
Are dan Erald duduk berdampingan, sedangkan Ghea, Fara dan Juna duduk di kursi depannya. Fara ingin mencoba dekat dengan Ghea sebelum mendekati Papanya.
" Ghea mau Aunti suapi nggak?" Tanya Fara menatap Ghea yang kebetulan duduk di kursi tengah antara Fara dan Juna.
" Terima kasih Aunti, tapi Ghea mau makan sendiri." Sahut Ghea tersenyum manis.
" Wah Ghea pintar ya." Ujar Fara.
" Anak Papa harus pintar Aunti." Sahut Ghea meneruskan makannya.
Fara melirik Juna yang kebetulan Juna juga sedang menatapnya. Fara tersenyum manis kepada Juna tapi Juna membuang mukanya.
" Mahal amat senyumannya." Batin Fara.
" Sayang Mas suapi a'." Ucap Erald menyodorkan potongan steak ke mulut Are. Are menerimanya sambil tersenyum.
" Ckk kalian bikin iri saja." Decak Fara kesal.
" Kalau iri makanya cari calon suami, padahal Aunti sering kenalin kamu sama anak teman temannya." Ujar Erald.
" Belum ada yang cocok Bang." Sahut Fara.
" Kamunya terlalu pilih pilih, entar kalau nggak laku baru tahu rasa." Ucap Erald.
" Cariin donk Bang." Ucap Fara.
" Lhah ngapain nyari kalau di depan mata ada." Sahut Are.
Fara dan Juna saling melempar pandangannya. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap.
Deg... Deg....
Jantung Fara berdetak kencang dari biasanya. Ada desiran aneh yang merambat dalam hatinya. Juna memutus pandangannya lebih dulu.
Fara menundukkan kepalanya sambil menghela nafasnya pelan melihat sikap Juna.
" Sepertinya aku harus lebih sabar dan berusaha keras meluluhkan hatinya." Ujar Fara dalam hatinya.
Mereka makan dengan khidmat. Sampai seseorang menghampiri Are.
" Aresha." Panggil wanita berambut pendek membuat Are menatap ke arahnya.
" Mara." Gumam Are.
" Ah Are.... Aku senang banget bisa bertemu denganmu." Ucap Mara memeluk Are yang sedang duduk.
Tamara adalah teman Are sewaktu kecil saat di kampung neneknya. Mereka sudah lama tidak bertemu karena sejak masuk sekolah menengah atas, Are pindah ke ibukota.
" Kamu kok bisa sampai sini, kamu kerja di sini?" Tanya Are menatap Mara.
" Justru aku ingin mencari pekerjaan di sini Are, bisakah kau membantuku mencarikan pekerjaan untukku?" Tanya Mara menatap Are.
Are menoleh ke arah Erald dan Juna secara bergantian. Lalu Ia kembali menatap Mara.
" Memangnya kamu mau kerja apa?" Tanya Are.
" Aku mau bekerja apa saja asalkan halal Ar." Sahut Mara.
" Atau jadi asistent rumahmu juga aku mau." Sambung Mara menatap Are.
__ADS_1
" Maaf Ra, aku dan suamiku tidak membutuhkan jasa art, tapi coba nanti aku tanya Mami mertua aku ya." Ujar Are.
" Terus aku gimana? Aku bingung mau tinggal dimana Ar, aku sama sekali tidak mengenal kota ini dan aku juga tidak punya siapa siapa di sini." Ujar Mara.
" Kalau kamu tidak tahu daerah sini, terus nggak punya siapa siapa kenapa kamu ke sini? Kenapa kamu tidak diam di desa saja?" Tanya Fara menatap Mara.
" Aku memang sengaja ingin mencari Are, untuk mencarikan aku pekerjaan dan kebetulan aku dapat alamat Are dari akun facebooknya, jadilah aku sampai sini." Sahut Mara.
" Nekat juga kamu ya." Ujar Fara sinis.
" Sekalian aja nanti kamu ikut dengan kami, kebetulan aku sedang menginap di rumah Mami mertuaku, siapa tahu Mami mau menambah art di rumah atau mungkin Mami bisa menempatkanmu di rumah Oppa Alex." Ujar Are.
" Terima kasih." Sahut Mara.
" Silahkan duduk Ra." Ucap Are menunjuk kursi kosong di sebelah Erald.
" Terima kasih Ar." Sahut Mara duduk di samping Erald.
" Sayang kamu pindah di sini, Mas tidak nyaman dekat dekat wanita lain." Ujar Erald beranjak.
" Iya Mas." Sahut Are. Mereka bertukar tempat duduk membuat Mara terlihat kesal.
" Mara silahkan makan, ini masih ada menu yang belum tersentuh tapi kalau kamu mau pesan sendiri, pesanlah nanti biar sekalian aku yang bayar." Ucap Are.
" Nggak udah pesan Ar, ini aja." Ujar Mara.
" Ok kalau begitu." Ucap Are.
" Makasih ya." Ucap Mara yang mendapat balasan anggukan kepala dari Are.
Selesai makan mereka berjalan menuju mobil, sesampainya di parkiran Fara memanggil Juna.
" Ya." Sahut Juna.
" Bisakah kamu mengantarku ke kantor?" Tanya Fara.
" Memangnya kamu nggak bawa mobil?" Tanya Juna.
" Enggak, aku naik taksi tadi ke sini." Sahut Fara.
" Sayang kita mengantar Aunti Fara dulu gimana?" Tanya Juna menatap Ghea.
" Iya nggak pa pa Pa." Sahut Ghea.
" Baiklah ayo aku antar." Ucap Juna.
Fara segera masuk ke mobil Juna dengan hati yang gembira.
" Yes." Sorak Fara dalam hati.
Juna melajukan mobilnya menuju kantor Fara. Sedangkan Erald melajukan mobilnya menuju rumah Mami Valen. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di kediaman Mami Valen.
" Ayo turun sayang." Ucap Erald membukakan sealbelt Are.
" Terima kasih Mas, ayo Ra kita turun." Ucap Are.
Erald menggandenga tangan Are masuk ke dalam rumah di ikuti Mara dari belakang.
" Assalamu'alaikum Mi." Ucap Are menghampiri Mami Valen yang sedang membaca laporan keuangan dari ponselnya.
__ADS_1
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Mami Valen mengalihkan pandangan dari ponselnya.
" Siapa dia Ar?" Tanya Mami Valen saat melihat Mara yang berdiri di belakang Are.
" Dia temanku dari kampung nenek Mi, namanya Tamara tapi aku memanggilnya Mara." Sahut Are.
" Halo Tante." Sapa Mara yang di balas anggukan kepala oleh Mami Valen.
" Sayang Mas ke kamar dulu ya, jangan kelamaan nyusulnya." Ucap Erald.
" Iya Mas." Sahut Are.
" Mi begini, saat ini Mara sedang membutuhkan pekerjaan, apa Mami bisa memberi pekerjaan kepadanya?" Tanya Are duduk di sebelah Mami Valen.
" Apa tamatanmu Nak?" Tanya Mami Valen menatap Mara.
" A... Aku hanya tamatan SMA Tante." Sahut Mara.
" Mara duduk sini, jangan berdiri seperti itu." Ujar Are. Mara duduk di sebelah Are.
" Tante kalau bisa aku ingin menjadi art Tante atau Are saja, aku tidak punya pengalaman kerja apapun." Ujar Mara.
" Kalau kamu tidak punya pengalaman bekerja, kenapa kamu ingin mencari pekerjaan?" Selidik Mami Valen menatap Mara.
" Karena aku butuh banyak uang Tan, ibuku sedang sakit parah di kampung, aku butuh biaya pengobatan ibu dan membayar jasa orang yang merawat ibu selama aku bekerja." Ucap Mara.
" Memangnya ibumu sakit apa?" Tanya Mami Valen.
" Ibu sakit kanker hati Tan, aku sedang mengupayakan pengobatan biar ibu bisa sembuh." Sahut Mara.
" Baiklah saya akan menerimamu menjadi art di sini membantu Bi Nadia, kau bisa bekerja besok jadi sekarang kau istirahat saja." Ucap Mami Valen.
" Terima kasih Tante." Sahut Mara.
" Sama sama." Sahut Mami Valen.
" Baiklah Mi kalau begitu aku ke kamar dulu Mi, biar nanti Bi Nadia yang mengantar Mara ke kamarnya." Ujar Are.
" Silahkan sayang." Sahut Mami Valen.
" Ra aku ke kamar dulu ya." Ucap Are menatap Mara.
" Ok terima kasih Ar." Sahut Mara.
Are berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Mara menatap Are hingga Are masuk ke dalam kamarnya. Mami Valen menatap Mara dengan penuh rasa curiga dalam hatinya.
" Setidaknya jika dia di sini aku bisa mengawasi gerak geriknya, tidak akan aku biarkan kau mengganggu kebahagiaan putra dan menantuku." Ujar Mami Valen dalam hati.
Kira kira benar nggak ya insting Mami Valen?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Author sudah serahkan dua bab semalam tapi entah kenapa sampai siang ini belum lolos review... Sabar ya...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1