Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Negosiasi


__ADS_3

" Mas cepat katakan! Jangan diam aja!" Ucap Are merasa kesal sendiri.


" Mas...." Erald menjeda ucapannya. Ia melihat Are yang nampak antusias mendengar jawaban darinya. Erald menahan tawa melihat raut wajah Are yang sangat lucu menurutnya.


" Mas sudah menikahi wanita itu sayang, aku langsung talak kamu Mas." Ujar Are geram karena Erald tidak juga menjawab pertanyaannya.


" Eh ya jangan donk Yank." Sahut Erald.


" Ya makanya jawab! Kelamaan cuma jawab gitu doank." Sungut Are.


" Iya iya deh sayang Mas akan menjawabnya, Mas tidak mau menikahinya sayang... Walaupun Mas harus masuk penjara sekalipun Mas tidak akan pernah menduakanmu sayang, apalagi ada junior kita yang sangat membutuhkan kehadiran daddynya." Sahut Erald menarik kepala Are agar bersandar pada pundaknya.


" Beneran? Nggak bohong?" Tanya Are.


" Bener sayang, Mas tidak akan melukaimu dengan menikahi wanita lain, Mas tidak mau berbuat kesalahan seperti yang Papi lakukan kepada Mami dulu, Mas tidak mau merasakan penyesalan yang akan Mas sesali seumur hidup Mas." Ujar Erald.


" Baiklah aku percaya, tapi awas aja kalau kamu sampai bohongi aku Mas, aku nggak akan pernah memaafkanmu selamanya, aku akan pergi jauh sejauh jauhnya dari kamu ." Ancam Are.


" Iya sayang Mas berkata jujur sama kamu, Mas tidak membohongimu sama sekali." Sahut Erald.


" Terus gimana dengan keluarga wanita itu Mas? Apa masalahnya sudah selesai?" Tanya Are memeluk perut Erald.


" Mereka susah di ajak negosiasi sayang." Sahut Erald.


" Siapa nama wanita itu Mas?" Tanya Are.


" Mas tidak tahu siapa namanya, Mas tidak bertanya karena Mas tidak ingin tahu." Sahut Erald.


" Terus kenapa Mas kemarin nggak langsung pulang?" Tanya Are.


" Mereka menahan Mas, mereka tidak memperbolehkan Mas pulang padahal Mas di sana sampai prosesi pemakaman selesai." Ujar Erald menghela nafasnya.


" Terus kenapa sekarang Mas bisa pulang? Mas menjanjikan apa pada mereka?" Tanya Are.


" Emmmm Mas bilang.... Kalau Mas..." Ucap Erald gugup.


" Mas bilang apa sama mereka?" Selidik Are.


" Mas bilang kalau Mas akan menikahi wanita itu jika kamu mengizinkannya, untuk itu Mas harus pulang untuk membicarakannya padamu." Sahut Erald.


" Oh jadi tujuan kamu pulang karena kamu mau minta ijin sama aku buat menikah lagi begitu? Pantasan aja nggak berani ngomong saat kamu baru pulang, sekarang udah berani ngomongnya mentang mentang aku nggak marahin kamu karena pulang kemalaman." Ujar Are menatap Erald.


" Eh ya nggak gitu juga sayang... Mas kan tadi udah bilang kalau Mas nggak akan menduakan kamu sayang, lebih baik Mas di penjara daripada harus melukai hati istri Mas yang paling cantik ini." Sahut Erald.


" Bohong." Cebik Are.


" Beneran sayang Mas nggak bohong kok." Ujar Erald.

__ADS_1


" Pokoknya aku nggak akan mengijinkan Mas menikah lagi apapun alasannya, kamu hanya milik Aresha seorang tidak ada yang akan memilikimu selain diriku." Ucap Are.


" Begitupun denganmu sayang, tidak ada yang bisa memilikimu selain diriku." Sahut Erald.


" Hari ini Mas harus ke sana lagi." Ujar Erald.


" Aku ikut." Sahut Are.


" Boleh, kita ke sana sama Papi sama Mami." Ujar Erald.


" Siap Mas." Sahut Are.


" Kita tunggu Papi sama Mami datang dulu ya." Ujar Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sembilan pagi Papi Nathan dan Mami Valen sampai di rumah Erald. Mereka berempat segera menuju rumah korban yang tertabrak Erald.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah duka. Rumah sederhana namun terlihat bagus karena sekelilingnya di tumbuhi pepohonan asri. Papi Nathan mengucapkan salam kepada penghuni rumah tersebut.


" Assalamu'alaikum." Ucap Papi Nathan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut penghuni rumah.


Seorang wanita berperut buncit membukakan pintu.


" Bang Erald." Ucap wanita itu.


" Halo mbak, perkenalkan saya Are istrinya Mas Erald." Ucap Are mengulurkan tangannya.


" Aku Ayu." Sahut wanita yang ternyata bernama Ayu membalas uluran tangan Are.


" Mbak Ayu." Gumam Are menatap Ayu dengan tatapan tajam membuat Ayu ketakutan.


Ayu wanita berparas kurus dan wajah yang lumayan cantik untuk seukuran gadis desa sepertinya. Perutnya yang buncit menggambarkan jika Ia sedang hamil besar dan kemungkinan sebentar lagi mau melahirkan.


" Kenalkan saya Maminya Erald." Ucap Mami Valen.


" Ayu Tante." Sahut Ayu.


" Apa orang tuamu ada di rumah?" Tanya Erald menatap Ayu.


" Ada Bang, silahkan masuk! Ayah dan ibu sudah menunggu kedatanganmu." Sahut Ayu.


Are, Erald, Papi Nathan dan Mami Valen masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu yang nampak sempit.

__ADS_1


" Saya panggilkan ayah sama ibu dulu Tanre, Om." Ujar Ayu.


" Silahkan." Sahut Mami Valen.


Ayu masuk ke dalam untuk memanggil kedua orang tuanya. Sedangkan Are terus menatap kepergian Ayu.


" Kenapa sayang? Kok kamu menatapnya gitu amat." Ucap Erald menggenggam tangan Are.


" Aku rasa dia tidak tertarik denganmu Mas, pasti dia di desak oleh orang tuanya." Ucap Are.


" Mas juga tidak tahu sayang." Sahut Erald.


Tak lama Ayu kembali dengan kedua orang tuanya.


" Selamat datang di gubug kami Tuan dan Nyonya." Ucap Pak Amat.


" Terima kasih Pak." Sahut Papi Nathan.


" Begini Pak, maksud kedatangan kami pertama tama ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya putra tercinta dan yang kedua kami ingin menawarkan negosiasi kepada keluarga anda." Ucap Mami Valen to the point.


" Negosiasi yang bagaimana Nyonya? Saya rasa perkataan saya kemarin sudah jelas, jika Nak Erald harus menikahi anak saya Ayu." Sahut Pak Amat.


" Saya sebagai istrinya Mas Erald tidak menyetujui dan tidak mengijinkannya Pak." Sahut Are membuat Pak Amat menoleh ke arahnya.


" Bagaimana anda bisa tdak mengijinkannya Nona? Suami anda telah menghilangkan nyawa anak kami, apa anda tidak kasihan dengan Ayu? Dia sedang hamil besar, dia membutuhkan seorang suami untuk selalu di sampingnya, jika suami anda tidak menikahinya lalu bagaimana dengan nasibnya?" Tanya Pak Amat.


" Saya akui kalau suami saya salah, tapi kenapa harus suami saya yang menikahinya? Mbak Ayu bisa mencari orang lain Pak, saya akan membiayai semua biaya pernikahannya, saya akan menjamin masa depan anak Mbak Ayu sampai dia dewasa, saya janji jika Mbak Ayu dan anaknya tidak akan kekurangan suatu apapun, tapi tidak dengan menikahi suami saya." Ujar Are.


" Saya maunya Nak Erald menikahi Ayu, kalau tidak saya akan memenjarakan Nak Erald karena telah merenggut nyawa anak saya." Sahut Pak Amat.


" Silahkan saja! Jika suami saya di penjara saya bisa menebusnya dan memberikan jaminan kepada pengadilan tapi anda tidak akan mendapatkan apa apa, Mbak Ayu dan anaknya tidak akan mempunyai masa depan yang cerah seperti yang saya janjikan dengan anda Pak Amat yang terhormat." Tegas Are membuat Pak Amat kembali berpikir.


Mami Valen dan Papi Nathan tersenyum melihat the power of Aresha.


" Saya tidak punya banyak waktu Pak Amat untuk berdiskusi dengan anda karena kami semua orang orang sibuk, sekarang anda tinggal menjawab ya atau tidak." Ucap Are.


" E... E.....


" Tidak perlu bertele tele, Ya atau tidak, jika ya maka saya akan meninggalkan cek sekarang juga, jika tidak maka saya tunggu surat panggilan dari polisi untuk suami saya." Sahut Are memotong ucapan Pak Amat.


" Saya....


Saya apa ya????


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya...


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2