
Beberapa jam yang lalu...
Alvin turun dari mobil, Ia berjalan menuju pintu rumah Are.
Ting tong
Alvin menekan bel rumah Are. Mendengar bel rumahnya berbunyi, Are segera membukanya.
Ceklek...
" Alvin." Gumam Are.
" Iya Ar, aku ke sini mau minta maaf kepadamu atas apa yang telah aku perbuat padamu, sejujurnya aku malu kepada diriku sendiri untuk menemuimu, namun aku paksakan diri untuk kemari sebelum aku terlambat, aku minta maaf Ar, aku menyesal atas apa yang telah aku perbuat kepadamu." Ucap Alvin dengan mata penuh penyesalan.
" Apa kau benar benar tulus meminta maaf padaku Al? Atau ini hanya sandiwara seperti sebelum sebelumnya?" Tanya Are.
" Aku tulus meminta maaf padamu Ar." Sahut Alvin.
" Baiklah berhubung hari ini adalah hari bahagiaku maka aku memaafkanmu." Ucap Are.
" Benarkah?" Tanya Alvin dengan mata berbinar.
" Tentu saja, sekarang pergilah! Aku mau bersiap ke rumah Abang kamu." Ucap Are.
" Are... Sebenarnya aku memang akan pergi." Ucap Alvin.
" Oh ya? Kemana?" Tanya Are menatap Alvin.
" Aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian semua, aku ingin mengasingkan diriku agar aku tidak membuat masalah untuk kalian, aku minta maaf jika selama ini aku menjadi sumber masalah dalam hidupmu, aku minta maaf telah menjadi sumber kesakitan dalam hatimu." Sahut Alvin.
" Jika itu keputusanmu, aku bisa apa? Semoga kau mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang baru." Ucap Are.
" Terima kasih, tapi sebelum aku pergi bolehkah aku meminta satu permintaan terakhirku kepadamu?" Tanya Alvin menatap Are.
" Apa itu?" Tanya Are.
" Aku ingin mengantarmu ke rumah Bang Erald, aku ingin menyerahkanmu kepada Bang Erald dengan tanganku sendiri." Ujar Alvin penuh harap.
" Baiklah tidak masalah, aku bersiap dulu." Sahut Are membuat Alvin tersenyum senang.
" Kau duduklah dulu, aku tinggal ke kamar ya." Sambung Are meninggalkan Alvin menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Are segera bersiap. Sebelum Ia keluar Ia menghubungi seseorang terlebih dahulu. Setelah itu Ia keluar kamar kembali menghampiri Alvin.
" Sudah siap?" Tanya Alvin.
" Sudah, ayo." Ajak Are.
Keduanya berjalan keluar, saat Are hendak membuka pintu mobil, nampak mobil yang di kendarai pak Joko masuk ke halaman rumahnya. Are segera menghampirinya.
" Bapak menjemput saya ya?" Tanya Are.
" Iya Non." Sahut pak Joko.
" Saya di antar oleh Alvin saja Pak, Bapak silahkan kembali ke rumah atau mau jalan jalan dulu tidak pa pa." Ujar Are.
__ADS_1
" Tapi Non." Ucap pak Joko.
" Tidak pa pa Pak." Sahut Are.
" Baiklah Non, hati hati." Ucap pak Joko.
" Siap Pak, saya berangkat dulu." Ucap Are kembali ke mobil Alvin.
Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang, sampai di tengah tengah perjalanan Are mengerutkan keningnya saat melihat jalan yang di lewati Alvin bukan jalan menuju rumah Erald namun jalan menuju rumah Alvin yang pernah Are tempati.
" Kenapa kita ke arah rumahmu Al? Bukankah acaranya di rumah Mas Erald yang baru?" Tanya Are menatap Alvin.
" Aku ada hadiah untuk pernikahan kalian, tapi tertinggal di rumah makanya aku mau mengambilnya dulu." Ujar Alvin.
" Jangan kelamaan! Mas Erald sudah menungguku." Ucap Are.
" Ok, kamu haus? Kalau haus ada air mineral tuh, silahkan minum dulu!" Ucap Alvin menunjuk air mineral yang ada di samping pintu.
" Ah iya kebetulan aku memang haus sekali." Sahut Are.
Are membuka minuman itu lalu meminumnya. Ia melirik ke arah Alvin yang saat ini sedang mengembangkan senyuman di bibirnya. Are menyunggingkan senyum menatapnya.
" Kau akan tahu saat ini kau sedang bermain main dengan siapa Alvin." Batin Are.
" Kita akan lihat Are, kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan yang seperti apa." Batin Alvin terus melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah Alvin, Alvin menghentikan mobilnya. Ia menatap Are yang nampak tertidur.
" Ar... Are." Panggil Alvin mengguncang pelan pundak Are, Are tidak bergeming sepertinya Ia tertidur pulas.
Alvin menggendong Are ala brydal style masuk ke dalam rumahnya. Nampak di dalam rumah sudah ramai orang yang menanti kedatangan keduanya. Di sana sudah ada pak penghulu, teman teman Alvin dan pihak dari MUA.
" Mbak segera dandani calon istri saya." Ucap Alvin kepada pihak MUA.
" Baik Tuan." Sahutnya.
Alvin segera membawa Are ke dalam kamar tamu. Ia merebahkan tubuh Are di atas ranjang. Pihak MUA segera memakaikan gaun pengantin dan merias wajah Are dengan baik.
" Sekarang sudah selesai Vin, sana kamu mulai acara ijab qobulnya sebelum Are bangun." Ucap Bella.
" Baiklah, kau jaga Are di sini." Ucap Alvin.
" Ok." Sahut Bella.
Setelah selesai Alvin kembali ke ruang tamu untuk menemui Pak penghulu.
" Sekarang bisa di mulai acaranya Pak." Ucap Alvin.
" Apa mempelai wanitanya tidak mau keluar Tuan? Sepertinya saya lihat tadi dia tidak sadarkan diri." Ujar Pak penghulu.
" Bapak salah lihat, dia tadi malu makanya dia menyembunyikan wajahnya pada dada saya, calon istri saya akan keluar setelah acara ijab qobulnya selesai." Ucap Are
" Maaf jika saya salah, baiklah sekarang mari kita mulai acaranya Tuan Alvin." Ucap Pak penghulu.
" Baik Pak." Sahut Alvin.
__ADS_1
Pak penghulu menjabat tangan Alvin.
" Saudara Alvin Valentino Ardiansyah." Ucap pak penghulu.
" Saya." Sahut Alvin.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan...
" Tunggu." Ucap Erald menghentikan semuanya.
Alvin menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat keluarganya berada di sana. Erald, Mami Valen, Papi Nathan berdiri berjajar di belakang Alvin.
" Kenapa mereka ada di sini? Siapa yang memberitahu mereka semua?" Tanya Alvin dalam hatinya.
Alvin beranjak dari duduknya, Ia menatap keluarganya yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya.
" Kenapa kalian semua ada di sini? Bukankah pernikahan Abang di laksanakan saat ini juga?" Tanya Alvin pura pura terkejut.
" Aku ingin menjemput calon istriku, Are." Sahut Erald.
" Are... Siapa bilang Are ada di sini?" Tanya Alvin.
" Aku." Sahut Are dari atas tangga.
Alvin mendongak ke atas menatap Are yang saat ini sedang menuruni anak tangga.
" Sialan... Dimana Bella? Menjaga Are saja tidak becus." Umpat Alvin dalam hati.
" A... Are..." Ucap Alvin.
" Kenapa? Kamu kaget dengan semua yang terjadi saat ini? Kamu bingung kenapa bisa mereka sampai di sini? Aku yang memberitahu mereka jika aku ada di sini." Ujar Are
" Jadi kamu tidak tidur?" Tanya Alvin memastikan.
" Tidak... Aku hanya mengikuti permainanmu saja, dan sekarang permainan ini telah berakhir, seberapapun kamu mencoba membuatku menjadi milikmu tapi Tuhan mencegahnya bukan? Sudah aku bilang jika cintaku dan cinta Mas Erald tidak bisa di pisahkan Alvin." Ucap Are menatap Erald.
" Sayang." Lirih Erald.
" Berhentilah berbuat hal seperti ini Alvin, aku bukan wanita sempurna yang pantas kau perebutkan, ikhlaskan aku dari dalam hatimu yang paling dalam, hentikan semua ini hanya sampai di sini dan tidak akan ada lagi drama drama seperti ini lagi, biarkan aku menikah dengan Mas Erald dan hidup bahagia bersama." Ucap Are.
" Tidak bisa."
Nah loh siapa yang bilang tidak bisa?
Di gantung ya Mak mirip jemuran...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author
Semoga sehat selalu
Miss U All
TBC....
__ADS_1