Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Tanda Tangan


__ADS_3

Alvin mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang ternyata hari sudah pagi. Ia duduk bersandar pada headboard sambil memijat pelipisnya yang terasa nyeri.


" Awh... shhh... Kepalaku pusing sekali." Rintih Alvin.


" Bukankah semalam ada Are? Dimana dia? Apa aku hanya mimpi?" Gumam Alvin mengingat kejadian semalam.


" Iya aku ingat kalau ada Are di sini, apa dia sudah pulang dan membiarkan aku sendirian di sini? Are.... Apa segitu bencinya kamu sama aku?" Monolog Alvin.


Ceklek....


Pintu terbuka dari luar membuat Alvin menoleh ke arahnya. Alvin mengembangkan senyumnya menatap Are yang sedang berjalan menghampirinya sambil membawa nampan di tangannya.


" Ternyata kamu masih stay di sini." Batin Alvin.


" Kamu sudah bangun Mas? Gimana apa kepalamu sakit?" Tanya Are.


" Iya sa...


" Are." Sahut Are memotong ucapan Alvin.


" Are." Lirih Alvin lemas.


Alvin berpikir dengan adanya Are di sini menandakan jika Are sudah memaafkannya dan mau kembali bersamanya. Namun sepertinya dugaan Alvin salah.


" Aku membawakan air lemon untuk mengurangi efek minumanmu, tapi sebelum itu sebaiknya kamu makan dulu supaya perutmu tidak sakit." Ujar Are duduk di tepi ranjang.


" Aku mau makan tapi kamu suapi, kalau kamu tidak mau aku tidak akan makan." Ucap Alvin.


Are menghela nafasnya pelan. Ia tidak pernah menyangka jika pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya memiliki sikap manja, jauh dengan wajah yang Alvin tampakkan selama ini.


" Baiklah aku akan menyuapimu, yang terpenting sekarang kamu mau makan." Sahut Are.


Are mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut Alvin membuat hati Alvin sedikit merasakan kebahagiaan. Walaupun Ia tahu jika kebahagiaan ini hanya sesaat saja.


" Kamu juga makan donk sa.... Ar." Ucap Alvin yang hendak memanggil Are dengan sebutan sayang.


" Aku tadi udah makan, sekarang kamu habiskan saja ya." Sahut Are.


Alvin memakan makanannya hingga tandas. Nasi goreng suir ayam yang di lengkapi dengan telur ceplok di atasnya. Ia tidak menyangka jika masakan Are selezat ini.


" Kalau aku tahu masakannya selezat ini, dulu aku tidak akan menyianyiakan makanan buatannya, benar kata Bang Erald kalau Are pandai memasak." Gumam Alvin dalam hati.


" Sekarang tinggal minum air lemonnya, setelah itu istirahatlah Mas." Ujar Are memberikan segelas kecil air lemon buatannya. Alvin segera meminumnya.


" Masam Ar." Ucap Alvin.


" Ya iyalah kan namanya air lemon." Ujar Are.

__ADS_1


" Beh... Bener bener masam, nggak enak." Ucap Alvin.


" Yang penting khasiatnya, sekarang istirahat lagi aku mau pulang." Ucap Are.


" Duduklah sini! Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ujar Alvin menepuk ranjang di sisi kanannya.


" Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan juga sama kamu Mas, tapi karena melihat kondisimu sekarang aku mengurungkan niatku." Ujar Are duduk di tepi ranjang.


" Apa itu? Katakan saja sekarang aku tidak pa pa." Ujar Alvin menatap Are.


" Kamu duluan aja." Ujar Are.


" Kamu dulu donk, biar aku tahu kamu mau ngomong apa, entar keburu kamu lupa lagi." Sahut Alvin.


" Kau yakin?" Tanya Are.


" Yakin." Sahut Alvin menganggukkan kepalanya.


" Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, karena aku kamu jadi seperti ini." Ucap Are.


" Tidak masalah, semua ini murni kesalahanku bukan salahmu." Sahut Alvin.


" Sebelum kita berpisah aku ingin memintamu untuk tidak melakukan hal hal konyol seperti semalam lagi, hidup tidak akan berakhir hanya dengan perpisahan Mas, hidup masih terus berjalan untuk dan berjalanlah sesuai arah untuk mencapai kebahagiaan, jangan pernah putus asa hanya karena perpisahan kita, aku tidak mau perpisahan ini menjadi beban untukmu, ada kalanya pertemuan dan ada kalanya juga perpisahan." Ucap Are menatap Alvin.


" Aku ingin kau melanjutkan hidupmu walaupun tanpa aku, kita bisa sama sama hidup walau berada di jalan yang berbeda tujuan Mas, lupakan aku dan anggap saja aku hanya angin lalu yang melewati hatimu secara sepintas, carilah kebahagiaan untuk dirimu hingga kebahagiaan itu sendiri akan sepenuhnya menjadi milikmu." Sambung Are.


" Kau harus tetap optimis Mas, aku yakin kau akan mendapat kebahagiaan itu suatu hari nanti, sekali lagi aku minta maaf." Ujar Are.


" Jadi kau tetap pada keputusanmu? Kau akan tetap meninggalkan aku dan membuatku hidup sendiri?" Tanya Alvin.


" Iya Mas... Aku tetap pada keputusanku tapi jangan pernah kau merasa sendiri karena masih banyak orang orang yang menyayangimu." Sahut Are.


" Sekarang aku mohon tanda tangani surat perpisahan ini." Ucap Are mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya kepada Alvin.


" Kau bahkan sudah mempersiapkan semuanya." Ucap Alvin rersenyum sinis.


" Lebih cepat akan lebih baik Mas, tadi pengacaraku datang membawakan berkas ini, lagian mulai besok aku harus fokus pada perusahaan jadi aku tidak ada waktu untuk mengurus perpisahan ini." Sahut Are.


" Yah... Kau orang sibuk mana mau mengurusi hal yang tidak penting seperti ini tapi aku justru suka kalau kamu tidak ada waktu untuk mengurus perpisahan kita, dengan begitu kita akan menjadi pasangan selamanya." Ucap Alvin.


" Jangan berdebat Mas kita sudah membahas semua ini sebelumnya, segera tanda tangani surat itu agar aku bisa cepat kembali ke rumahku." Ujar Are.


Alvin membuka map itu, hati Alvin terasa sangat sakit kala melihat tanda tangan Are sudah berada di atas kertas perpisahan itu. Ia tidak menyangka jika akan kehilangan cintanya di saat cinta dalam hatinya bersemi dengan indahnya. Tak terasa air mata Alvin menetes membasahi pipinya.


" Jangan menangis Mas, kau tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, mungkin hanya sampai di sini jodoh kita, aku doakan semoga kau hidup bahagia dan menemukan jodoh terbaik untukmu, kau sudah membayar apa yang aku alami selama ini jadi kau berhak bahagia." Ucap Are.


Sebenarnya Are juga tidak tega melihat Alvin terpuruk seperti saat ini, namun Ia bisa apa jika hati dan cintanya tidak berpihak kepada Alvin.

__ADS_1


" Sejujurnya aku merasa sangat berat untuk melepasmu, tapi aku sadar jika semua ini terjadi akibat dari kesalahanku, sudah seharusnya aku yang menanggung semua ini, kau berhak bahagia bersama orang yang kau cintai." Ujar Alvin.


" Terima kasih Mas." Ucap Are.


" Tapi sebelum aku menandatangani surat ini, bolehkah aku meminta satu permintaan kepadamu Are?" Tanya Alvin menatap Are.


" Apa itu Mas?" Tanya Are.


" Berikan aku kebebasan untuk bertemu denganmu, aku ingin melupakanmu dengan pelan pelan, aku mohon bantu aku agar aku tidak merasa berat." Ujar Alvin.


" Maafkan aku Mas, aku akan segera pindah dari sini jadi aku tidak bisa menemuimu setiap waktu." Sahut Are.


" Pindah? Pindah kemana Are?" Tanya Alvin mengerutkan keningnya.


" Kamu tidak perlu tahu dimana aku pindah Mas, cukup akhiri semuanya sampai di sini dan aku berharap jika kita bertemu suatu saat nanti, kau sudah bisa menemukan penggantiku." Ujar Are.


" Tapi Are....


" Ku mohon hargai privasiku." Ucap Are.


" Baiklah Are." Sahut Alvin mengalah.


Dengan berat hati Alvin membubuhkan tanda tangannya di atas kertas gugatan cerai yang di berikan oleh Are. Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya. Harapan untuk mempertahankan dan mendapatkan Are kembali telah sirna. Ia tidak punya harapan dan tujuan hidup sama sekali. Ia bagai kehilangan nyawanya.


" Terima kasih Mas." Ucap Are mengambil surat perpisahan itu dari tangan Alvin.


" Aku pergi ya, jaga dirimu baik baik dan mulai saat ini kita bukan siapa siapa lagi, hiduplah dengan baik." Ucap Are melangkag keluar meninggalkan Alvin yang menangis sesegukan.


" Maafkan aku Mas... Maafkan aku jika aku harus menjadi wanita jahat seperti saat ini, aku tidak mampu bertahan di sampingmu karena hati ini tidak menginginkan dirimu lagi, semoga kau bahagia tanpa aku seperti yang terjadi padamu sebelumnya." Batin Are mengusap air matanya.


Are masuk ke dalam mobilnya, Ia melajukan mobil meninggalkan rumah Alvin.


Alvin yang melihatnya dari balkon kamarnya mengusap air matanya.


" Aku merasakan apa yang kamu rasakan saat kehilangan Bang Erald Ar... Jika kau sengaja melakukan semua ini, aku ucapkan selamat, kau berhasil membalas luka dalam hatimu kepadaku." Ucap Alvin.


*Ada yang sedih? Ada yang seneng? Entahlah kalau author rasanya nano nano


Tunggu bab pertemuan Are dan Erald ya!


Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat melanjutkan ceritanya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All*...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2