Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Terpuruk Karenamu


__ADS_3

" Are." Teriak Alvin berlari menepis tangan Nyonya Sarita.


Dor.....


" Alvin...." Teriak Are saat tembakan Nyonya Sarita meleset tepat menyerempet lengan kanan Alvin.


Pyar....


Peluru mengenai bufet di ruang tamu membuat kacanya berhamburan ke lantai.


" Awh." Pekik Alvin tersungkur ke lantai.


Polisi segera menangkap Nyonya Sarita sedangkan Are menghampiri Alvin.


" Mas bangun Mas." Ucap Are membantu Alvin bangun.


" Sayang." Ucap Alvin.


" Owh astaga darahnya banyak sekali, kita harus ke rumah sakit sekarang." Ujar Are cemas.


" Tenang sayang Mas tidak pa pa, ini hanya luka ringan cuma kesrempet aja, pelurunya juga nggak bersarang sayang." Ucap Alvin menekan lengannya agar darahnya tidak terus keluar.


" Tunggu di sini dulu." Ujar Are.


Are berlari keluar menuju mobilnya. Ia membuka kopernya mencari syal di sana. Setelah mendapatkan apa yang Ia mau, Are kembali menghampiri Alvin yang sedang duduk si sofa.


" Sini Mas." Ucap Are membalut lengan Alvin dengan kencang supaya darahnya berhenti mengalir.


" Nona Aresha kami akan membawa Nyonya Sarita ke kantor polisi sekarang." Ucap polisi.


" Silahkan Pak, pastikan dia mendekam seumur hidup di penjara atau hukuman mati." Sahut Are.


" Permisi Nona." Pamit polisi menggiring Nyonya Sarita.


" Awas kau Aresha.... Kau akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini." Teriak Nyonya Sarita.


" Saya juga permisi Nona." Ucap pak Hary.


" Silahkan Pak, terima kasih." Ucap Are.


" Sama sama Nona." Sahut pak Hary meninggalkan Are dan Alvin berdua di sana.

__ADS_1


" Mas mending kita ke rumah sakit aja." Ujar Are.


" Tidak perlu sayang aku baik baik saja, kamu tidak pa pa kam?" Tanya Alvin.


" Tidak Mas." Sahut Are.


" Bagaimana kamu bisa sampai sini Mas?" Tanya Are menatap Alvin.


" Entah mengapa perasaanku tidak enak, aku merasa akan terjadi sesuatu hal buruk kepadamu, aku sengaja mengikutimu sampai sini, aku menunggu di dalam mobil memastikan jika kamu baik baik saja, namun persaanku semakin tidak enak, lalu aku mencoba masuk ke dalam dan melihatmu dalam bahaya." Terang Alvin.


" Kau juga membahayakan nyawamu demi menolongku, jadi begini kan? Kamu terluka karena aku." Ujar Are.


" Kamu mengkhawatirkan aku?" Tanya Alvin menatap Are.


" Jangan gr... Aku bukannya mengkhawatirkanmu tapi aku hanya nggak mau berhutang budi sama kamu kalau sampai kamu kenapa napa." Sahut Are mengedarkan pandangannya ke segala arah menghindari tatapan Alvin.


" Jawabanmu membuatku tambah sakit sayang." Ucap Alvin.


" Stop memanggilku seperti itu! Aku merasa tidak nyaman karena kita...


" Kau masih sah menjadi istriku Are karena kita masih terikat dalam pernikahan, dan sebelum kita berpisah secara resmi kau masih istriku dan masih menjadi tanggung jawabku." Ujar Alvin memotong ucapan Are.


" Biarkan aku saja, aku sudah berjanji padamu untuk melepasmu walau sepertinya tingkat keikhlasan dalam hatiku tidak sempurna tapi aku akan berusaha menepati janjiku secepatnya." Sahut Alvin.


" Aku akan menunggunya, jika kamu tidak pa pa sekarang silahkan pergi dari sini, dan aku ucapkan terima kasih karena kau telah melindungiku dari bahaya Nyonya Sarita." Ucap Are beranjak.


" Tapi sa...


" Pintu keluar ada di sana Mas, aku capek, aku mau istirahat." Ucap Are menunjuk ke arah pintu.


" Baiklah, aku pulang dulu kamu hati hati di rumah dan jaga diri dengan baik ya." Ucap Alvin mengalah.


" Hmm." Gumam Are meninggalkan Alvin menuju kamarnya. Kamar yang beberapa bulan tidak Ia huni.


Sedangkan Alvin berjalan keluar menuju mobilnya dengan perasaan sedihnya.


" Ternyata kau benar, kau sudah tidak bisa melihat kebaikanku lagi, walaupun aku terluka hatimu tidak tersentuh sekalipun, kau bahkan tidak mau mengobatinya begitu aku membicarakan status kita, begitu dalamkah luka yang aku torehkan pada hatimu selama ini hingga membuat hatimu mati rasa kepadaku, maafkan aku sayang, maafkan atas kesalahanku selama ini." Ujar Alvin dalam hati. Tak terasa air mata menetes pada pipinya.


Alvin masuk ke dalam mobil, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat karena terganggu dengan sakit pada lengannya.


Di dalam kamar, Are menatap kepergian mobil Alvin dari atas balkon.

__ADS_1


" Seberapa pun kerasnya kamu mencoba mendekatiku kembali kau tidak akan berhasil Mas, kau tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali hatiku yang telah mati untukmu Mas, aku berharap kau bisa melupakan aku, dengan begitu aku akan bebas melangkah untuk menjemput kebahagiaanku sendiri... Kak Erald aku sudah membalaskan rasa sakit hatiku kepada adikmu, tunggu giliran pembalasan dariku untukmu, aku akan membuatmu jungkir balik mengejarku setelah kau menolakku beberapa bulan lalu." Batin Are tersenyum smirk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari Alvin duduk di balkon kamarnya sambil menyesap minumannya. Hatinya terasa hampa namun sakit jika Ia mengingat tentang Are.


Are....


Wanita yang dulu dia abaikan, wanita yang dulu dia hina, wanita yang selalu Ia pandang rendah, wanita yang selalu menjadi sasarah amarahnya bahkan wanita yang selalu Ia siksa tanpa ampun, namun sekarang....


Are menjadi wanita yang Ia cintai, wanita yang ingin Ia lindungi, wanita yang ingin Ia perhatikan setiap gerakannya, wanita yang menghias hari harinya dan wanita yang Ia rindukan kehadirannya setiap saat.


" Hiks.... Hiks.... Are.... Maafkan aku sayang, maafkan atas semua kesalahanku dan berilah aku kesempatan lagi sayang, tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk kita hidup bersama? Tidak bisakah kita bersatu seperti dulu lagi? Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku.... Rasanya sangat berat untuk berpisah denganmu sayang.... Hiks... Aku tidak sanggup berpisah darimu, aku tidak bisa hidup tanpa cinta dan kasih sayang darimu, aku merindukanmu sayang.... Aku sangat merindukanmu." Ucap Alvin menyesap minumannya.


" Are...... Kembalilah kepadaku sayang, aku mencintaimu, aku menyayangimu sayang, kembalilah padaku hiks..." Ucap Alvin memukul mukul dadanya sendiri yang terasa sangat sesak menahan semua rasa yang menyiksanya.


" Are....." Teriak Alvin.


" Kenapa kau meninggalkan aku? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu dan kau bilang sudah memaafkan aku? Lalu kenapa kau tidak mau hidup bersamaku lagi? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku lagi? Kenapa kau menghukumku seperti ini? Kenapa Are? Apa karena cintamu pada Bang Erald? Jika memang benar seperti itu maka aku tidak akan membiarkan kalian bertemu, aku tidak akan membiarkan kalian bersatu, kau harus menjadi milikku kembali Are." Alvin kembali berteriak dengan kencang.


" Aku berteriak pun kau tidak akan datang bukan? Apakah jika aku mati kau akan datang menangisiku? Apakah jika itu terjadi bisa membuatmu memaafkan aku? Aku rasa tidak.... Bahkan di saat aku terluka kau tidak peduli padaku? Bukan hanya lenganku yang terluka tapi hatiku jauh lebih terluka Are...." Ujar Alvin kembali menenggak minumannya.


" Are.... Aresha sayang....." Racau Alvin.


" Aku harus apa supaya kau mau kembali hidup bersamaku? Sepertinya aku harus mengakhiri hidupku.... Are...." Alvin kembali meracau. Ia naik ke pagar balkon lalu berdiri merentangkan kedua tangannya. Sepertinya Ia siap terjun ke bawah.


" Are aku akan membawa cintaku ke surga sayang, maafkan aku." Ucap Alvin menutup matanya.


Tiba tiba.....


Brak.....


Nah lhoh apa tuh yang bunyi brak???


Penasaran???


Jangan lupa like koment hadiah dan votenya biar author semangat meneruskan ceritanya.


Miss U All...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2