
Setelah kejadian kemarin Alvin pergi entah kemana. Erald memajukan rencana pernikahannya esok hari. Saat ini Erald sedang mengebut kerjaannya supaya Ia bisa bersantai setelah pernikahan dadakan yang di buat olehnya.
Duduk di kursi kebesarannya dengan jari yang menari lihai di atas keyboard komputer, membuat Erald nampak berwibawa, matanya terus menatap ke depan mengumpulkan pundi pundi uang.
Tok tok
" Masuk." Ucap Erald.
Ceklek....
Nampak seorang wanita berjalan menghampirinya, Erald mendongak menatap wanita yang kini berdiri di hadapannya.
" Hai Erald, bagaimana kabarmu?" Tanya wanita itu.
" Bella, ngapain kamu ke sini?" Tanya Erald menatap Bella.
" Aku kangen sama kamu, kita sudah lama sekali tidak bertemu Rald." Sahut Bella.
" Untuk apa kau merindukanku? Kita tidak ada hubungan apa apa dan tidak semestinya kamu merindukan orang lain." Sahut Erald.
" Tapi aku masih mencintaimu." Sahut Bella.
" Itu urusanmu, sekarang pergilah! Aku sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu." Usir Erald membuat Bella geram.
" Aku baru saja sampai tapi kau sudah mengusirku? Biarkan aku di sini sebentar saja, aku tidak akan mengganggumu." Ujar Bella duduk di sofa.
" Sebentar saja, setelah itu silahkan kau pergi dari sini." Ucap Erald.
" Baiklah sebentar saja." Sahut Bella tersenyum smirk.
Erald melanjutkan pekerjaannya. Bella menatap segelas air minum di meja yang masih utuh dan tertutup rapat. Ia yakin jika air itu milik Erald, karena menurut penuturan Alvin, Erald tidak mau meletakkan minuman di meja kerjanya.
Sekitar sepuluh menit Erald meregangkan tubuhnya untuk mengendurkan otot ototnya. Bella menghampirinya dengan segelas air putih di tangannya.
" Minum dulu Rald biar fresh lagi." Ucap Bella menyodorkan gelasnya.
Tanpa berkata apa apa, Erald menerima gelas itu lalu meminumnya sampai tandas.
" Minumlah sampai habis setelah itu kau akan merasakan apa yang aku inginkan." Batin Bella tersenyum smirk.
Dan benar saja belum ada lima menit, kepala Erald terasa pusing.
" Awh." Keluh Erald menyentuh kepalanya.
" Kenapa Rald?" Tanya Bella.
" Tidak tahu Bel, tiba tiba kepalaku pusing." Ucap Erald.
" Lebih baik kamu istirahat dulu, mau aku bantu?" Tawar Erald.
" Tidak perlu aku bisa sendiri, sekarang kamu pergilah aku mau istirahat." Ucap Erald.
" Baiklah aku pergi dulu." Sahut Bella keluar ruangan Erald.
__ADS_1
Erald mencoba berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing menuju ruangan pribadinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan kepalanya.
...****************...
Are mencoba menghubungi Erald karena memang mereka ada janji untuk makan siang bersama, namun berkali kali Are mencoba nomer Erald tidak aktif.
" Kamu kemana sih Mas? Tumben tumbenan nomermu tidak aktif." Monolog Are.
" Aku samperin aja ke kantor Mas Er, aku bikin kejutan dengan kedatanganku ah." Sambung Are.
Are meninggalkan ruangannya menuju mobilnya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kantor Erald. Lima belas menit kemudian, Are sampai di parkiran kantor Erald.
Are turun dari mobil menuju lobby perusahaan. Di sana Ia di sambut dengan ramah oleh karyawan, mereka semua tahu jika Are calon istri bos mereka. Sesampainya di depan ruangan Erald, Are mendekati sekretaris Erald yang sedang duduk di mejanya.
" Siang Mbak." Sapa Are.
" Siang Nyonya, mau bertemu dengan Tuan Erald?" Tanya Rita sekretaris Erald.
" Iya Mbak, apa Mas Eraldnya ada di dalam?" Tanya Are.
Rita nampak cemas dan sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Are. Are curiga melihat gelagat Rita yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.
" Ada apa Mbak? Apa Mas Erald sedang ada tamu?" Selidik Are.
" E... I.. Iya Nyonya, Tuan Erald sedang ada tamu." Ucap Rita.
" Sejak kapan?" Tanya Are.
" Tamunya laki laki atau perempuan?" Tanya Are.
" Perempuan Nyonya." Sahut Rita.
" Baiklah terima kasih." Sahut Are.
Entah mengapa perasaan Are tidak karuan, Ia merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Are berjalan menuju pintu ruangan Erald.
Ceklek....
Are membuka pintunya, kepalanya melongok ke dalam namun tidak ada siapa siapa. Jantung Are berdebar dengan kencang. Perlahan Ia masuk ke dalam mencoba mencari keberadaan Erald.
" Ya Tuhan apa yang Mas Erald lakukan dengan wanita itu? Apa mungkin mereka melakukan hal yang..... Ah tidak tidak! Aku tidak boleh berpikiran negatif, aku harus percaya pada Mas Erald apapun yang terjadi nanti." Ujar Are dalam hatinya.
Are mendekati pintu ruangan pribadi Erald lalu membukanya dengan pelan.
Deg.....
Are melihat seorang wanita sedang memakai bajunya. Jantungnya berdebar sangat kencang menahan rasa sesak didadanya.
" Apa yang mereka lakukan? Apa Mas Erald mengkhianatiku? Ya Tuhan apa yang coba kau tunjukkan kepadaku?" Batin Are.
Tak lama setelah itu, pintu terbuka dari dalam menampakkan wanita sedikit cantik yang berdiri berhadapan dengan Are.
" Maaf siapa ya?" Tanya Bella menatap Are.
__ADS_1
" Aku Are, kalau kamu siapa?" Are balik bertanya.
" Aku Bella, pacarnya Erald." Ucap Bella.
Jeduarrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Are kaku tidak bisa di gerakkan.
" Pacar? Kamu pacarnya Mas Erald?" Tanya Are menatap Bella dengan penampilan yang sedikit acak acakkan.
Are tahu apa yang terjadi dengan keduanya. Ia memejamkan matanya menahan rasa sakit di dadanya.
" Iya, kalau kamu siapanya?" Tanya Bella.
" Aku teman dari sepupunya, Fara." Sahut Are.
" Baiklah aku pergi dulu, Erald sedang tidur karena kecapekan, mungkin sebentar lagi dia akan bangun, aku titip Erald ya kalau dia bangun bilang padanya kalau aku pulang dulu karena ada keperluan, dan bilang padanya." Ucap Bella menggantung ucapannya.
" Jika aku menyukai permainannya." Bisik Bella membuat Are mengepalkan tangannya.
Bella keluar dari ruangan Erald dengan senyuman mengembang di sudut bibirnya.
" Kau akan menjadi milikku seutuhnya Erald." Batin Bella.
Are masuk ke dalam kamar Erald. Ia menatap Erald yang memejamkan matanya di balik selimutnya. Hatinya terasa sakit dan matanya memanas kala melihat celana dan kemeja Erald berserakan di lantai. Tak terasa cairan bening yang Ia tahan sedari tadi tumpah begitu saja. Dadanya terasa sesak melihat pengkhianatan yang Erald lakukan.
" Kamu tega melakukan semua ini Mas, kamu mengkhianatiku satu hari sebelum pernikahan kita, kau menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya, jika kau memiliki kekasih kenapa kau ingin menikahiku? Kenapa kau melakukan semua ini Mas? Kenapa tidak ada yang tukus mencintaiku? Hiks...." Isak Are.
Tak kuasa menahan sesak di dadanya, Are keluar dari ruangan Erals. Rita mengerutkan keningnya saat melihat Are yang sedang menangis.
" Nyonya anda kenapa?" Tanya Rita menghampiri Are.
" Aku tidak pa pa Mbak." Sahut Are mengusap air matanya.
" Jangan berbohong Nyonya, saya tahu jika anda sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, apa Tuan dan tamunya tadi menyakiti anda?" Tanya Rita yang di balas tatapan tajam oleh Are.
" Maaf Nyonya jika saya lancang." Ucap Rita.
" Hal ini biasa terjadi di saat pria tidak puas dengan satu wanita." Sahut Are meninggalkan Rita.
Are terus berjalan meninggalkan kantor Erald menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil, Ia berdiam di sana meratapi nasib buruk yang selalu menghampirinya.
" Aku tidak tahu apakah aku harus percaya kepadamu atau percaya pada apa yang aku lihat, apa yang sebenarnya terjadi padamu Mas? Kenapa kau melakukan semua ini? Apa salahku?" Monolog Are.
Bantu jawab Erald kenapa nih?
Jangan lupa like koment dan votenya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1