
Andra dan Evan segera menuju rumah sakit, dimana Tante Rere bekerja. sesampainya di rumah sakit Andra langsung mencari ruangan dokter Rere. semua suster yang melihat ketampanan Andra dan Evan tak berhenti memperhatikan Andra dan Evan.
"omaigat, apa mereka pangeran?"tanya Sindi pada teman-teman nya
Andra dan Evan berlalu dan masuk ke ruangan Tante Rere.
"silahkan duduk dra, Van."
"thank you Tante." ucap Evan
"ada apa? cerita sama Tante."tanya Tante Rere khawatir karena melihat keponakan nya begitu tampak sedih
Andra masih diam, dia bingung mau mulai cerita dari mana.
"ada apa, Van?"tanya Tante Rere
Evan mulai menceritakan semua nya pada Tante Rere, Tante Rere mengangguk paham.
"kita lakukan tes DNA, tapi hasil nya membutuhkan waktu yang cukup lama."jelas tante Rere
"tidak masalah Tante."jawab Andra
"apa kamu yakin itu bukan anak mu, dra?"tanya Tante rere ragu
"demi Allah Tante, itu bukan anak Andra. Andra tidak merasa pernah melakukan hubungan terlarang itu."jawab Andra yakin
"baik lah, Tante akan mengatur jadwal pengecekan, nanti silahkan kamu bawa Saras pada Tante."
"baik Tan."
__ADS_1
...----------------...
setelah dari ruangan Tante Rere, kedua nya singgah di sebuah restoran untuk makan dan sekedar istirahat.
Ting
sebuah pesan masuk di ponsel Andra
"dra, Hania sudah melewati masa koma nya, do'akan saja Hania segera sadar."pesan dari Lala
"Alhamdulillah."ucap Andra senang
"kenapa, dra?"
"Hania sudah melewati masa kritis nya, Van."
"Alhamdulillah."
"sekarang kamu harus pikirkan bagaimana cara kamu membawa Saras pada Tante Rere tanpa curiga."ucap Evan
"iya Van, kamu tenang saja."jawab Andra
sementara di tempat lain, Saras berada di rumah pak Lukman. walaupun pak Lukman kecewa dengan putri nya namun Saras tetap lah anak nya.
Saras terlihat sedikit pucat, sejak dia hamil, Saras sering merasa lemas dan mual.
Saras membaringkan tubuhnya, tak lama dia kembali ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang ada di perut nya
"nyusahin sekali ini."gerutu Saras sambil melihat ke arah perut nya yang masih datar
__ADS_1
Saras kembali keluar dan segera mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
"hallo."
"hallo honey."
"kamu kapan mau nikahin aku, hah? aku hamil sekarang."sentak Saras kesal
"apa?"ucap laki-laki itu kaget
"kamu gila? yang tidur sama kamu itu bukan cuma aku saja Saras."
"eh, jelas-jelas kamu adalah orang yang terakhir melakukan nya bersama ku."
"cukup, jangan ganggu aku lagi."sentak laki-laki itu lalu sambungan telpon pun terputus
Saras menjatuhkan ponsel nya, dia kebingungan siapa yang akan tanggung jawab atas kehamilannya saat ini. bagaimana kalau Andra tau kalau itu memang bukan darah daging nya.
Saras melempar sebuah barang-barang di atas meja rias nya, Saras benar-benar merasa frustasi dan sedih.
"bo*doh kamu Saras."teriak nya pada diri sendiri
Saras menatap wajah nya di depan cermin, dia menatap pantulan di depan cermin dengan tajam.
sementara di tempat lain, setelah dari restoran, Andra langsung pulang karena tubuh nya terasa sangat lelah.
Andra langsung mandi dan ganti baju, kemudian sholat ashar, tak lupa dia selipkan doa tulus untuk sang istri, walaupun sekarang dia tidak menjaga Hania secara langsung tapi dia bisa menjaga Hania dalam doa.
...----------------...
__ADS_1