Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Menyelamatkanmu


__ADS_3

Brak.....


Are menabrak pintu balkon dengan kasar membuat Alvin menoleh ke arahnya.


" Are." Gumam Alvin tak percaya.


" Apa yang kau lakukan Mas? Turun sekarang juga! Jangan konyol Mas." Ucap Alvin.


" Aku ingin pergi jauh darimu sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, jangan mencegahku." Ujar Alvin.


" Aku tidak mengharapkan ini darimu Mas, kau sudah berjanji akan melepasku, jadi tepati janji itu dan jangan pernah kamu melakukan hal konyol seperti ini, belajarlah jadi pria yang bertanggung jawab dan dapat di percaya." Ucap Are.


" Bagaimana aku bisa hidup tanpamu Are." Ucap Alvin lirih.


" Kau bisa hidup dengan baik tanpaku selama ini Mas, jangan memikirkan dirimu sendiri! Pikirkan bagaimana orang orang menyayangimu, Mami, Papi dan Kak Erald, mereka pasti akan sangat kehilanganmu." Ujar Are.


" Sekarang turunlah dari sana atau aku tidak akan peduli lagi kepadamu, terserah kau mau apa, kau mau lompat? Lompatlah aku tidak akan menahanmu." Ucap Are balik badan.


" Aku turun." Ucap Alvin membuat Are menyembunyikan senyumnya.


" Turunlah!" Sahut Are.


Alvin turun dari pembatas balkon. Ia langsung menubruk tubuh Are.


Brugh...


Merasa tubuh Alvin melemah, Are segera menopang tubuh Alvin.


" Mas sadarlah." Ujar Are namun tidak ada sahutan.


" Hah dia pingsan." Monolog Are.


Dengan susah payah Are membawa Alvin ke ranjang. Ia merebahkan tubuh Alvin dengan pelan.


" Kasihan sekali kamu Mas, tapi maaf hatiku tidak terketuk sedikitpun untuk menerimamu kembali, luka yang aku rasakan akibat perbuatanmu begitu mendalam, pada dasarnya rasa itu sudah tergantikan oleh orang lain, sampai saat ini aku masih mencintai Kak Erald, aku tidak bisa melupakannya, dan aku yakin jika Kak Erald juga memiliki perasaan yang sama denganku, untuk itu aku ingin memperjuangkan cintaku, jika kita memang berjodoh Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali." Ucap Are menatap wajah Alvin yang terlihat sembab.


Are menerawang kejadian beberapa jam lalu.


Flashback On


Are baru saja menyelesaikan ritual sebelum tidurnya, apalagi jika bukan memakai cream malam pada wajahnya. Saat Are hendak naik ke atas ranjang, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ia melihat id pemanggil yang ternyata Erald.


" Kenapa Kak Erald meneleponku hingga tujuh kali? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Gumam Are heran pasalnya ada panggilan tak terjawab dari Erald sebanyak enam kali.


Are segera mengangkat panggilannya takut ada sesuatu yang terjadi dengan Erald ataupun keluarganya.


" Ha... Halo." Ucap Are gugup.


" Alhamdulillah Are akhirnya kamu menjawabnya." Ujar Erald.

__ADS_1


" Iya, maaf ada apa ya Kak?" Tanya Are.


" Are dimana Alvin? Kenapa Kakak meneleponnya hingga sepuluh kali dia tidak menjawabnya?" Tanya Erald.


" Mas Alvin?" Tanya Are memastikan.


" Iya Al... Suamimu, dimana dia? Apa kamu tidak tahu dia ada dimana?" Tanya Erald.


" E... A... Aku....


" Kalian baik baik saja kan? Kalian tidak sedang dalam masalah kan? Alvin bilang hubungan kalian semakin membaik." Ujar Erald.


" Oh ternyata Mas Al tidak memberitahu Kak Erald tentang hubungan kami, baguslah kalau begitu, dengan begitu aku bisa memberinya kejutan saat bertemu nanti." Batin Are.


" Re..." Panggil Erald.


" Ah iya Kak, aku tidak tahu dimana Mas Al, soalnya kebetulan hari ini aku sedang mengunjungi ibuku di rumah." Sahut Are.


" Kamu di rumahmu?" Tanya Erald memastikan.


" Iya Kak." Sahut Are.


" Kamu yakin tidak ada masalah dengan kalian berdua?" Selidik Erald.


" Tidak Kak." Kilah Are.


" Are Kakak berharap kamu tidak sedang berbohong karena Kakak tahu apa yang bisa di lakukan Alvin jika dia dalam masalah." Ujar Erald.


" Dia pasti minum minum di balkon kamar merenungi masalahnya, dan yang lebih parah lagi dia bisa berbuat nekat Re, apalagi jika dia sudah tidak kuat berpikir." Ujar Erald membuat hati Are sedikit cemas.


" Kakak tenang saja tidak akan terjadi apa apa karena mang kami baik baik saja." Sahut Are.


" Baiklah kalau begitu Kakak tutup dulu ya, Kakak mau mencoba menghubungi Alvin lagi." Ujar Erald.


" Iya Kak." Sahut Are mematikan sambungan teleponnya.


Are mencoba menghubungi nomer Alvin namun tidak di angkat. Tidak mau sampai terjadi sesuatu yang fatal kepada Alvin, Are segera memakai jaketnya lalu mengambil kunci mobilnya.


Are melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Alvin. Rumah yang baru pagi tadi Ia tinggalkan. Sesampainya di sana Are segera turun dari mobil lalu menekan bel yang ada pada pintu.


Ting tong...


Tidak ada tanda tanda orang membuka pintu dari dalam.


" Apa Mas Al pergi ya." Gumam Are.


Are mencoba memutar handle pintunya yang ternyata tidak di kunci.


" Tidak di kunci, itu artinya Mas Al ada di rumah." Monolog Are masuk ke dalam.

__ADS_1


Are berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamarnya Ia membuka pintunya.


Ceklek.....


Are melongokkan kepalanya ke dalam. Samar samar Ia melihat bayangan Alvin yang sedang berdiri di pembatas balkon sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa berpikir panjang, Are segera masuk kedalam karena kurang hati hati Are menabrak pintu balkon.


Flashback off


Drt.... Drt....


Ponsel Are berdering, ternyata Erald meneleponnya lagi.


" Halo Kak." Sapa Are setelah mengangkat panggilannya.


" Are kamu sudah tahu dimana Alvin? Kakak telepon Mami katanya dia tidak ada di sana dan Mami tidak tahu Alvin ada dimana." Ujar Erald mengkhawatirkan adik kesayangannya.


" Kamu begitu menyayangi Mas Alvin Kak, itu sebabnya kamu memilih pergi demi kebahagiaan Mas Alvin tanpa memikirkan kebahagiaanmu sendiri." Ujar Are dalam hati.


" Re kamu kenapa?" Tanya Erald menyadarkan lamunan Are.


" Ah iya Kak maaf, aku barusan pulang ke rumah untuk melihat Mas Al, dan ternyata Mas Al nya lagi tidur Kak, makanya dia tidak menjawab telepon dari Kakak, sepertinya ponselnya juga di silent Kak." Ujar Are.


" Oh pantesan, Alhamdulillah kalau Alvin baik baik saja." Sahut Erald.


" Iya Kak." Sahut Are.


" Gimana kabarmu Re? Kamu baik baik saja kan?" Tanya Erald.


" Bagaimana aku bisa baik baik saja jika separuh jiwaku pergi dariku Kak." Sahut Are.


" Are... Kakak mohon lupakan semua yang pernah kamu rasakan kepada Kakak, itu perasaan yang tidak pantas Are, aku Kakak iparmu dan kau adik iparku, aku menyayangimu sebagai adik perempuanku." Ujar Erald.


" Benarkah? Benarkah kau menyayangiku hanya sebagai adik iparmu? Apakah tidak ada alasan yang lain?" Selidik Are.


" Tidak ada Are, hanya itu." Sahut Erald.


" Tapi kenapa aku merasa kalau kamu juga mencintaiku Kak, kenapa kamu lakukan ini padaku? Apakah salah jika aku mencintaimu? Apakah salah jika hati ini memilihmu untuk menjadi pemiliknya? Apakah rasa ini adalah sebuah kesalahan?" Tanya Are meneteskan air matanya.


" Salah Are... Tidak seharusnya kamu menyimpan perasaan ini untuk Kakak, sebenarnya Kakak sudah memiliki kekasih Are dan tahun depan Kakak akan menikahinya." Ucap Erald membuat hati Are sakit seperti tersayat sembilu.


" Aku tunggu undangannya Kak." Ucap Are mematikan sambungan teleponnya.


" Kau bisa saja mengatakan kebohongan sebanyak yang kau mau kepadaku Kak, tapi aku sama sekali tidak percaya, kita buktikan wanita mana yang kau cintai, tunggu aku sebentar lagi, kau akan suka dengan kejutan yang akan aku berikan kepadamu." Monolog Are mengusap air matanya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author makin semangat nulisnya...


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2