
Siang harinya Arsen kembali ke kamarnya dengan membawa bukti di tangannya. Ia menghampiri Reya yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya.
Arsen naik ke atas ranjang ikut duduk bersandar di samping Reya.
" Sayang aku minta maaf karena sudah berkata kasar sama kamu." Ucap Arsen merangkul pundak Reya.
Reya tidak bergeming, Ia tetap fokus pada ponselnya. Ia masih merasa kesal dengan prasangka buruk yang bersarang di dalam pikirannya.
" Sayang kok nggak di balas sih ucapan maafku." Ujar Arsen mencium pucuk kepala Reya.
" Kamu marah ya sama aku? Jangan marah ya, maafin aku, aku tidak bermaksud memarahimu ataupun berkata kasar sama kamu sayang, aku hanya kesal aja sama tuduhan kamu dan alasan utamanya adalah karena aku tidak mau kehilanganmu." Ucap Arsen.
" Jika semua ini hanya sandiwara, hentikan saja Mas! Aku tidak mau semakin jauh terlibat dalam permainanmu." Ucap Reya.
" Apa maksudmu sayang? Aku sedang tidak bersandiwara, aku benar benar minta maaf padamu, bukankah seharusnya kau juga meminta maaf padaku karena kau sudah salah menuduhku." Ujar Arsen.
" Kalau kamu tidak percaya aku membawa bukti jika aku tidak bersalah, ini lihatlah." Sambung Arsen menunjukkan sebuah flashdisk kepada Reya.
" Aku tidak membutuhkan bukti apa apa darimu lagi, aku sudah tahu jika bukan kamu pelakunya, siapa gadis itu?" Tanya Reya menatap Arsen dingin.
" Gadis? Gadis yang mana?" Tanya Arsen mengerutkan keningnya.
" Gadis yang menabrak adikku." Sahut Reya.
" Apa dia kekasihmu? Apa kau melakukan semua ini demi menyelamatkan dia supaya aku tidak menuntutnya ke penjara? Kamu membantuku lalu menikahiku demi melindunginya kan, apa pertemuan kita dari awal sampai saat ini adalah rencanamu untuk melindungi kekasihmu itu?" Tanya Reya dengan nada tinggi sambil menarik kerah leher Arsen.
" Cukup Reya." Bentak Arsen membuat Reya berjingkrak kaget menjauhkan tangannya.
" Tuduhan apa lagi ini? Setelah kau menuduhku menabrak adikmu sekarang kau menuduhkan melakukan hal serendah itu? Aku tidak sepicik itu Reya... Untuk apa aku menikahimu jika aku tidak mencintaimu, jika seperti yang kau tuduhkan, aku akan mendatangimu dan menawarkan kompensasi, aku tidak perlu menikahimu hanya demi menutupi kesalahanku. Jangan lupa Reya kalau aku berasal dari keluarga terhormat, aku tidak akan melakukan hal yang membuat nama baik keluargaku hancur." Sahut Arsen terpancing emosi.
Reya menatap Arsen dengan mata nanar. Entah mengapa rasanya emosinya ingin meledak ledak. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
" Ya kau benar, kau berasal dari keluarga terpandang, kau tidak mungkin melakukan hal serendah itu, kau seorang malaikat yang telah menyelamatkan dan mengangkat derajat manusia rendah sepertiku, maaf.... Maafkan aku, aku yang salah menilaimu." Ucap Reya mengusap air matanya.
" Sayang bukan itu maksudku, maafkan aku." Ucap Arsen menyentuh pundak Reya.
" Aku tahu jelas apa maksudmu." Sahut Reya menepis tangan Arsen.
Reya keluar kamarnya menuju kamar adiknya. Arsen menghela nafasnya dalam dalam. Tiba tiba Ia teringat sesuatu.
" Ah sial! Aku lupa kalau Reya sedang pms, pantas saja emosinya sangat labil begitu, dan kenapa juga aku harus ikut terpancing emosi." Ucap Arsen menarik kasar rambutnya.
" Aku akan berbicara dengan Reya kalau dia sudah tenang nanti." Ujar Arsen duduk di tepi ranjang.
Arsen merebahkan tubuhnya. Ia menutup matanya dengan lengannya. Tak terasa Ia merasuk ke dalam alam mimpi.
...----------------...
Arsen membuka matanya, tak terasa hari sudah sore. Ia segera mandi lalu turun ke bawah.
" Ma." Panggil Arsen saat Mamanya sedang menyirami tanaman di depan rumah.
" Iya, kenapa sayang?" Tanya Mama Luci.
" Apa Mama melihat Reya?" Tanya Arsen.
__ADS_1
" Reya pergi sama Arkan." Sahut Mamanya.
" Apa?" Pekik Arsen cemas.
" Mereka pergi kemana Ma?" Tanya Arsen.
" Katanya sih mereka mau jalan jalan, tapi entah kenapa sampai sekarang mereka belum juga pulang." Ujar Mama Luci.
" Aku harus mencari Ma." Ucap Arsen.
" Apa masalah kalian belum selesai?" Tanya Mama Luci.
" Belum Ma, aku malah membuat semuanya menjadi tambah kacau." Sahut Arsen.
" Selesaikan segera." Ucap Mama Luci.
" Iya Ma." Sahut Arsen.
Arsen berjalan keluar halaman rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari Reya dan Arkan.
" Kemana mereka? Apa mungkin mereka di taman? Aku akan coba mencari ke sana." Monolog Arsen.
Arsen berjalan menuju taman yang tak jauh dari rumahnya. Ia mencari Reya di kerumunan orang orang yang sedang bermain di sana sampai pandangannya tertuju pada sesosok gadis cantik yang sudah mencuri hatinya. Ia segera menghampirinya.
" Sayang." Panggil Arsen.
Reya menoleh ke belakang.
" Mas." Ucap Reya.
" Kenalkan dia suamiku, namanya Mas Arsen dan Mas Arsen kenalkan dia temanku namanya Riko." Ucap Reya.
" Arsen." Ucap Arsen mengulurkan tangannya.
" Riko." Sahut Riko membalas uluran tangan Arsen.
" Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan seorang pengusaha besar seperti Tuan Arsenio, pantas saja kau meninggalkan aku begitu saja, secara aku kalah telak jika di bandingkan dia." Ucap Riko melirik Arsen.
" Reya bukan wanita yang gila harta Bung, dia memilihku karena dia mencintaiku bukan karena aku kaya." Sahut Arsen.
Reya tersenyum mendengar ucapan Arsen.
" Apa kau yakin Reya mencintaimu? Atau Reya menerimamu karena ingin balas budi kepadamu?" Tanya Riko.
Deg...
Arsen menatap Reya seketika dengan tatapan menyelidik.
" Jaga ucapanmu Riko! Mas Arsen ikhlas membantuku dan dia menikahiku karena dia mencintaiku." Ucap Reya.
Reya menggandeng lengan Arsen.
" Kami saling mencintai, ingat itu." Tekan Reya menatap Riko.
" Ayo Mas kita pulang." Ajak Reya menggandeng tangan Arsen.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Arsen.
Keduanya berjalan meninggalkan taman.
" Sayang... Ucapan Riko tadi mengusik hatiku." Ucap Arsen membuat Reya menghentikan langkahnya.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Reya melepas genggamannya.
" Apa kau menerimaku karena kau merasa berhutang budi padaku?" Tanya Arsen.
" Kau meragukan cintaku? Kau membuat masalah lagi denganku? Padahal aku sudah melupakan semuanya tapi kau mengingatkan aku lagi, aku malas sama kamu Mas." Ucap Reya berjalan meninggalkan Arsen.
" Sayang tunggu!" Panggil Arsen mengejar Reya.
Reya berjalan cepat menghindari Arsen.
" Sayang tunggu!" Arsen mencekal tangan Reya.
" Apa sih Mas." Ucap Reya menepis tangan Arsen.
" Aku minta maaf... Aku minta maaf sayang." Ucap Arsen menggenggam tangan Reya.
" Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah, aku minta maaf ya." Sambung Arsen.
Reya menatap Arsen begitupun sebaliknya.
" Mas mohon maaf kan Mas ya, maafkan semua ucapan Mas hmm." Ujar Arsen mengelus pipi Reya.
" Aku juga minta maaf Mas." Sahut Reya.
" Aku memaafkanmu sayang." Ucap Arsen memeluk Reya.
" Kita selesaikan masalah kita dengan baik baik ya, jangan ada lagi prasangka buruk di antara kita." Ujar Arsen.
" Iya Mas." Sahut Reya melepas pelukannya.
Arsen menggandeng tangan Reya melanjutkan langkahnya.
" Perlu kamu ketahui sayang, tidak ada wanita yang membuatku tertarik kepadanya, hanya kamu yang mampu mencuri hatiku." Ucap Arsen.
" Masa'?" Canda Reya.
" Iya sayang... Tanya aja sama Mama, dari dulu aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya wanita, tapi saat pertama kali aku melihatmu, jantungku rasanya berdetak tak karuan, ada sesuatu yang mengusik hatiku, entah mengapa rasanya aku ingin selalu melindungimu, semakin aku memikirkanmu semakin aku ingin memilikimu dan aku menyimpulkan jika itu adalah cinta." Ucap Arsen.
" Aku mencintaimu Reya Arsenio." Ucap Arsen.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Reya.
Keduanya berjalan memasuki halaman rumah dengan hati yang tenang. Reya yakin jika masalah ini pasti akan terselesaikan dengan baik.
Jangan lupa like koment vote daan hadiahnya ya...
Terima kasih atas suport yang telah readers berikan kepada author semoga sehat selalu..
Miss U All...
__ADS_1
TBC...