Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Menyesal


__ADS_3

di dalam mobil, Andra hanya diam. sekekali Evan melirik Andra.


"sabar dra."ucap Evan sembari fokus menyetir


"antar aku pulang, Van."


Evan mengangguk lalu dia mempercepat laju mobil.


sesampainya di rumah, Andra turun dengan berbagai perasaan.


"den."ucap mbok Iyem namun tak ada jawaban dari Andra


"bawa saja mobil nya, Van."titah Andra lalu dia benar-benar masuk ke dalam rumah


Evan terlihat bingung, apa dia harus meninggalkan Andra atau menemani nya.


"masukan saja mobil nya, Bud. malam ini saya tidur disini."ucap Evan lalu dia melempar kunci mobil pada Budi


"baik den."


Evan pun masuk ke dalam rumah, tampak Andra menyenderkan kepalanya di sofa.


"udah tenang saja dra, nanti kita cari Hania."ucap evan


"kamu ngapain masih disini, Van?"


"gue nginap disini ya, gue takut ninggalin elu, ntar elu gantung diri lagi."ledek Evan

__ADS_1


Andra merasa kesal, dia pun melempar bantal sofa pada Evan.


"ups, sorry bro."ucap Evan


"saya mau ke kamar, kalau kamu mau tidur, tidur di kamar kamu."titah Andra sembari melangkah ke lantai atas


"oghey."jawab Evan! di rumah itu memang ada satu kamar yang khusus untuk Evan, maklum saja Evan memang sudah seperti keluarga sendiri bagi Andra


Evan masuk ke kamar nya


"hai Han, gimana kabar nya?"pesan Evan pada Hania


"wa'alaikumsalam kak, Alhamdulillah Nia baik-baik saja."balas Hania


"syukurlah, lusa jadwal kamu kemo kan?"


"nanti saya temani."


"kak, apa Hania tidak merepotkan kakak, sudah terlalu banyak Kakak membantu Hania."balas nya lagi


"aku akan berhenti ketika Andra sudah mampu menggantikan posisi ku.jadi berhenti lah untuk merasa tak enak."balas Evan lagi


"iya kak, maaf."


Evan meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian dia ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan kaki.


...----------------...

__ADS_1


sementara di tempat lain, Saras tengah bercinta dengan seseorang di kamar hotel. Bu Rini bukan tak tau kebiasaan anak nya itu. gaya hidup yang bebas membuat Saras lupa diri dan dosa.


disaat itu pula, orang suruhan Evan harus mendengarkan suara Saras bercinta.


"ya Tuhan, bisa gila aku kalau terus mendengarkan hal menjijikkan seperti ini."gerutu laki-laki berbadan besar dan kekar


tak lama laki-laki itu keluar dengan keringat yang mengucur, sementara Saras sudah tertidur lemah di atas kasur.


"hmm, jijik banget gue lihat elu."gerutu nya lagi


"kalau bukan gue cari uang buat anak dan bini gue, gue mah Oga."tambah nya lagi


setelah menyelesaikan tugas nya, laki-laki itu pun pergi.


...----------------...


Evan sudah lama terlelap, sementara Andra masih terjaga. mata nya enggan terpejam. kini masalah baru datang lagi, ayah mertua nya pun sudah kecewa pada nya.


Andra hanya berdiam diri di balkon sembari menatap awan malam, bintang-bintang bertaburan di angkasa.


"pa, apa yang harus Andra lakukan sekarang?"tanya Andra seolah-olah pak Farhan ada disana


"ma, seandainya mama sama papa masih ada di sisi Andra, mungkin Andra tidak akan menjadi orang sekejam ini ma. Andra sadar setiap Andra menyakiti nya, Andra merasa sedang menyakiti mama. dia sangat mirip dengan mama, wanita lembut berhati malaikat."ucap Andra lirih


air mata Andra jatuh di pipi nya, ntah apa yang di tangisi nya,ntah karena kerinduan pada orang tua nya atau rasa penyesalan pada Hania yang sudah mulai terasa. ntah lah hanya Andra yang tau bagaimana perasaan nya saat ini.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2