
Malam ini keluarga Papi Nathan sedang makan malam bersama. Papi Nathan duduk di sebelah Mami Valen sedangkan Erald dan Are duduk di kursi sebrang. Kedua pasangan suami istri itu duduk saling berhadapan bersiap untuk menyantap makan malam bersama.
" Tante apa makanannya sudah cukup?" Tanya Mara berdiri di belakang Are.
" Sudah cukup, ini saja." Sahut Mami Valen.
" Mas Erald, apa anda membutuhkan sesuatu? Jika iya biar saya ambilkan." Ucap Mara membuat semua orang mengerutkan keningnya karena mendengar panggilan Mara kepada Erald.
" Saya tidak suka kamu memanggilku dengan sebutan Mas, karena yang berhak memanggilku Mas hanyalah istriku seorang, lagian kamu art di sini jadi panggil semua majikanmu dengan sebutan Tuan dan Nyonya, itu lebih baik dan memang begitu kan aturannya." Ucap Erald dingin.
" Maaf Tuan saya tidak bermaksud apa apa, hanya saja saya bingung harus memanggil anda dengan sebutan apa." Sahut Mara menundukkan kepalanya.
" Tuan dan Nyonya, ingat itu!" Sahut Erald.
" Baik Tuan." Sahut Mara.
" Mas." Lirih Are menggenggam tangan Erald.
" Apa sayang? Jangan protes tentang sikap Mas kepada temanmu, dia bekerja di sini jadi dia harus menghormati kami sebagai majikannya, termasuk dirimu, Mas harap kamu mengerti maksud Mas?" Ujar Erald lembut sambil menyelipkan anak rambut Are di telinga.
" Iya Mas aku tahu." Sahut Are tersenyum manis.
" Ya sudah sekarang makan ya, atau mau Mas suapi?" Tawar Erald menatap Are.
" Tidak perlu Mas, aku bisa makan sendiri." Sahut Are melirik Mami Valen dan Papi Nathan.
" Baiklah sayang, sekarang makanlah!" Sahut Erald.
Mereka kembali makan dengan khidmat. Sedangkan Mara hanya melihat kehangatan keluarga mereka sambil berdiri di belakang Are saja.
" Mi besok aku dan Are mau kembali ke rumah ya, aku harus ke kantor karena ada pertemuan dengan para investor." Ucap Erald setelah menghabiskan makanannya.
" Di sini dulu untuk beberapa hari Bang, Mami masih berat jika di tinggal kalian berdua, kamu bisa pergi ke kantor dari sini, lagian jika kamu udah kerja Are di rumah sendiri kan." Sahut Mami Valen menyesap teh hangatnya.
" Iya Mas aku pasti kesepian di rumah, masa cutiku masih tiga hari lagi, aku juga mau bersantai sama Mara, ya kan Mara?" Ujar Are menoleh ke belakang.
" Ah iya." Sahut Mara.
" Baiklah sayang, lakukan apa maumu karena apapun untukmu." Ucap Erald.
" Terima kasih Mas." Ucap Are.
" Kembali kasih sayang." Sahut Erald.
" Aku sudah kenyang Mi, aku dan Are pamit ke kamar duluan." Ucap Erald.
" Hmm yang masih pengantin baru, penginnya ngamar terus." Goda Mami Valen.
" Apa sih Mi." Kekeh Are.
" Kalau Mami iri, tinggal ajak Papi kan bisa." Ujar Erald.
" Iya Yank, ayo kita juga ngamar biar seperti pengantin baru." Ucap Papi Nathan.
" Ayo." Sahut Mami Valen.
__ADS_1
Kedua pasangan suami istri itu berjalan menuju kamar masing masing, sedangkan Mara membereskan bekas makan mereka.
Ceklek....
Erald membuka pintu kamarnya. Ia menggandeng Are masuk ke dalam.
" Sayang aku mau ke kamar mandi, tolong siapkan baju ganti ya." Ucap Erald.
" Iya Mas." Sahut Are.
Erald masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Sedangkan Are mengambil baju ganti untuk Erald.
" Ar." Panggil Mara di depan pintu.
" Ya." Sahut Are menoleh ke arah pintu.
" Kamu di panggil sama Tante Valen, katanya kamu di suruh ke kamarnya." Ucap Mara.
" Bukannya di kamar Mami ada Papi ya?" Tanya Are.
" Tuan Nathan pergi ke ruang kerjanya." Sahut Mara.
" Oh ok." Sahut Are beranjak keluar kamar menuju kamar Mami Valen tanpa mempedulikan Mara ikut keluar atau tidak.
Ceklek.....
Erald keluar dari kamar mandi.
" Yank dimana baju ganti Mas?" Tanya Erald tanpa menatap Are karena Ia sedang mengikat tali bathrobe yang di pakainya.
" Ngapain kamu ada di sini? Cepat keluar dari kamar saya! Jangan lancang ya kamu." Tegas Erald.
" Maaf Tuan tadi Are yang menyuruh saya mengambilkan baju untuk Tuan." Sahut Mara.
" Sekarang juga aku bilang keluar kamu." Tekan Erald.
" Ba.. Baik Tuan." Sahut Mara keluar dari kamar Erald.
Brak...
Erald menutup pintunya dengan keras.
Mara segera kembali ke kamarnya. Kamar khusus pelayan.
Setelah kembali dari kamar Mami Valen, Are masuk ke dalam kamarnya.
" Mas." Ucap Are menghampiri Erald yang sedang duduk bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya.
" Mas kenapa kamu belum ganti baju?" Tanya Are.
" Mas tidak sudi di layani oleh wanita lain selain istri Mas." Sahut Erald sedikit kesal.
" Wanita lain? Wanita lain siapa? Ini kaos aku yang menyiapkannya Mas." Ujar Are menunjukkan kaos oblong putih kepada Erald.
" Bukannya kamu menyuruh Mara untuk menyiapkan baju Mas?" Tanya Erald menatap Are.
__ADS_1
" Mara." Gumam Are.
" Ya tadi Mara di sini memberikan kaos itu saat Mas baru keluar dari kamar mandi." Ujar Erald.
" Sebenarnya apa maunya Mara? Dia juga membohongiku soal Mami Valen yang memintaku ke kamarnya, ada apa ini? Apa Mara mempunyai rencana jahat untuk memisahkan kami? Tapi kenapa dia lakukan itu?" Tanya Are dalam hati.
" Maaf Mas, mungkin tadi Mara salah mendengar, tadi aku memintanya untuk menata bajumu di almari." Kilah Are.
" Mas tidak mau ada orang lain yang masuk ke kamar kita sayang apapun alasannya, ini yang pertama dan terakhir kalinya." Ucap Erald.
" Iya Mas maafkan aku." Sahut Are.
" Mas maafkan tapi dengan syarat." Ujar Erald.
" Syarat? Apa syaratnya?" Tanya Are menindih tubuh Erald membuat Erald panas dingin.
" Katakan Mas apa syarat yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku." Ucap Are mengelus pipi Erald. Erald memejamkan matanya.
" Sayang." Lirih Erald saat Are menggigit pelan telinganya.
" Apa Mas?" Bisik Are dengan suara seksinya.
" Shh sayang." Desis Erald ketika Are mengecup lehernya.
" Kenapa Mas?" Lirih Are.
" Kamu membuat tubuh Mas menegang sayang." Ujar Erald.
" Relax donk Mas." Sahut Are dengan suara manja.
Tidak tahan dengan godaan Are, Erald membalikkan posisi menjadi menindih tubuh Are.
" Awh." Pekik Are.
" Kenapa Yank? Apa Mas menyakitimu?" Tanya Erald menatap Are.
" Enggak Mas aku cuma kaget aja tadi." Sahut Are mengalungkan tangannya ke leher Erald.
" Sekarang kamu sudah pandai menggoda Mas ya." Ucap Erald mencubit hidung Are.
" Nggak pa pa asal jangan menggoda suami orang." Sahut Are.
" Mas tidak akan membiarkan semua itu terjadi sayang." Sahut Erald mencium bibir Are.
Are membalas ciuman Erald dengan lembut. Suara decapan keduanya memenuhi ruang kamar mereka. Tangan Erald mulai berkelana mendaki gunung dan turun ke lembah membuat tubuh Are menggelinjang menahan sesuatu yang seolah akan meledak. Erald memulai permainannya dengan sangat lembut hingga membuat Are terhanyut dalam suasana yang di ciptakan oleh Erald.
Keduanya nampak saling meluapkan perasaan cinta dan kasih sayang masing masing. Seluruh isi kamar menjadi saksi cinta mereka yang begitu besar. Keduanya berharap akan ada keuntungan yang mereka dapatkan dari permainan yang mereka mainkan. Apa lagi jika bukan si buah hati.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat meneruskan ceritanya...
Dan jangan lupa untuk selalu bahagia..
Thank you for All...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....