Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Bubur


__ADS_3

Ke esokan hari nya, Andra sudah membuatkan sarapan untuk Hania. Keadaan Hania sudah lebih baik daripada semalam.


"Kamu sarapan dulu, sudah itu minum obat."titah Andra


"Terima kasih banyak ya mas, mas Andra nggak ngasih tau ayah kan?"


"Tidak, apa kamu mau kalau ayah kesini?"


"Jangan mas, kasihan ayah."


"Oke, kamu makan sekarang."ucap Andra dengan suara yang sudah sedikit lembut


Hania mulai memasukan makanan ke dalam mulut, hambar, pahit itulah yang Hania rasakan, namun dia tetap makan untuk menghargai suami nya.


Sementara Andra membukakan obat untuk Hania.


"Ini minum obat nya."


Hania mengambil obat itu di telapak tangan Andra.


"Mas nggak ngantor? Gimana sama pekerjaan aku mas?"tanya Hania


"Tugas kamu sudah digantikan sama karyawan lain, mulai sekarang kamu nggak usah kerja lagi."


"Tapi mas."


"Uang di dalam kartu yang aku berikan sama kamu, itu sudah lima puluh kali lipat gaji kamu di kantor. Kamu bingung mau ngasih ayah gimana? Berikan saja uang yang ada di kartu itu."


Hania hanya diam, di satu sisi dia sangat bersyukur dan bahagia dengan sikap Andra namun di sisi lain hati nya masih terasa sakit dengan kejadian kemarin tadi malam.


"Mas, aku boleh tanya nggak?"


"Tanya apa?"


"Mas, benar masih mencintai mbak Saras ya?"


Andra menatap Hania dengan tatapan yang penuh arti, ntah kenapa hati nya merasa ragu jika harus menjawab kalau dia masih mencintai Saras.


"Jawab mas, aku cuma ingin tau saja."ucap Hania sembari tersenyum getir


"Iya."jawab Andra singkat


"Hmm, nggak apa-apa kok. Kalau kita udah cerai nanti, mas mau nikahi mbak Saras kan?"


"Iya, kenapa?"


"Nggak apa-apa, setidaknya aku berterima kasih mas, karena mas Andra sudah mau peduli sama aku."ucap Hania sembari tersenyum lalu memegang tangan Andra


*******


Di kantor


Evan serta karyawan baru selesai rapat bulanan, namun dari arah depan terlihat Saras masuk ke dalam kantor .


"Dih, ngapain perempuan itu kesini pak?"


"Mana saya tau."


"Mana Andra?"tanya Saras dengan wajah sombong nya


"Pak Andra tidak ke kantor hari ini Bu."jawab Bella


"Kemana dia Van?"


"Di rumah mungkin, gue juga belum menghubungi dia. Ada apa?"


Bukan nya menjawab, justru Saras langsung pergi.


*****


"Mas, boleh minta tolong telponin Lala?"tanya Hania takut


"Mana nomer nya."


Hania pun memberikan ponsel nya pada Andra.


Tak lama Andra pun menelpon Lala.

__ADS_1


"Hallo. Maaf dengan siapa ya?"suara Lala di seberang sana


"Ini saya Andra, kamu ke rumah sekarang. Hania meminta kamu untuk kesini."


"Iya dra, sebentar lagi aku kesana."


Sambungan telpon pun terputus.


"Terima kasih ya mas."


Andra kembali ke kamar nya, untuk mandi sebentar. Setelah selesai dia pun duduk di ruang keluarga.


"Permisi."


"Masuk."sahut Andra


"Langsung saja ke kamar, Hania ada di kamar."


"Baik dra. Permisi."


Lala pun masuk ke dalam kamar Hania, lagi-lagi dia terkejut ketika melihat tangan Hania sudah memakai infus.


"Kenapa bisa kayak gini lagi Han?."


"Nggak apa-apa, aku juga nggak tau la. Tiba-tiba tadi malam aku drop lagi."


"Ih, maka nya kan aku udah bilang istirahat Hania Humaira Salsabila."


"Hehehe, iya Lala bawel."


"Aku nyuruh kamu kesini bukan untuk memarahi aku ya."ucap Hania pura-pura sedih


"Iya..iya maaf. Habis nya kamu bandel sih."


"Hehehe."


"Btw, kenapa Andra bisa nelpon aku, kan bisa kalau kamu sendiri."bisik Lala


"Ya nggak apa-apa, mas Andra nya juga mau kok."


"Hmm, gitu. Kok dia nggak ke kantor. Dia jagain kamu Han?"


"Really?"


"Yes, of course!".


"Hmm, aku ikut senang denger nya han. Tapi jangan sakit terus tau. Kapan main nya coba."


"Hehehe, iya-iya."


"Oh ya Han, sebentar lagi Puput sam Bagas mau nikah lho."


"Hah? Serius?"


"Iya Han. Akhirnya mereka menikah juga. Kamu masih ingat kan sama ocehan mereka satu tahun yang lalu."


"Iya..iya."


Kedua nya pun sama-sama terkekeh Karena mengingat waktu itu.


*****


Hari semakin sore, Lala juga baru saja pulang. Seperti biasa Hania masih di kamar.


"Ya Allah, kapan ya sembuh nya. Hania udah nggak mau lagi kayak gini ya Allah."ucap Hania sembari memegang infus di tangan nya


"Assalamu'alaikum non."ucap mbok Iyem yang baru saja datang


"Wa'alaikumsalam, Masya Allah. Akhirnya mbok pulang juga."


"Maafin mbok non, non kenapa bisa seperti ini non?"


"Aku juga nggak tau mbok, lagi mau sakit aja."


"Ya Allah Gusti."ucap mbok Iyem sembari mengelus tangan Hania


"Gimana keadaan suami mbok? Udah sehat?

__ADS_1


"Sudah non, Alhamdulillah."


"Syukurlah. Ya udah mbok istirahat aja dulu."


"Nggak apa-apa, mbok mau menemani non."


"Hmm, terserah mbok dech."


Kedua nya terlihat begitu akrab, Hania merasa senang karena mbok Iyem sudah kembali lagi.


"Selama non sakit, siapa yang jagain non?"


"Suami ku lah mbok."


"Maksud non, Aden?"


"Iya mbok, emang nya suami Nia siapa lagi."


"Masya Allah, beneran non?"


"Iya mbok, mbok nggak percaya?"


"Percaya non, Alhamdulillah kalau Aden udah berubah ya non."


Hania hanya tersenyum, dia tau Andra melakukan semua itu karena kasihan dan tanggung jawab tidak lebih dari itu.


"Oh ya, mbok bawa kue. Non mau nggak?"


"Boleh mbok."


"Bentar ya non."


Mbok Iyem pun kembali ke dapur untuk mengambilkan Hania kue.


Tak lama kemudian mbok Iyem pun kembali.


"Ini non, mbok buat sendiri lho."


"Wah, enak ni. Hania coba dulu ya mbok."


"Oke non."


"Gimana non? Enak?"


"Enak mbok, tapi di lidah ku belum terlalu berasa masih pahit."


"Iya non, nggak apa-apa. Non kan lagi sakit. Nanti kalau non udah benar-benar sehat mbok bikinin lagi dech."


"Iya mbok."


Tak terasa, hari pun sudah Maghrib. Hania dibantu mbok Iyem untuk mengambil wudhu.


"Non mau sholat berdiri atau baring non?"


"Duduk aja mbok."


"Iya non."


Hania pun melaksanakan sholat, setelah itu dia membaca Al-Qur'an. Sementara Andra tidak pernah masuk ke kamar nya lagi semenjak mbok Iyem datang.


"Mbok, ada lihat mas Andra?"


"Aden keluar sebentar tadi non."


"Oooh gitu, kemana mbok?."


"Mbok juga nggak tau non."


Hania pun kembali membaringkan tubuhnya.


"Cepat sembuh ya non."


"Aamiin. Doain terus ya mbok."


"Iya non."


Setelah cukup lama mbok Iyem di kamar Hania, dia pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk majikan nya.

__ADS_1


Mbok Iyem merasa sangat senang karena dia bisa bertemu dengan Hania lagi, maklum saja mbok Iyem tidak mempunyai anak. Itulah kenapa dia begitu menyayangi Andra dan Hania.


...----------------...


__ADS_2