
Jenazah Alvin di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sedangkan Bella di gelandang ke kantor polisi oleh pihak yang berwajib. Ia terus meronta meminta untuk di lepaskan.
" Lepaskan aku, Are aku minta maaf padamu... Are bebaskan aku." Teriak Bella.
Are tidak peduli dengan teriakan Bella. Ia justru luruh ke lantai merasakan seluruh tubuhnya lemas seperti tanpa tulang melihat Alvin mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Are. Rasa bersalah muncul dalam hati Are tanpa permisi.
" Sayang." Ucap Erald duduk di sebelah Are.
" Mas... Ini semua salahku, jika saja aku tidak mengikuti permainan mereka pasti semua ini tidak akan terjadi, jika saja aku menghindari rencana mereka Alvin tidak akan meninggalkan kita Mas, maafkan aku... Maafkan aku hiks...." Ucap Are sambil terisak.
" Dengarkan aku!" Ucap Erald menangkup wajah Are.
" Jangan menyalahkan diri sendiri sayang, semua ini bukan kesalahanmu tapi kesalahan mereka berdua, seandainya mereka tidak merencanakan semua ini, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi kan? Dan semua kembali kepada takdir Tuhan sayang, jodoh dan maut hanya Tuhanlah yang tahu, kita hanya bisa berencana namun Tuhanlah yang menentukannya." Ucap Erald mengusap air mata Are.
" Aku tidak tega melihat Mami sangat terpukul atas kepergian Alvin Mas, aku juga tidak menyangka jika hari ini akan datang, dimana hari pernikahan kita merupakan hari yang sama dengan hari kepergian Alvin untuk selamanya." Ujar Are.
" Tidak perlu di ratapi sayang, ikhlaskan Alvin supaya dia tenang menghadap Tuhan." Ujar Erald.
" Iya Mas." Sahut Are menanggukkan kepalanya.
Mami Valen nampak berjalan menghampiri keduanya.
" Are, Erald, sekarang tanda tangani dokumen pernikahan kalian, dan pasangkan cincin serta kalung kepada Are Bang, pak penghulu sudah menunggu." Ucap Mami Valen tersenyum kepada mereka.
" Tapi Mi saat ini kita sedang berkabung, jadi tunda saja semua urusan pernikahan kami." Ujar Are.
" Selesaikan dulu acara kalian sayang, setelah itu kita kembali ke rumah utama untuk menyiapkan prosesi pemakaman Alvin." Ucap Mami Valen terlihat tegar dalam menghadapi duka yang menghampirinya.
" Aku sangat kagum kepadamu Mi, Mami benar benar wanita hebat yang patut menjadi panutan untuk kami, Mami nampak begitu tabah menghadapi semua ini, Mami mampu berlaku adil kepada kedua putramu tanpa mengesampingkan urusan salah satunya." Ucap Are menatap Mami Valen.
Ya... Mami Valen memang bersikap adil. Ia akan menyelesaikan acara pernikahan Erald terlebih dahulu setelah itu acara pemakaman Alvin. Ia tidak mau acara pernikahan yang di idam idamkan Erald menjadi berantakan karena kepergian Alvin. Itu tidak akan adil untuk Erald karena di sini Alvinlah yang bersalah.
Bahkan saat ini di rumah Erald sedang berlangsung acara resepsi pernikahan Erald dan Are. Mami Valen melarang siapapun untuk memberi kabar tentang kematian Alvin kepada keluarganya ataupun tamu undangan yang saat ini berada di rumah Erald. Mami Vaken akan mengumumkan kabar duka ini setelah acara Erald selesai.
" Terima kasih sayang, ayo cepat ke sana." Sahut Mami Valen menunjuk meja ijab yang telah tersedia.
" Iya Mi." Sahut Erlad.
Mami Valen berjalan di depan Erald dan Are.
" Andai saja kau tahu kerapuhan Mami Ar, kau tidak akan memuji Mami seperti itu, Mami sangat sedih kehilangan Alvin tapi Mami tidak mau merenggut kebahagiaan Erald, biarlah semua ini Mami yang menanggungnya sendiri, kau dan Erald harus tetap bahagia, Erald sudah lama menanti hari ini tiba, Mami tidak mau ada kesedihan di dalam hatinya walaupun Mami tahu jika di dalam hati Erald menyimpan kesedihan yang mendalam karena kepergian Alvin " Ujar Mami Valen dalam hatinya.
Acara penandatanganan akta nikah serta tukar cincin menandakan acara ijab qobul Erald dan Are terlaksana dengan sempurna. Keduanya sah menjadi pasangan suami istri secara hukum dan agama.
Setelah itu Mami Valen, Papi Nathan, Erald dan Are menuju kediaman Erald untuk menyapa tamu undangan yang saat ini sedang menanti kehadiran keduanya.
Dua puluh menit kemudian mobil mereka sampai i kediaman Erald dan Are. Kedua pengantin turun dari mobil di sambut meriah oleh para tamu undangan dan keluarga besar Ardiansyah. Mereka nampak bahagia seolah tidak terjadi apa apa. Banyak para tamu yang memberikan ucapan selamat kepada Erald dan Are. Apalagi kolega dan rekan bisnis Are dan Erald.
__ADS_1
" Selamat Tuan Erald dan Nyonya Aresha, semoga kalian berdua menjadi keluarga bahagia." Ucap Pak Soni salah satu rekan bisnis Erald.
" Terima kasih Tuan atas doa dan kehadiran Anda, silahkan nikmati acara dan hidangannya Tuan." Ucap Erald.
" Terima kasih Tuan." Sahut Pak Soni kembali ke mejanya.
Erald menggandeng tangan Are menaiki pelaminan. Erald menyita acara dengan langsung berfoto. Erald dan Are bergaya sesuai arahan sang kamerawan. Setelah selesai, Ia bergabung dengan keluarga besar Ardiansyah.
Nampak Oppa Farhan, Oma Nesha, Tante Cia, Tante Ria, Tante Luci, Veby, Fara sedang duduk di satu meja. Sedangkan para pria duduk di meja sebelahnya. Mereka nampak asyik mengobrol.
" Duduk sini sayang." Ucap Erald menepuk sofa di sebelahnya.
" iya Mas." Sahut Are duduk di samping Erald.
" Bang Erald, Kak Are kami ucapkan selamat untuk pernikahan kalian, semoga kalian berdua menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warohmah, dan segera di beri momongan." Ucap Vebby.
" Amin." Sahut semuanya.
" Selamat ya Bang, jangan lupa malam pertamanya harus mengesankan." Ucap Arsen anak Tante Luci.
" Yei... Lo mah pikirannya ke situ mulu." Cebik Vebby.
" Ya kan bener, pengantin baru pasti mikirin hal begituan Veb." Sahut Arsen.
" Sok tahu lu." Sahut Vebby.
" Hah." Gumam Erald melongo.
" Bener nggak kalau Abang saat ini lagi mikirin malam pertama Abang sama Kak Are?" Tanya Fara menatap Erald yang nampak menatap Are dengan malu malu.
" Enggak." Sahut Erald.
" Huuu.... Kelihatan bohongnya." Seru Vebby.
" Apa sih Veb, lo berisik banget bikin gue kalah aja." Gerutu Verdy yang masih asyik memainkan game online pada ponselnya.
" Lo nggak ada berubah berubahnya Ver, main game mulu dari kecil." Ujar Arsen.
" Berisik Kak." Sahut Verdy membuat Tante Cia geleng geleng melihat kelakuan putrana.
" Sudah sudah jangan pada ribut, sekarang mending nikmatin aja kopinya." Ujar Erald menyembunyikan kesedihannya.
" Sayang kamu mau minum kopi?" Tanya Erald menatap Are.
" Tidak Mas terima kasih." Sahut Are menundukkan kepalanya.
" Oma lihat lihat sejak kedatangan kalian berempat, sepertinya kalian sedang tidak baik baik saja, apa yang terjadi pada kalian Bang Nathan?" Tanya Oma Nesha menatap Papi Nathan.
__ADS_1
" E... E..." Ucap Papi Nathan gugup.
" Katakan saja Mas pada semuanya, lagian acaranya juga sudah selesai." Ucap Mami Valen.
" Baiklah sayang." Sahut Papi Nathan.
Papi Nathan menggandeng Mami Valen berjalan ke arah pembawa acara. Ia meminta microfon dan berdiri di atas pelaminan di dampingi oleh Mami Valen membuat semua orang menatap ke arahnya.
" Kami berdiri di sini selaku orang tua dari Erald dan Are mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada para tamu undangan yang telah memberikan doa restunya kepada anak anak kami, semoga anak anak kami selalu di berikan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat nanti." Ucap Papi Nathan.
" Amin." Ucap para tamu serempak.
" Selain kabar bahagia yang saya umumkan hari ini, saya juga ingin menyampaikan kabar duka yang menyelimuti keluarga saya saat ini." Ucap Papi Nathan memggenggam tangan Mami Valen.
Para tamu saling berbisik penasaran dengan kabar duka yang sedang di hadapi oleh keluarga Ardiansyah.
" Keluarga kami baru saja kehilangan putra kedua kami, Alvin Valentino Ardiansyah."
Jeduar.....
Ucapan Papi Nathan membuat keluarga besar Ardiansyah dan para tamu undangan syok mendengarnya. Mami Valen tak kuasa menahan tangisnya, air mata mengalir dengan derasnya.
" Alvin telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa saat lalu, kami sebagai orang tuanya ingin meminta maaf kepada kalian semua bila Alvin banyak salah, baik kesalahan yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja, kami mohon doanya semoga anak kami Alvin mendapatkan jalan yang terang, dan mendapatkan tempat terbaik di sisihnya." Ucap Papi Nathan mencoba tegar.
" Amin." Ucap para tamu.
Pembawa acara menjawab kabar yang di sampaikan oleh Papi Nathan.
" Untuk Tuan Nathan beserta keluarga besar Ardiansyah, kami mengucapkan bela sungkawa yang mendalam atas kepergian saudara Alvin, semoga kepergian beliau husnul khotimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, semoga untuk keluarga yang di tinggalkan mendapatkan kesabaran dan mendapat hikmah di balik musibah ini." Ucap pembawa acara.
" Terima kasih untuk semuanya, maaf untuk acara sampai di sini karena kami harus mempersiapkan prosesi pemakaman putra kami, sekali lagi mohon maaf dan terima kasih." Ucap Papi Nathan menggandeng tangan Mami Valen kembali kepada keluarganya.
Mami Valen menubruk tubuh Oma Nesha.
" Mami hiks.... Hiks... Alvin Mi..." Isak Mami Valen.
" Yang sabar sayang, ikhlaskan kepergiannya supaya dia bisa pergi dengan tenang." Ucap Oma Nesha mengelus punggung Mami Valen.
Tidak ada yang berani bertanya tentang sebab kematian Alvin, mereka akan menunggu Mami Valen ataupun Papi Nathan mengatakannya sendiri. Mereka menghargai privasi keluarga Nathan, begitulah didikan Oma Nesha selama ini. Mereka akan saling menguatkan satu sama lain, biasanya Mami Valen yang akan menguatkan mereka, tapi saat ini Mami Valen nampak rapuh atas kepergian Alvin yang telah meninggalkan mereka semua.
siapa yang mau takziah? Yuk bareng author...
Jangan lupa like komenr vote dan hadiahnya biar author semangat melanjutkan ceritanya.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC ...