
keesokan harinya, Hania terbangun namun dia merasa heran kenapa dia sudah dikamar padahal seingat dia tadi malam dia tidur di depan tv.
"siapa yang membawa aku ke kamar?"batin Hania heran
"apa mas Andra? tapi kayak nya nggak mungkin dech."ucap nya lagi
cukup lama Hania memikirkan siapa yang membawa nya ke kamar, kemudian dia pun keluar untuk membuat sarapan lebih awal karena Hania memang lagi tidak Sholat.
saat Hania membuka lemari untuk mengambil beberapa peralatan masak, tiba-tiba seekor tikus keluar dari dalam lemari. seketika Hania berteriak keras.
Andra yang masih terlelap tiba-tiba terbangun dan langsung pergi ke lantai bawah. sedangkan Hania sudah menangis di pojokan.
"ada apa?"tanya Andra panik
"i...itu mas ada kecoa."jawab Hania yang masih menunduk
"masa sih ada kecoa."ucap Andra tak percaya
"beneran mas."
"Budi."panggil Andra
"Iya den."
"cepat kamu cari kecoa itu."titah Andra
"baik den."
Budi pun langsung mencari nya di sela-sela lemari dapur, dan benar saja tiba-tiba kecoa itu kembali muncul dan berlari ke arah Hania. Hania berteriak takut dan tanpa disadari dia berlari dan langsung memeluk Andra.
Andra pun terkejut namun dia hanya diam
"jadi dia beneran takut."batin Andra karena cengkeraman tangan Hania begitu kuat
sementara Budi terus berusaha untuk menangkap kecoa nakal itu, ntah dari mana kecoa itu datang padahal rumah itu bersih dan rapi.
sesekali Budi melihat ke arah Hania, dia merasa senang melihat majikan nya itu. tak lama kecoa itu pun dapat.
"sudah dapat non."ucap Budi sembari memperlihatkan kecoa itu di depan Hania
bukan nya melepaskan pelukannya, justru Hania kembali memeluk Andra.
"buang sana Bud."
"iya den."
Hania masih saja menangis, ntah kenapa dia begitu takut dengan kecoa.
"mau sampai kapan meluk saya?"tanya Andra
mendengar suara Andra, Hania langsung melepaskan pelukannya
"ma...maaf mas."ucap Hania sembari menghapus air mata nya
"sudah nggak usah takut lagi, cuma kecoa juga."ucap Andra ketus
"iya, maaf mas."ucap Hania lalu dia kembali melanjutkan kegiatan masak nya
setelah kejadian tadi pagi, akhirnya sarapan pun siap. Andra pun sudah turun ke lantai bawah.
"silahkan mas."ucap Hania karena dia juga merasa malu pada Andra
"duduk lah, sarapan."titah Andra tanpa melihat Hania
__ADS_1
"tapi mas, bukan kah mas Andra nggak mau makan kalau aku duduk disini.'
"nggak usah banyak tanya."jawab Andra ketus
Hania pun menarik kursi makan, dia duduk di sebelah Andra.
"mas, apa aku beneran nggak boleh lagi kerja di kantor?"
"tidak, bukan kah aku sudah menyuruh mu untuk mengurus rumah makan papa."
"iya mas."
setelah selesai sarapan, Andra langsung mengambil jas di sandaran kursi.
"mas, nggak pake dasi?"tanya Hania
Andra melihat ke arah baju nya
"tolong ambil dasi saya di kamar."
"iya mas."
Hania bergegas ke kamar Andra. tak lama dia pun datang.
"ini mas."ucap Hania
"pasangkan."titah Andra yang sibuk dengan ponselnya
deg
Hania terkejut sekaligus senang. Hania mendekat pada Andra. namun karena tubuh Hania pendek dia pun terpaksa harus menjinjit kaki nya. Andra sedikit melirik pada Hania. Andra pun berinisiatif untuk duduk di kursi.
"sudah mas."ucap Hania
"Alhamdulillah, ada sedikit perubahan."ucap Hania sembari tersenyum
***************
di kantor
Andra langsung masuk ke dalam ruangan nya, seperti biasa Evan sudah menunggu nya.
"wah, rapi banget nih."goda Evan karena dia melihat pasangan dasi Andra tak Serapi biasa nya.
"emang selama ini saya nggak rapi?"tanya Andra sembari duduk di kursi kekuasaan nya
"rapi sih, tapi hari ini lebih rapi."
"emang apa beda nya?"
"cara masang dasi elu, biasa nya kan elu asal-asalan aja Makai nya. siapa yang pasang dasi elu? pasti Hania kan?memang istri yang baik."ucap Evan sembari manggut-manggut
Andra melirik ke arah Evan, lalu dia pergi ke kamar mandi. dan benar saja pasangan dasi nya sangat rapi.
"meeting sama siapa kita hari ini, Van?"tanya Andra mengalihkan pembicaraan
"sama Medika group."
"oke, siapkan semua nya."
"oke."
Andra membuka laptop nya, lalu dia mulai sibuk dengan kerjaan nya
__ADS_1
tok...tok
"masuk."
"pak, ada ibu Saras."ucap Bella
"suruh dia masuk."
"baik pak."
tak lama Saras pun masuk
"good morning honey."
"morning, ngapain pagi-pagi udah kesini?"tanya Andra dengan mata yang masih sibuk dengan layar laptop nya
"nggak apa-apa, aku cuma kangen aja sama kamu."ucap Saras manja
"duduk lah disana, aku lagi sibuk sekarang."
"ih, aku udah jauh-jauh lho datang kesini."
andra mendongak ke arah Saras.
"kamu kan tau kalau pagi-pagi aku ini kerja, kamu harus ngerti dong."
"terserah kamu, kamu itu kan CEO nya kamu bisa menyuruh semua karyawan kamu untuk ngerjain semua nya."
"hey, dengar sini. walaupun aku adalah pemilik perusahaan ini tapi bukan berarti aku bisa menyerahkan semua nya pada orang lain."ucap Andra emosi
"kamu marah sama aku? hah?"bentak Saras
Andra tidak menjawab dia hanya menatap wajah Saras
"sudah lah, ngapain sih kalian ribut. pagi-pagi udah teriak-teriak. berisik."ucap Evan sembari meletakkan berkas di atas meja Andra
"diam kamu Van."
seketika Evan menatap tajam kearah Saras.
"kenapa? elu nggak senang?"
"heh, mentang-mentang kamu sahabat nya Andra, kamu nggak berhak ikut campur urusan saya sama Andra."bentak Saras
"ini ni alasan gue nggak suka sama ini perempuan."ucap Evan lalu dia keluar
"kenapa kamu diam saja ketika Evan berbicara seperti itu pada ku?"tanya Saras emosi
"sudah, kalau kamu cuma mau cari ribut disini, lebih baik kamu pulang saja. saya mau kerja bukan cari ribut."ucap Andra lantang dan penuh dengan emosi
"oke. awas ya kalau kamu cari aku."ancam Saras lalu dia pun meninggalkan Andra yang masih diam disana
Andra mengusap wajah nya dengan kasar, dia merasa kesal dengan Saras.
"sudah lah dra, nggak usah dipusingkan. ayo ke ruang meeting, klien dari Medika group sudah datang."
"Lima menit lagi saya akan kesana."ucap Andra lalu dia duduk sebentar.
Andra menyadari akhir-akhir ini sikap Saras memang berubah, dia lebih memaksa dan bersikap semena-mena. namun Andra juga tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia masih mencintai Saras. ntah benar mencintai atau bodoh.
setelah cukup lama dia berdiam diri dan merenung, dia pun segera pergi ke ruangan meeting. walaupun hati dan pikiran nya sedang kacau karena ulah saras, namun Andra tetap profesional dalam bekerja.
...----------------...
__ADS_1