
Pagi hari setelah mandi, Are menyiapkan baju ganti untuk Erald.
" Yank mana bajunya?" Tanya Erald yang baru keluar dari kamar mandi.
Are menatap Erald sesaat lalu Ia membuang mukanya karena malu melihat Erald hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.
" Kok malah membuang muka sih Yank, bukannya menatap suaminya gitu lalu sentum yang indah biar suaminya senang." Ujar Erald menghampiri Are. Ia berdiri di depan Are sambil menatap Are.
" Aku malu melihatmu seperti itu Mas." Sahut Are.
" Kenapa harus malu? Mas ini suami sayang, semua yang ada pada diri Mas adalah milikmu." Ujar Erald.
" Mas buruan pakai baju dulu, emangnya kamu nggak malu apa mengekspos dada begitu di depan aku." Ujar Are.
" Kenapa? Kan cuma di depan kamu sayang, sudah Mas bilang kamu istriku dan Mas suamimu, jadi semua ini milikmu dan tidak perlu malu untuk memandangnya ataupun menyentuhnya." Ucap Erald menarik pinggang Are hingga tubuh keduanya menempel.
" Mas buruan gih, Mami sudah menunggu kita untuk sarapan Mas." Ujar Are.
" Mas masih mau begini." Sahut Erald menyelipkan rambut Are ke telinga.
Are menatap tubuh Erald yang nampak begitu atletis. Roti sobek pada perut Erald membuat Are terpesona.
" Kenapa? Kamu terpesona dengan tubuh indah Mas ini?" Tanya Erald.
" Iya Mas." Sahut Are tanpa sadar membuat Erald terkekeh.
" Eh enggak enggak... Bukan begitu maksudku Mas." Ralat Are merutuki kebodohannya sendiri.
" Kata yang udah keluar nggak boleh di tarik lagi, kau sudah mengakui jika tubuh sispack Mas sangat indah sayang." Ucap Erald.
" Ya udah baiklah aku mengakuinya, sekarang pakai bajunya atau kamu akan masuk angin nanti karena telanjang dada lama lama." Ujar Are.
" Baiklah sayang Mas pakai baju dulu, Mas juga nggak bisa lama lama dekat denganmu dalam posisi seperti ini sayang." Ujar Erald.
" Memangnya kenapa Mas?" Tanya Are.
" Apa kamu tidak merasa ada yang tegang di bawah sana?" Tanya Erald.
Are baru menyadari jika ada yang mengeras di bawah sana.
" Mesum kamu Mas." Cibir Are.
" Nggak pa pa sama istri sendiri." Sahut Erald memakai bajunya.
" Terserah kamu saja Mas mau ngomong apa." Sahut Are.
" Tapi Mas benar kan?" Tanya Erald.
" Iya Mas, kamu selalu benar." Sahut Are.
" Sisir rambut Mas donk Yank." Ucap Erald menyodorkan sisir kepada Are.
" Hmm manjanya mulai keluar." Sahut Are.
" Iya donk, mumpung kita belum punya anak, nanti kalau kita udah punya anak kamu pasti sibuk mengurusnya dan nggak ada waktu lagi buat mengurus Mas." Ujar Erald.
" Pikirannya kok sampai ke situ Mas? Aku akan membagi waktuku dengan adil buat kalian." Sahut Are menyisir rambut Erald dengan pelan.
" Ya kalau anak kita satu, kalau kita punya babby twins gimana?" Tanya Erald.
" Itu beda lagi ceritanya Mas." Sahut Are .
" Mau di bedakin nggak Mas?" Tanya Are.
" Kok di bedakin sayang? Mas bukan perempuan lhoh." Ujar Erald.
" Kalau anak kecil setelah di sisir rambutnya terus di bedakin pipinya biar wangi." Sahut Are.
" Nakal kamu ya, masa' Mas di samakan sama anak kecil, anak kecil nggak bisa bikin anak kecil sayang." Ucap Erald mengerlingkan matanya menatap Are.
" Piktor kamu Mas." Ucap Are.
__ADS_1
" Maaf sayang." Ucap Erald memeluk Are dari belakang.
" Mas Mami udah menunggu kita dari tadi lhoh." Ujar Are.
" Mami pasti akan memahami kita sayang, kita kan masih pengantin baru." Sahut Erald mengecup tengkuk Are.
" Geli Mas." Ujar Are.
" Biarin." Sahut Erald.
" Astaga..." Ucap Are menghela nafasnya.
" Kenapa hmm?" Tanya Erald mencium curuk leher Are.
" Nggak pa pa Mas, aku cuma tidak pernah membayangkan jika begini rasanya menikahi pria matang sepertimu." Sahut Are.
" Bahagia kan?" Tanya Erald.
" Bersamamu aku akan selalu bahagia Mas." Sahut Are.
" Terima kasih sayang." Ucap Erald.
" Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Mas karena kamu mau menerimaku tanpa memandang status dan masa laluku." Ucap Are.
" Ya sudah sekarang kita turun." Ucap Erald menggenggam tangan Are.
" Iya Mas." Sahut Are.
Erald menggandeng tangan Are menuruni anak tangga menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Mami Valen dan Papi Nathan. Yang menjadi pusat perhatian Erald dan Are adalah gadis kecil yang duduk di kursi dengan rambut di kucir kuda.
" Ghea." Panggil Are membuat Ghea menoleh ke arahnya.
" Mama." Pekik Ghea turun dari kursi. Ia langsung memeluk Are.
" Ghea kangen sama Mama." Ucap Ghea.
" Mama juga kangen sama Ghea, Ghea sama siapa ke sininya?" Tanya Are.
" Terus dimana Kak Juna Mi?" Tanya Are menatap Mami Valen.
" Aku di sini Re." Sahut Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Are dan Erald menoleh ke arah Juna yang berjalan menghampiri mereka.
" Gimana kabarmu?" Tanya Juna menatap Are.
" Alhamdulillah baik Kak, Kakak sendiri gimana?" Tanya Are.
" Jujur aku tidak baik baik saja setelah di tinggal Mamanya Ghea menikah." Sahut Juna melirik Erald.
" Kakak bisa aja, kenalin Kak suamiku namanya Mas Erald." Ucap Are menunjuk Erald.
" Halo Tuan Erald, saya Juna temannya Are, saya harap anda tidak salah paham dengan kedekatan kami sebagai Papa dan Mamanya Ghea." Ucap Juna mengulurkan tangannya kepada Erald.
" Saya sudah tahu Tuan Juna karena Are sudah menceritakan semuanya kepada saya bagaimana hubungan kalian bertiga." Ucap Erald membalas uluran tangan Juna.
" Mama... Kenapa Mama menikahnya sama Om ini? Kenapa bukan sama Papa saja?" Tanya Ghea polos.
" Kalau Mama sama Papa menikah kan kita bisa tinggal bersama dan hidup bahagia seperti teman teman Ghea." Sambung Ghea.
Are menatap ke arah Erald yang menyunggingkan senyumannya.
" Sayang... Mama nggak bisa sama Papa karena Mama punya kehidupan sendiri bersama suami Mama, Om Erald suami Mama dan sekarang Om Erald menjadi Papa Ghea juga." Ujar Are.
" Berarti Ghea punya dua Papa?" Tanya Ghea memastikan.
" Iya, Ghea senang nggak punya dua Papa?" Tanya Are.
" Senang Ma, kalau begitu bolehkan Ghea meminta gendong sama Papa Erald?" Tanya Ghea mengacungkan kedua tangannya.
Erald tersenyum mendekati Ghea.
__ADS_1
" Mau gendong Papa?" Tanya Erald.
" Mau Pa." Sahut Ghea menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, Papa akan menggendongmu." Sahut Erald menggendong Ghea.
" Duh ternyata Ghea udah besar ya, berat banget nih." Ucap Erald.
" Masa' sih Pa? Kata Papa Juna Ghea nggak berat makanya Ghea harus makan yang banyak biar makin besar." Ujar Ghea.
" Benarkah?" Tanya Erald.
" Tanya saja sendiri sama Papa Juna." Sahut Ghea menatap Juna.
" Ya udah sekarang mari kita makan dulu, biar Ghea cepat besar." Ujar Mami Valen.
" Iya Oma." Sahut Ghea.
Erald mendudukkan Ghea pada kursi di sebelah kanannya, sedangkan Are di sebelah kiri Erald. Are mulai mengambilkan makanan untuk Erald.
" Mama aku mau di ambilkan Mama juga ya." Ucap Ghea.
" Iya sayang, mau Mama suapi?" Tanya Are.
" Enggak... Kata Papa Juna, Ghea harus makan sendiri Ma." Sahut Ghea.
" Betul kata Papa, sekarang Ghea makan ya biar cepat besar, kan sebentar lagi mau masuk sekolah dasar." Ujar Are meletakkan makanan di depan Ghea.
" Terima kasih Ma." Ucap Ghea.
" Sama sama sayang." Sahut Are mengelus kepala Ghea.
" Nak Juna silahkan ambil makanannya, apa mau di layani juga sama Are?" Canda Mami Valen.
" Ah tidak Tante, biar aku ambil sendiri saja." Sahut Juna mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
" Kamu juga makan donk sayang." Ucap Erald menatap Are.
" Iya Mas ini aku juga mau mengambil makanan." Ujar Are.
" Mas suapi aja." Ucap Erald menyodorkan sesendok nasi dan daging rendang ke mulut Are.
Are menatap Mama dan Papi yang di balas senyuman oleh mereka.
" Nggak perlu malu Ma, biar romantis kalau Mama makan di suapi Papa Erald, seperti waktu Mama makan di suapi sama Papa Juna." Ujar Ghea polos membuat Erald menatap tajam ke arah Are.
Are segera menerima suapan dari Erald sebelum Erald menarik kembali sendoknya. Ia tidak mau menanggung malu karena Erald kesal kepadanya. Are yakin jika Erald pasti merasa cemburu walaupun kejadiannya sebelum Are menikah dengannya.
" Ghea, emang Mama sering ya makan di suapi sama Papa Juna?" Tanya Mami Valen membuat Are memejamkan matanya.
" Dulu sering Oma, kalau Mama menyuapi Ghea pasti Papa akan menyuapi Mama biar sama sama kita sama sama makan." Sahut Ghea membuat Mami Valen tersenyum puas bisa mengerjai Erald.
" Sayang kalau Ghea lagi makan, jangan sambil bicara nanti kalau tersedak gimana." Ujar Are menatap Ghea.
" Maaf Ma." Sahut Ghea.
" Oma kalau mau tanya sesuatu sama Ghea nunggu Ghea selesai makan dulu ya." Ucap Ghea melanjutkan makannya.
Mami Valen tersenyum sedangkan Are menghela nafasnya panjang. Erald tetap menyuapi Are walaupun sebenarnya Ia menahan rasa kesal terhadap Are karena ucapan Ghea tapi Ia tidak mungkin mengeluarkan kekesalannya di depan semua orang, atau Ia akan membuat Are malu.
Juna menatap keharmonisan yang di tunjukkan Are dan Erald kepadanya dengan bahagia.
" Aku turut bahagia dengan semua ini Re, cukup anakku saja yang bisa mengambil hatimu, kalau aku tidak akan pernah bisa karena sejatinya hatimu hanya milik Erald sejak dulu dan mungkin selamanya, aku juga menyadari siapa diriku dan siapa dirimu." Batin Juna.
Bisa ketebak kan perasaan Juna untuk Are?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat menulis kisah bahagia Erald dan Are
Author ucapkan terima kasih kepada para readers yang selalu setia mensuport author, author hanya bisa mendoakan semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....