Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Malam Pengantin


__ADS_3

Setelah acara pemakaman Alvin, Erald dan Are kembali ke rumahnya. Sedangkan keluarga Ardiansyah lainnya kembali ke rumah masing masing. Mereka akan mendoakan kepergian Alvin dari rumah masing masing.


Hari menjelang malam, saat ini Mami Valen sedang duduk di tepi ranjang di dalam kamar Alvin. Ia menatap foto pernikahan Alvin dan Are yang masih tersimpan di atas nakas. Ia mengambil foto itu lalu merabanya.


" Bukankah Mami sudah bilang jika Are adalah gadis terbaik untukmu? Tapi kenapa kau tidak percaya kepada Mami sayang? Kau lebih memilih bersama wanita ular itu dan menyiksa istrimu sendiri, pada akhirnya kau menyesali semuanya kan, kau terus mengejar cinta Are tanpa tahu dimana batasanmu, kau bahkan pantang menyerah setelah mengalami kegagalan berkali kali sayang, hingga kau menghalalkan segala cara sampai kau melakukan kejahatan, hingga lada akhirnya semua kejahatan yang kau lakukan merenggut nyawamu sendiri." Ucap Mami Valen sedih mengingat apa yang terjadi kepada Alvin mengusap foto Alvin.


" Kau membuktikan ucapanmu kepada kami semua jika kau tidak bisa hidup tanpa Are, Mami tidak menyangka jika hari ini akan tiba, hari dimana abangmu merasa bahagia menikah dengan wanita yang Ia cintai harus bersamaan dengan hari kepergianmu meninggalkan kami untuk selamanya... Hiks..." Isak Mami Valen mengusap air matanya.


" Mami tidak tahu apakah Mami harus bahagia atas pernikahan abangmu, atau Mami harus bersedih karena kepergianmu? Mami dalam posisi yang sulit saat ini sayang... Mungkin orang akan berkata kalau tidak sepantasnya Mami bahagia dengan pernikahan Erald di atas kesedihan karena kepergianmu, tapi Mami juga tidak boleh egois kan? Mami tetap harus memikirkan kebahagiaan abangmu.... Itulah sebabnya Mami melanjutkan acara pernikahan abangmu seperti tidak terjadi apa apa, tapi percayalah sayang jika saat itu hati Mami di liputi kesedihan yang mendalam karena kepergianmu... Hiks... Maafkan Mami yang telah berbicara kasar kepadamu, maafkan Mami yang tidak mengakuimu sebagai putraku di saat saat terakhirmu, Mami tidak membencimu namun Mami tidak menyukai sikapmu Alvin... Kau seperti bukan Alvin yang dulu yang selalu menyayangi abangmu apapun yang terjadi, kau berubah karena obsesimu yang menginginkan sesuatu harus menjadi milikmu, tapi bagaimanapun itu kau tetaplah putraku, kau putra kesayanganku Alvin... Mami tetap menyayangimu sampai akhir hayat nanti, Maafkan Mami sayang... Walaupun Mami kehilanganmu tapi Mami bangga kepadamu, kau mengorbankan dirimu demi menyelamatkan Are dari kejahatan Bella, terima kasih sayang atas pengobananmu, beristirahatlah dengan tenang Mami akan menuntut keadilan untukmu." Ucap Mami Valen memeluk foto Alvin.


Papi Nathan yang melihatnya sedari tadi ikut meneteskan air matanya. Ia berjalan menghampiri Mami Valen lalu memeluk Mami Valen dengan erat.


" Menangislah jika kau ingin menangis sayang, sekarang tidak ada siapa siapa lagi, kau boleh menunjukkan kesedihanmu di depanku." Ucap Papi Nathan mengelus punggung Mami Valen.


" Hiks.... Hiks.... Aku menyesal karena tidak mengakui Alvin sebagai putraku di saat saat terakhirnya Mas... Hiks... A... Aku membuatnya bersedih Mas.... Hiks... Aku telah melukai hati putraku sendiri, aku menyesal Mas." Isak Mami Valen.


" Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi sayang, ikhlaskan semuanya supaya Alvin bisa tenang di atas sana, bukankah seharusnya kita bangga kepadanya karena dia mengorbankan dirinya untuk melindungi Are? Itulah bukti ketulusan cintanya yang dia tunjukkan kepada kita semua sayang, Alvin melakukannya dengan bahagia jadi jangan menangisi kepergiannya lagi, itu akan memberatkannya sayang." Ujar Papi Nathan membuat Mami Valen mengerti.


" Iya Mas aku mengerti, maafkan aku yang telah meratapi kepergian Alvin." Ucap Mami Valen.


" Iya sayang, sekarang istirahatlah sudah malam, aku akan memelukmu." Ucap Papi Nathan berbaring di atas ranjang. Mami Valen pun tidur di dalam pelukan Papi Nathan di dalam kamar yang dulu di tempati oleh Alvin.


Author mewek nulisnya.... 😭😭😭


Di dalam kamar pengantin Erald dan Are sedang duduk rebahan bersandar pada headboard. Are menyandarkan kepalanya pada bahu Erald.


" Bagaimana keadaan Mami ya Mas? Aku yakin sekali kalau sebenarnya Mami sangat sedih, tapi Mami selalu berusaha tegar di depan kita." Ucap Are memeluk perut Erald.


" Jangan khawatir sayang, Papi bisa mengatasi semua kesedihan Mami." Sahut Erald mengelus kepala Are.


" Alvin pergi karena melindungiku, seharusnya aku yang tiada bukan dia." Ucap Are.

__ADS_1


Erald menangkup wajah Are dengan satu tangannya membuat Are mendongak menatapnya. Erald menatap tajam ke arah Are membuat Are sedikit ketakutan.


" Mas tidak suka kamu berbicara seperti itu, Mas sudah bilang kan jika semua yang terjadi kepada Alvin karena takdirnya, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri dan menyesali apa yang sudah terjadi sayang, kau paham kan." Ujar Erald. Are menganggukkan kepalanya.


Erald menatap Are begitupun sebaliknya. Erald memajukan wajahnya membuat Are memejamkan matanya. Erald mengecup bibir Are dengan lembut. Are membuka sedikit mulutnya membiarkan Erald mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Erald ******* bibir Are dengan lembut membuat Are terbuai dengan suasana yang di ciptakan oleh Erald.


Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Erald melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Are dengan lembut menggunakan jempolnya.


" Mas." Lirih Are menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erald.


" Hei kenapa? Kamu malu?" Tanya Erald sambil tersenyum.


" Apa sih Mas." Ujar Are malu malu.


" Kenapa mesti malu? Kita kan pernah melakukannya sebelum pernikahan." Ujar Erald.


" Entah kenapa rasanya beda setelah pernikahan, aku merasa canggung Mas." Ucap Are.


" Iya." Sahut Are.


" Mau melakukan ritual malam pertama kita?" Tanya Erald vulgar.


Are mendongak menatap Erald.


" Kamu membuat sesuatu dari dalam diri Mas tegang sayang." Ujar Erald merapikan anak rambut Are.


" Kenapa harus tegang? Aku kan nggak ngapa ngapain Mas." Ujar Are polos. Lebih tepatnya pura pura polos.


" Kamu polos sekali." Ucap Erald membalikkan posisi menjadi menindih tubuh Are.


Are menatap Erald yang berada di atas tubuhnya. Keduanya saling pandang dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.

__ADS_1


Erald kembali mencium bibir Are dengan mesra. Are terbuai dengan sensasi yang di ciptakan oleh Erald. Are juga tak mau kalah, Ia membalas ciuman Erald dengan lembut. Keduanya saling menikmati sensasi panas dingin yang membuat tubuh keduanya menegang. Tanpa Are sadari jika tangan Erald bergerilya kemana mana.


" Mas datang ya?" Tanya Erald menatap Are.


" Tapi Mas...


" Mas akan melakukannya dengan lembut, jika masih sakit cakar saja punggung Mas." Ujar Erald memotong ucapan Are.


" Baiklah Mas, lakukan saja." Sahut Are pasrah.


Erald memulai permainannya dengan sangat lembut. Bahkan tidak ada jeritan ataupun rintihan dari bibir Are. Keduanya saling menikmati sensasi yang membuat mereka seakan terbang ke atas nirwana menggunakan nalurinya. Kamar Erald menjadi saksi cinta keduanya yang seolah tidak akan pernah terpisahkan.


Setelah lama bermain hingga menguras banyak tenaga, akhirnya Erald tumbang di samping Are. Ia memeluk Are lalu mengecup kening Are dengan lama.


" Terima kasih sayang, kau telah menjaganya untuk Mas." Ucap Erald.


" Hmm." Gumam Are.


Keduanya terlelap dalam balutan selimut yang sama. Keduanya merasakan kebahagiaan yang mendalam, dan keduanya melupakan kesedihan untuk sesaat.


Kurang hot thor...


Jangan terlalu hot takut nggak lolos review...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat memberikan kebahagiaan untuk pasangan pengantin baru


Terima kasih untuk semua readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...


Miss U All..


TBC...

__ADS_1


__ADS_2