namun Ia sebisa mungkin untuk tetap membuka matanya karena tidak ingin membuat Vebby semakin cemas.
" Irvan segera bawa Saka ke rumah sakit." Teriak Mami Valen terserang rasa panik yang luar biasa.
" Iya." Sahut Om Irvan.
Mami Valen mendongak keatas menatap Joger yang masih mematung di tangga paling atas. Mami Valen mengarahkan pistolnya lalu...
Dor....
" Argh." Teriak Joger saat satu peluru berhasil menembus jantungnya.
Brugh.... Brugh....
Tubuh Joger berguling di atas tangga sama persis seperti apa yang di alami Saka.
" Joger." Teriak Tuan Erlangga mendekati Joger.
" Kau yang menginginkan ini semua Tuan Erlangga, kalian telah membuat adikku terluka dan aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja, kalian harus menerima akibat dari perbuatan kalian." Teriak Mami Valen hilang kendali.
Mami Valen mengarahkan pistol kepada Tuan Erlangga.
" Ampun Nyonya Valen, saya minta maaf, tolong jangan tembak saya, saya minta maaf." Ucap Tuan Erlangga.
" Kata maafmu sudah terlambat bagiku Tuan Erlangga." Sahut Mami Valen.
Dor...
" Argh..." Teriak Tuan Erlangga memegangi kaki kanannya yang baru saja terkena timah panas.
Dor....
" Argh sakit." Tuan Erlangga kembali berteriak saat peluru menembus kaki kirinya.
Mami Valen menyeringai menatap Tuan Erlangga membuat Tuan Erlangga ketakutan.
" Aku hanya membuatmu tidak bisa melangkah, jika terjadi sesuatu hal yang fatal kepada Saka, aku akan membuatmu mengakhiri hidupmu sendiri, itu janjiku padamu." Tegas Mami Valen.
" Ayo Van kita ke rumah sakit sebelum terlambat." Ajak Mami Valen meninggalkan Tuan Erlangga dan para anak buahnya yang sudah terkapar tidak berdaya.
" Inilah yang aku sukai dari dalam dirimu Valen." Batin Om Irvan.
" Ayo Pa." Ucap Vebby.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Om Irvan.
Om Irvan mengangkat tubuh Saka yang kehilangan kesadarannya menuju mobil. Mereka membawa Saka ke rumah sakit terdekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Erald, tubuh Erald mematung setelah baru saja menerima telepon dari Mami Valen yang mengabarkan jika Saka masuk rumah sakit. Ia tidak menyangka jika Om yang sangat Ia sayangi mengalami kejadian tragis seperti ini.
" Mas kamu kenapa? Mami bilang apa Mas?" Tanya Are mendekati Erald.
" Om Saka jatuh dari tangga saat berkelahi dengan anak buah Tuan Erlangga sayang." Sahut Erald.
" Ya Tuhan.... Lalu sekarang bagaimana keadaan Om Saka Mas?" Tanya Are.
" Om Erald kritis, saat ini sedang di tangani dokter di rumah sakit rose flower, Mas harus ke sana sekarang juga." Ucap Erald.
" Kamu di rumah saja ya, Mas tidak mau kamu sampai kecapekan di sana, kamu di temani Mbak Siti ya." Sambung Erald memegang kedua bahu Are.
" Tapi aku juga ingin melihat keadaan Om Saka Mas, bukankah keluarga kita selalu bersama untuk saling mendukung satu sama lain?" Ujar Are menatap wajah Erald.
" Sayang, Om Saka kritis, dokter belum bisa memastikan kapan Om Saka sadar, kamu akan bosan di sana dan kamu pasti kelelahan karena terlalu lama duduk di sana sayang, saat ini Mami membutuhkan Mas untuk memberikan kekuatan di sampingnya, kamu tahu kan kalau saat ini Papi sedang ke luar negeri? Jadi Mami sangat membutuhkan Mas sayang." Ujar Erald.
Erlad tidak mau kalau sampai Are kelelahan karena banyak duduk di sana. Lebih baik Are di rumah supaya bisa bebas mau melakukan apapun.
" Baiklah Mas aku mengerti, kamu hati hati ya dan sampaikan salamku untuk Mami." Ujar Are.
" Terima kasih sayang, nanti akan Mas sampaikan." Sahut Erald mencium kening Are.
Erald berjongkok di depan Are lalu mengusap perut buncit Are.
" Sayang... Daddy pergi dulu ya, kalian di rumah sama Mommy, ingat! Kalian jangan nakal ya kasihan Mommy nggak ada Daddy." Ucap Erald mencium perut Are.
" Iya Maskuh..." Sahut Are.
" Assalamu'alaikum." Ucap Erald.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Are.
Erlad berjalan keluar kamarnya sedangkan Are duduk di atas ranjang menatap keluar jendela.
Are berjalan mendekati jendela kamarnya, Ia menatap mobil Erald yang hendak keluar dari gerbang rumahnya. Mata Are memicing kala melihat seorang wanita ikut masuk ke dalam mobil Erald.
" Siapa wanita itu? Kenapa Mas Er membiarkannya masuk ke dalam mobilnya? Apa yang sebenarnya Mas Er lakukan?" Tanya Are dalam hatinya.
Are mengambil sling bagnya lalu berjalan keluar menuju mobilnya. Are melajukan mobil dengan kecapatan sedang menuju rumah sakit. Tiga puluh menit Are sampai di parkiran rumah sakit rose fliwers.
Are turun dari mobil menuju ruang informasi untuk menanyakan ruangan Saka. Setelah mendapat informasi Are segera berjalan menuju ruangan flamboyan nomer tiga.
Untuk sampai di ruangan Saka, Are harus melewati poli kandungan terlebih dahulu. Ia menghentikan langkahnya seketika saat melihat Erald dan wanita tadi keluar dari poli itu.
" Mas Erald dari poli kandungan bersama wanita itu? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu sih? Kenapa aku tidak bisa melihat jelas." Gumam Are.
Ya Are tidak bisa melihat jelas wanita itu karena saat ini wanita itu berdiri membelakangi Are.
Are menghampiri Erald dan wanita itu untuk meminta penjelasan.
" Mas." Panggil Are membuat Erald menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Sayang kamu ke sini?" Tanya Erald menatap Are.
" Iya kenapa? Siapa dia? Dan kenapa kalian keluar dari poli kandungan? Apa dia hamil?" Tanya Are beruntun.
Wanita itu membalikkan badannya menatap Are.
" Mbak Ratna." Ucap Are.
" Nona Are." Ucap Ratna sekretaris Erald.
" Apa kalian punya hubungan di belakangku?" Tanya Are ti the point.
" Sayang bukan begitu, kamu salah paham sayang." Sahut Erald mendekati Are.
" Lalu?" Tanya Are.
" Tadi itu saat Mas mau keluar gerbang, Ratna datang ke rumah mau mengantar berkas, terus Mas bilang padanya kalau Mas mau ke rumah sakit menjenguk Om Saka, Ratna mau ikut jenguk Om Saka juga jadi kita barengan aja ke sininya, dan saat di jalan tiba tiba perut Ratna merasa sakit, ya Mas bawa ke sini aja kan siapa tahu ada sesuatu yang serius." Terang Erald.
" Dan kamu tahu apa yang dokter bilang?" Tanya Erald.
" Memangnya apa yang dokter bilang?" Tanya Are menatap Erald.
" Ratna hamil sayang." Sahut Erald membuat Are membulatkan matanya.
" Di.... Dia hamil sama kamu Mas?" Tanya Are tidak percaya.
Erald tersenyum melihat wajah Are yang terlihat lucu baginya.
" Pikiran kamu terlalu jauh sayang, Ratna hamil dengan suaminya lah sayang, masa' sama Mas, Mas tidak akan melakukan hal buruk seperti itu." Sahut Erald.
" Tapi Mbak Ratna belum menikah Mas."
Jeduar.....
Erald menatap tajam ke arah Ratna yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
" Atau jangan jangan dia anakmu Mas? Katakan padaku! Apa kau yang sudah menghamilinya? Tega kamu Mas." Ucap Are.
" Tidak sayang bukan aku pelakunya." Sahut Erald.
" Apa benar kamu belum menikah Ratna? Kau bilang kau sudah menikah dua bulan lalu? Kenapa Are bilang kamu belum menikah? Siapa yang melakukan itu padamu hah? Siapa pria yang sudah menghamilimu?" Tanya Erald.
" Anda Pak." Sahut Ratna.
Jeduar....
Tubuh Erlad kaku mendengar jawaban Ratna.
" Tega kamu melakukan ini padaku Mas." Ucap Are menghapus air matanya.
" Apa apaan ini? Kenapa kamu bilang seperti itu Ratna? Kapan aku melakukannya?" Tanya Erald.
Kapan hayo....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....