
pak Arshad menarik tubuh Andra, ntah kekuatan dari mana pak Arshad mampu melawan tubuh Andra yang kekar itu.
bugh
pukulan demi pukulan di rasakan Andra, namun dia tak melawan.
"sudah om."pekik Evan karena dia juga kasihan pada sahabat nya itu
"sudah aku bilang Andra, kalau kamu tidak mencintai anak ku, pulangkan saja pada ku Andra. kenapa kamu siksa dia."pekik pak Arshad memenuhi sudut ruangan itu.
ceklek
"keluarga pasien."ucap dokter yang baru saja keluar
"bagaimana keadaan anak saya, dok?"
"kondisi pasien saat ini sangat lemah, sel kanker di tubuh nya sudah semakin menyebar, untuk saat ini beliau masih dalam keadaan koma. tenang lah pak yang bisa kita lakukan saat ini hanya lah berdoa."ucap dokter
__ADS_1
Andra hanya diam tak bergeming, hati nya benar-benar hancur. bahkan dia bersumpah atas apa yang sudah terjadi pada Hania.
"untuk saat ini, belum ada yang bisa menemui pasien."ucap dokter lalu dia pergi meninggalkan mereka
"lihat, apa yang sudah kamu lakukan ada putri ku, dasar baji**an."teriak pak arshad dan kembali memukul Andra yang sudah sangat lemah
"sudah om."ucap Evan yang sudah sama-sama emosi
"demi Allah, saya menyesal menikahkan anak saya dengan laki-laki breng*ek seperti mu Andra."
emosi pak Arshad benar-benar tidak terkontrol lagi. rasa marah dan kecewa nya sudah benar-benar melampaui batas.
"apa kamu tuli, hah."
Andra mendongak ke atas lalu menatap pak Arshad"Andra akan buktikan pada ayah, kalau itu bukan anak Andra, ayah."ucap Andra lirih lalu dia berjalan meninggalkan pak Arshad
Evan selalu mengikuti Andra, dia tau bagaimana perasaan Andra saat ini.
__ADS_1
"maafin gue dra, seharusnya gue nggak biarin elu lembur sendirian malam itu, gue nggak terpikir kalau wanita licik itu akan melakukan hal seperti ini, gue janji dra gue akan mencari tau semua nya."batin Evan
Andra duduk di kursi tunggu dekat parkiran, air mata nya kembali turun.
"dra, elu harus kuat. gue percaya sama elu. elu nggak mungkin melakukan nya pada wanita licik itu, gue janji gue akan mencari bukti nya, dra."
tubuh Andra bergetar hebat, tak pernah dia menangis sehebat ini kecuali saat dia kehilangan kedua orang tua nya.
"aku nggak mau kehilangan Hania, Van. demi Allah aku tidak mau. bagaimana dengan hidup ku nanti, Van."ucap Andra lirih
"tenang dra, sekarang kita doain Hania ya, dia anak yang kuat. elu harus kuat demi Nia. buktikan kalau elu tidak bersalah."ucap Evan lagi
"udah sekarang, elu ganti baju."ucap Evan
Andra mengangguk lemah, dia pun pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju yang dibawakan oleh Budi.
selepas mengganti baju, Andra pergi ke musholah bersama Evan. sebenarnya kedua sahabat itu pernah menuntut ilmu di pondok pesantren, tapi ntah kenapa mereka berubah saat mereka menginjak dunia kerja,. seolah-olah mereka lupa akan kehadiran Allah, tapi sedikit pun mereka tidak lupa akan hukum-hukum yang mereka langgar.
__ADS_1
selepas sholat, Andra mengangkat kedua tangan nya memohon sebaik permohonan kepada Allah. tak ada yang inginkan saat ini kecuali kesembuhan Hania.
...----------------...