Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Drop


__ADS_3

di tempat lain


Hania bolak balik dari kamar mandi, tubuh nya terasa melayang, air mata nya tak henti-hentinya mengalir. kanker yang bersarang di tubuhnya semakin menyiksa diri nya.


"ya Allah, sakit."rintih Hania! seharusnya disaat seperti ini ada suami di samping nya, namun itu hanyalah harapan semu yang rasa nya mustahil akan terjadi


uhuk uhuk


Hania berpegang pada handle pintu,Hania mencoba berjalan ke arah tempat tidur.


mbok atik yang merasa khawatir, langsung masuk ke dalam kamar Hania.


"astaghfirullahaladzim non."pekik mbok Iyem hingga satu rumah kaget dan langsung masuk ke kamar Hania


tampak Hania sedang muntah darah di sisi ranjang.


"ya Allah, non kenapa non."ucap mbok Iyem khawatir


"mbok, sakit. tolong Nia mbok."ucap nya lirih


Lastri langsung menelpon Evan.


...----------------...


Evan masih duduk di samping andra.dia kaget saat telepon nya berbunyi.


"sebentar dra."ucap nya lalu bangkit dari tempat duduk lalu menjauh dan mengangkat telpon dari Lastri


"ha...hallo tuan. tuan, nona Hania muntah darah, apa tuan bisa kesini?"tanya Lastri panik

__ADS_1


"kalian bawa dia ke rumah sakit, saya akan segera kesana."titah Evan yang juga ikut panik


"baik tuan."


Evan langsung mematikan ponselnya.


"dra, gue harus pergi. hmm Tante jatuh di kamar mandi."ucap Evan bohong dengan perasaan panik


Andra hanya diam, Evan langsung pergi tanpa memperdulikan Andra.


...----------------...


sesampainya di rumah sakit, Hania masih di periksa dokter. semua alat medis sudah terpasang di tubuh kurus itu. kondisi Hania benar-benar memprihatinkan.


tampak pak Arshad, Evan dan juga Lala sudah berada di depan ruang IGD.


"anak om, la."ucap Arshad lirih


ceklek


ketiga nya langsung mendekati dokter


"silahkan ke ruangan saya."ucap dokter


evan duduk di depan dokter, dia yang akan mendengarkan penjelasan dokter karena dia kasihan melihat kondisi pak Arshad saat ini.


"saya kakak nya dok."ucap Evan


"jadi begini tuan, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa sel kanker di tubuh Hania sudah menyebar di seluruh anggota tubuh nya. satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah berdoa, kami selaku tenaga medis akan mengusahakan yang terbaik untuk Hania ."jelas dokter frustasi

__ADS_1


"astaghfirullahaladzim."ucap pak Arshad sembari memegang dada nya yang terasa sesak


"om, tenang. Nia anak yang kuat om.hiks."ucap Lala yang sudah menangis sembari memeluk pak Arshad


setelah dari ruang dokter, ketiga nya pun masuk ke ruangan Hania. tampak wajah putih Hania begitu pucat.


"nak, bangun lah Nia."ucap pak Arshad lirih!kini tubuh tua itu sudah jatuh di samping Hania


...----------------...


sementara di tempat lain, Saras terlihat sedang marah di depan Bu Rini. semua rencana nya gagal, kini dia sudah putus dari Andra.


"tenang lah sayang."ucap Bu Rini


"apa mama bilang? tenang? gimana Saras bisa tenang ma, sekarang Saras sudah kehilangan kekasih Saras."pekik Saras.


"Saras nggak mau ma, nggak mau."teriak nya lagi


pak Lukman hanya bisa diam dan memperhatikan kemarahan putri nya. pak Lukman tidak bicara apapun. karena pak Lukman sudah tau bagaimana anak nya itu.


"sudah lah Saras, kamu harus mengikhlaskan Andra. lagi pula Andra sudah mempunyai istri."ucap pak Lukman


"kenapa papa belain dia, kenapa papa tidak bela Saras."


"papa harus apa Saras? kamu sendiri yang membuat kesalahan. papa bukan tidak tau kerjaan kamu di luar, sar."ucap pak Lukman lagi yang berhasil membuat Saras kembali menangis


antara malu dan sakit, itu lah yang Saras rasakan saat ini.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2