
Setelah berpamitan kepada Juna dan Ghea, Erald dan Are pulang ke rumah Mami Valen. Mereka di sambut senang oleh Mami Valen dan Papi Nathan.
" Sayang kalian sudah pulang? Kemana saja kalian pergi tadi malam hah? Mami sangat mengkhawatirkan keadaan kalian berdua, Mami takut terjadi apa apa dengan kalian." Ucap Mami Valen.
" Kami pulang ke rumah Mi." Sahut Erald.
" Kenapa tidak mengabari Mami? Dan ponsel kalian tidak ada yang aktif sama sekali." Ujar Mami Valen.
" Maaf Mi ponsel kami mati karena lowbat." Sahut Are.
" Kalian ini membuat Mamimu cemas saja." Ujar Papi Nathan.
" Sejak Mara mengabarkan jika kalian pergi karena bertengkar, Mamimu sangat gelisah dan bingung, Mamimu menyuruh Papi mencari kalian." Sambung Papi Nathan.
" Maaf Mi Pi, kami telah membuat kalian khawatir." Ucap Are..
" Papi sama Mami kapan pulangnya? Sepertinya semalam waktu aku pulang rumah sepi." Ujar Erald.
" Kami pulang tadi pagi." Sahut Papi Nathan.
" Sekarang kalian mandilah dulu, lalu sarapan." Ujar Mami Valen.
" Kami sudah makan Mi tadi, kami mau mandi saja." Sahut Erald.
" Baiklah." Sahut Mami Valen.
Erald menggandeng tangan Are. Saat di tangga keduanya berpapasan dengan Mara.
" Are kamu sudah pulang?" Tanya Mara sambil tersenyum.
" Mas Erald yang memaksaku pulang, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan kepadaku nanti." Sahut Are melirik Erald.
Mara nampak tersenyum dengan jawaban Are.
" Tuan Erald, saya mohon jangan menyalahkan sahabat saya, jika Are salah maka maafkanlah dia." Ucap Mara.
" Kau tidak perlu khawatir." Sahut Erald menggandeng tangan Are masuk ke dalam kamarnya. Erald menutup pintunya.
" Kau lihat sorot matanya Mas?" Tanya Are duduk di tepi ranjang.
" Iya." Sahut Erald.
" Aku semakin yakin jika dia memang punya tujuan lain datang kemari." Ujar Are.
" Mas juga berpikiran seperti itu." Sahut Erald.
" Kita harus berbuat sesuatu sebelum Mara berbuat yang lain dan berhasil memisahkan kita." Ujar Are
" Mas tidak akan membiarkan itu terjadi, dan kamu tenang saja biarkan Mas yang melakukannya." Sahut Erald menyelipkan rambut Are ke telinga.
" Iya Mas yang penting kita harus tetap hati hati dengannya." Sahut Are.
" Sekarang ayo kita mandi dulu, soal itu kita pikirkan nanti saja." Ujar Erald.
" Aku duluan yang mandi." Ucap Are.
" Bareng donk." Sahut Erald menggendong Are ala brydal style menuju kamar mandi.
" Mas." Pekik Are.
" Apa sayang?" Tanya Erald menatap Are.
" Turunin! Aku bisa berjalan sendiri." Ujar Are.
" Udah sampai sayang." Sahut Erald menurunkan Are di dekat bath up.
__ADS_1
" Aku nggak mau mandi bareng Mas, kamu keluar gih." Ucap Are.
" Nggak mau, Mas mau mandi bareng sama kamu." Sahut Erald.
" Tapi mandi ya, nggak usah macam macam." Ucap Are.
" Nggak janji." Sahut Erald.
Are menghela nafasnya mendengar jawaban dari Erald. Alamat pegal semua badan Are. Dan benar dugaan Are, Erald melakukannya hingga dua jam lamanya membuat tulang tulang Are terasa seperti mau copot semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul sebelas malam Are merasa haus, Ia turun ke bawah menuju dapur. Saat melewati ruang tamu, Are melihat pintu yang terbuka. Ia penasaran siapa yang keluar malam malam. Are berjalan perlahan mendekati pintu, samar samar Ia mendengar seseorang berbicara. Sepertinya melalui sambungan telepon.
" Mara." Gumam Are mengenal jelas suara itu.
" Aku sudah menjebak mereka dan mereka sempat bertengkar, tapi sepertinya aku gagal karena mereka pulang bersama dan bersikap seolah semuanya baik baik saja." Ucap Mara kepada seseorang di sebrang sana.
........
" Aku akan melakukannya besok pagi, aku akan memastikan jika Are tidak akan selamat dengan begitu balas dendam kita akan terwujud." Sahut Mara.
.....
" Kenapa tidak kau lakukan sekarang saja." Ucap Are membuat Mara menoleh ke belakang.
" Are." Gumam Mara menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Kenapa? Kau kaget? Aku sudah tahu semua yang kau lakukan padaku Mara, aku tidak menyangka kau tega melakukan itu kepadaku, kau berencana menghancurkan keluargaku, memangnya apa kesalahanku padamu?" Tanya Are menatap tajam ke arah Mara.
" Kau salah paham Are." Ucap Mara mendekati Are.
" Jangan mendekat! Lebih baik kau segera pergi dari sini karena aku tidak sudi melihat wajahmu lagi." Ucap Are masuk ke rumah.
Bugh...
" Awh." Pekik Are memegang tengkuknya.
Tiba tiba pandangannya terasa gelap lalu...
Brugh...
Tubuh Are ambruk ke lantai. Melihat itu Mara segera menyeret tubuh Are menuju mobil.
Di dalam kamar, seperti ada yang membuat Erald kager, Ia mengerjapkan matanya lalu mengedarkan pandangan mencari Are.
" Sayang." Panggil Erald.
Erald turun dari ranjang mencari Are keluar setelah Ia tidak mendapat sahutan dari Are.
" Kemana Are? Apa dia pergi ke dapur ya?" Gumam Erald menuruni anak tangga.
Erald menghentikan langkahnya ketika melihat pintu terbuka.
" Bi Nadia lupa mengunci pintu kali ya." Ujar Erald hendak menutup pintunya, karena minimnya penerangan tiba tiba kaki Erald menginjak sesuatu.
" Vas bunga? Kenapa Vas bunganya bisa pecah?" Gumam Erald memegang pecahan vas bunga.
" Darah? Darah siapa ini?" Ucap Erald.
Brummm.....
Erald menoleh keluar saat mendengar suara mobil. Ia segera berlari setelah melihat jika mobil Mami Valen yang keluar gerbang.
" Are... Mara... Ah sial." Umpat Erald melihat dua bayangan di dalam mobil.
__ADS_1
Erald berlari ke dalam garasi untuk mengambil mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya dengan kencang mengejar mobil Mara, namun Ia kehilangan jejaknya.
" Ah sial sial sial." Umpat Erald memukul stir mobilnya.
" Mara kau membawa Are kemana? Awas saja jika sampai aku menemukanmu, aku akan membunuhmu." Geram Erald.
Erald kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Ia akan meminta bantuan Mami Valen untuk menemukan Are.
Sesampainya di rumah, Erald segera menuju kamar Mami Valen.
Tok tok tok
" Mami...." Panggil Erald mengetuk pintu kamar Mami Valen.
" Mami." Panggil Erald lebih keras.
Ceklek...
" Ada apa Er? Mami masih mengantuk." Ucap Mami Valen mengucek mata.
" Mara membawa Are pergi Mi." Ucap Erald.
" Apa? Mara menculik Are maksudmu?" Tanya Mami Valen menatap Erald.
" Iya Mi, sepertinya Are terluka karena aku melihat darah di lantai." Sahut Erald.
" Apa Mara membawa mobil?" Tanya Mami Valen.
" Iya Mi, Mara membawa Lamborghini milik Mami." Sahut Erald.
" Kau hubungi Om Irvan, suruh Om Irvan melacak keberadaan mobil Mami itu, Mami akan membangunkan Papi dulu." Ujar Mami Valen.
" Iya Mi." Sahut Erald kembali ke kamarnya.
" Sayang semoga kamu baik baik saja." Monolog Erald.
Erald segera menelepon Om Irvan untuk meminta bantuannya. Lima menit kemudian Om Irvan mengirim Sharelok dimana Are berada.
" Gedung tua di jalan xx." Gumam Erald.
Erald segera menemui Mami Valen di dalam kamarnya.
" Gimana sayang? Apa kamu sudah tahu dimana Are?" Tanya Mami Valen.
" Sudah Mi, Om Irvan sudah mengirim lokasinya." Sahut Erald.
" Ya sudah sekarang kita harus pergi ke sana." Ucap Papi Nathan.
" Mami akan menghubungi anak buah Mami untuk menjaga kita di sana." Ujar Mami Valen.
" Iya Mi." Sahut Erald.
Setelah menghubungi anak buahnya, mereka menuju mobil. Erald melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia ingin segera menyelamatkan Are. Ia tidak mau terjadi apa apa dengan istri tercintanya.
" Bersabarlah sayang, Mas akan datang menyelamatkanmu, semoga kau baik baik saja." Ucap Erald dalam hati sambil terus fokus menyetir.
Kira kira Are baik baik saja nggak nih?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya donk biar author makin semangat...
Terima kasih untuk reades yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1