
" Sayang jangan marah lagi donk." Ucap Erald fokus pada kemudinya.
Erald dan Are baru saja dari rumah sakit. Dokter mengatakan jika Are sedang hamil empat minggu. Hal itu di kuatkan dengan hasil usg yang Are jalani.
" Sayang jangan diam aja! Ngomong donk kalau perlu maki Mas atau tampar Mas." Ucap Erald menggenggam tangan kanan Are menggunakan tangan kirinya.
Are segera menarik tangannya.
" Dokter tadi bilang kan kalau kamu tidak boleh banyak pikiran, kamu tidak boleh stres, kamu tidak boleh kecapekan dan kamu tidak kamu tidak boleh marah marah." Ujar Erald.
" Kamu harus tersenyum, kamu harus bahagia sayang... Yakinlah jika Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita bukan yang kita inginkan, syukuri apapun pemberiannya dengan ikhlas maka kita akan merasakan bahagia sepanjang masa." Ucap Erald modus.
" Mas yakin sayang kalau Aarash dan Aaris akan merasa senang dengan kehadiran calon adik mereka, jadi kamu harus berpikir positif donk, hilangkan pikiran buruk dan jalani semua ini dengan penuh bahagia, coba kamu lihat Vebby dan Om Saka! Mereka sangat menginginkan seorang bayi mungil hadir di tengah tengah mereka, tapi sampai sekarang mereka belum juga mendapatkannya, sedangkan kita yang tidak meminta malah di beri oleh Tuhan, berarti Tuhan sangat menyayangi kita sayang." Ujar Erald panjang lebar.
Erald menoleh sekilas ke arah Are yang masih menekuk wajahnya. Ia tahu kalau perasaan Are sangat kesal saat ini.
" Kalau kamu seperti ini terus, kasihan anak dalam kandunganmu sayang, dia akan merasa sedih karena Mommynya tidak mau menerimanya dengan bahagia, jangan sampai karena itu kita akan kehilangannya sebelum Ia lahir ke dunia, atau kalau tidak kita akan sangat menyesalinya sayang." Ucap Erald menohok hati Are.
Are mencoba berpikir jernih dan sedikit menurunkan egonya.
" Benar juga apa yang di katakan Mas Er, maafkan Mommy sayang... Bukannya Mommy tidak bahagia menyambutmu tapi Mommy hanya merasa kasihan kepada kedua Kakakmu, tapi sekarang Mommy akan menerima semua ini dengan ikhlas, semoga kedua Kakakmu merasa senang dan bahagia dengan kehadiranmu dan kamu merasa bahagia hadir di tengah tengah keluarga kami, sehat sehat di dalam sini sayang." Ujar Are dalam hati sambil mengelus perut ratanya.
Erald mengembangkan senyum di sudut bibirnya melihat Are mengelus perutnya. Erald yakin Are sudah mulai menerima semuanya.
" Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuka hati istri hamba." Batin Erald tersenyum senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Arsen menjemput Arkan di rumah sakit. Tiga bulan membuat hubungan Arsen dan Reya semakin dekat....
Ceklek....
Arsen membuka pintu ruangan Arkan.
" Bang Arsen." Ucap Reya menoleh ke arah pintu.
" Kalian sudah siap?" Tanya Arsen menghampiri Reya dan Arkan.
" Sudah Bang." Sahut Arkan.
" Ayo aku bantu kamu ke mobil." Ajak Arsen mengapit lengan Arkan.
" Terima kasih Bang sudah peduli pada kami." Ucap Arkan.
" Sudah kewajiban kita menolong sesama kan, jangan di pikirkan masalah itu sekarang ayo kita pulang." Sahut Arsen.
" Bang." Panggil Arkan.
" Ya." Sahut Arsen.
" Apa tidak apa jika aku ikut Kak Reya tinggal di rumah Abang? Aku takut keluarga Abang akan keberatan tentang ini, secara kan Kak Reya hanya pelayan Abang." Ucap Arkan menatap Arsen.
" Keluargaku orang orang yang baik dan tidak memandang status sosial Arkan, jadi jangan khawatir ya, keluargaku pasti menerima kalian dengan senang hati." Sahut Arsen.
" Baiklah Bang." Sahut Arkan.
__ADS_1
" Ayo." Ajak Arsen merangkul pundak Arkan.
Arkan dan Arsen berjalan meninggalkan ruang rawat Arkan di ikuti Reya dari belakang.
Setelah masuk ke dalam mobil, Arsen segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
" Apa kalian menginginkan sesuatu? Seperti ingin makan apa gitu?" Tanya Arsen menoleh sekilas ke arah Reya yang duduk di sampingnya.
" Tidak Bang terima kasih." Sahut Reya.
" Kalau kamu Arkan?" Tanya Arsen menatap Arkan melalui pantulan kaca.
" Tidak Bang, terima kasih." Sahut Arkan.
" Hah baiklah, seharusnya aku tidak perlu bertanya kepadamu karena kamu pasti akan mengikuti Kakakmu." Ucap Arsen fokus mengemudi.
Dua puluh menit kemudian Arsen sampai di rumahnya. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumahnya.
" Wah rumah Abang besar banget." Decak Arkan menatap rumah mewah yang berdiri kokoh di depannya.
" Bukan rumah Abang tapi rumah orang tua Abang." Sahut Arsen.
" Bang Arsen selalu merendah." Ucap Arkan.
" Ya sudah sekarang ayo kita masuk." Ajak Arsen.
Arsen dan Arkan masuk ke dalam sedangkan Reya masuk melalui pintu belakang.
" Ma." Panggil Arsen menghampiri Mamanya di ruang tamu.
" Kamu sudah pulang sayang, ini Arkan?" Tanya Tante Luci.
" Anak manis, kamu tampan setampan anak Tante ini." Ucap Tante Luci menyentuh pipi Arkan.
" Terima kasih Tante." Sahut Arkan.
" Reya kemana? Kok kalian hanya berdua?" Tanya Tante Luci.
" Ah iya, Reya mana Kan?" Tanya Arsen menoleh ke belakang.
" Kak Reya masuk lewat pintu belakang tadi Bang." Sahut Arkan.
Tante Luci tersenyum mendengar Arkan memanggil Arsen dengan sebutan Abang.
" Ya sudah sekarang masuklah ke kamarmu, istirahat supaya kamu cepat pulih." Ucap Tante Luci.
" Terima kasih Tan sudah menerima kami dengan baik." Ucap Arkan.
" Sama sama, anggap saja kami sebagai keluargamu dan rumah ini adalah rumahmu." Ucap Tante Luci tulus.
" Andai saja Mama masih ada, pasti Mama sebaik Tante." Ujar Arkan.
" Kamu juga boleh menganggapku sebagai Mamamu." Sahut Tante Luci.
" Tidak Tante, kami tidak pantas bersanding dengan keluarga kalian." Sahut Arkan.
__ADS_1
" Kenapa tidak pantas? Bukankah derajat manusia sama di mata Tuhannya? Jangan merasa berkecil hati Arkan, semua bisa terjadi jika Tuhan sudah menghendakinya, barang kali nanti kita akan menjadi satu keluarga bahagia." Ucap Tante Luci.
" Jujur saya berharap seperti itu Tante, tapi rasanya tidak mungkin karena kita jauh berbeda, tapi apapun yang Tuhan takdirkan kami akan menerimanya." Ujar Arkan.
" Maaf Tante kalau aku panjang lebar ngomongnya, kalau begitu aku mau menemui Kak Reya dulu Tan." Sambung Arkan.
" Tidak masalah, biarkan Arsen mengantarmu ke dalam." Ucap Tante Luci.
" Baiklah Tan terima kasih." Sahut Arkan.
Arsen mengantar Arkan ke kamarnya. Arkan melongo membuka mulutnya dan melebarkan matanya.
" Bang... Ini kamar tamu kan?" Tanya Arkan.
" Iya, memangnya kenapa?" Tanya Arsen.
" Kami bukan tamu Bang, kami pelayanmu jadi tempatkan kami di kamar pelayan saja." Ucap Arkan.
" Kamar pelayan penuh Arkan, lagian Kakakmu bukan pelayan rumah ini melainkan pelayan pribadiku." Ujar Arsen.
" Pe... Pelayan pribadi?" Tanya Arkan mengerutkan keningnya.
" Ya... Reya hanya melayani....
" Apa Kak Reya bekerja sebagai pelayan di atas ranjangmu?" Selidik Arkan sedikit curiga dengan ucapan Arsen yang terdengar ambigu.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja...
" Oh ya Tuhan.... Kenapa Kak Reya bisa melakukan hal serendah itu?" Pekik Arkan menarik kasar rambutnya.
" Melakukan apa Kan?" Tanya Reya masuk ke dalam sambil membawakan minuman untuk Arkan dan Arsen.
" Kenapa Kak Reya harus menjadi pelayan pribadi Bang Arsen yang melayani di atas ranjang." Ucap Arkan.
Prang......
Gelas yang di bawa Reya jatuh ke lantai dan belingnya berhamburan kemana mana.
" A.. Apa maksudmu mengatakan itu Kan? Apa Bang Arsen yang mengatakannya kepadamu?" Selidik Reya menatap tajam ke arah Arsen.
" Kenapa Kak Reya rela menjual harga diri Kakak hanya demi bisa membayarkan biaya operasiku Kak, harusnya biarkan aku mati saja dari pada Kakak berbuat dosa seperti itu, aku jadi merasa sangat bersalah kepada Kakak." Sahut Arkan.
" Siapa yang sudah mengatakan kebohongan ini padamu? Apa Bang Arsen yang mengatakannya?" Reya kembali bertanya kepada Arkan.
" Bu...
" Iya." Sahut Arkan memotong ucapan Arsen.
Arsen menepuk jidatnya pelan.
" Ya Tuhan kenapa bisa seperti ini? Arkan kau membuat masalah untukku." Ujar Arsen dalam hati.
Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiah buat author ya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...