Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Rencana


__ADS_3

keesokan harinya, setelah Hania pergi dari rumah. Andra terlihat kesepian dan kebingungan. dia tak menyangka wanita yang selalu sabar menghadapi sikap dingin nya ternyata bisa lelah juga.


"hallo, assalamu'alaikum, mbok."ucap Hania melalui telpon


"wa'alaikumsalam, non."


"mbok, tolong siapkan obat mas Andra ya, obat nya masih di dalam kamar Nia."


"baik non."


"terima kasih ya mbok, obat nya udah Nia kasih nama kok biar nggak salah."


"iya non, non kapan pulang?"tanya mbok sedih


"doakan saja secepat nya ya mbok, Nia butuh waktu untuk sendiri mbok."


"iya non."


"udah dulu ya mbok, Assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam non."


mbok Iyem membawa sarapan dan obat untuk Andra.


tok tok


namun tak ada sahutan dari dalam, mbok Iyem memutar handle pintu kamar dan masuk.


"Aden, ini mbok bawakan sarapan sama obat."ucap mbok Iyem


"hmm, terima kasih mbok."


"sama-sama den."


Andra terlihat sedang termenung, seperti nya dia sedang memikirkan sesuatu.


"mbok permisi den "


Andra mengangguk


...----------------...


*tok tok


ceklek*


Hania membuka pintu, rupanya Evan sudah datang.


"selamat pagi, Nia."


"pagi kak."


"gimana keadaan kamu sekarang?"


"cukup baik. silahkan duduk kak."


"thank you. kapan jadwal kamu kemo lagi, Han?"


"Minggu depan kak."


"oke, saya mohon izin ya untuk temani kamu kemo, kamu harus tetap semangat dan harus yakin bisa sembuh."


"iya kak. tapi Nia bingung."


"bingung kenapa?"


"Nia bingung sama biaya nya kak, kartu kredit mas Andra memang masih sama Nia tapi Nia nggak mau gunain uang itu."


"kenapa Nia, dia suami mu sudah sewajarnya kamu pake uang nya."


"Nia tau kak, tapi Nia nggak mau. Nia rasa lebih baik Nia nggak usah kemo lagi dech kak."ucap Hania


"nggak kamu harus tetap kemo, untuk masalah biaya biar saya yang tanggung."


"tidak usah kak, Nia nggak mau merepotkan kak Evan."

__ADS_1


"saya tidak merasa di direpotkan, selagi saya belum menikah uang itu bisa saya gunakan untuk apapun Nia termasuk pengobatan mu."


Hania terdiam, dia bingung.


"bagaimana Nia mengembalikan uang itu kalau Nia sudah tiada kak?"tanya Nia sedih


"saya akan mengikhlaskan semua uang itu tapi saya yakin kamu pasti sembuh."


"terima kasih banyak kak, Nia benar-benar nggak bisa memberikan apa-apa kecuali doa."


"itu sudah lebih dari cukup."


"udah, ayo kita sarapan dulu, kamu harus minum obat kan?"


"iya kak."


kedua nya pergi ke sebuah restoran di dekat apartemen.


"sahabat kamu kemana, Han? kok nggak pernah kelihatan lagi?"tanya Evan


"Lala lagi di Singapore kak, dia ada kerjaan sedikit disana."


"oh."jawab Evan manggut-manggut


"kenapa kak?"tanya Hania kepo


"hmm, nggak apa-apa dong. emang salah ya kalau aku tanya tentang dia?"tanya Evan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"hahaha, jangan-jangan kakak suka lagi sama sahabat ku itu."goda Hania


"nggak lah Han, mana mungkin dia mau sama berandalan kayak aku ini."


"hahaha, siapa bilang kak Evan itu berandalan. kak Evan baik kok."


"iya dong. hahaha."


"permisi mas, mbak. ini pesanan nya."ucap waiters


"terima kasih mbak."


"ke kantor sih, tapi mungkin ke rumah suami kamu dulu."


Hania tersenyum"iya kak. oh ya Nia minta tolong, tolong kasihkan kartu ini sama mas Andra ya."ucap Hania sembari memberikan kartu hitam pada Evan


"oke."


...----------------...


setelah sarapan, Hania kembali ke kamar nya, sementara Evan juga sudah pergi ke rumah Andra.


tok tok


"iya sebentar."sahut mbok Iyem


ceklek


"eh, den Evan. mari masuk den."


"terima kasih mbok, Andra nya kemana?"


"dari tadi pagi, Aden di kamar terus den. seperti nya den Andra lagi sedih den."


"sedih kenapa mbok?"


"mbok juga nggak tau den, tapi den Andra, mbok lihat murung terus. mungkin den Andra sedih kali non Hania pergi dari rumah."


"bagus lah mbok."


"kok bagus den?"


"iya bagus mbok, saya memang sengaja biar Andra sadar kalau Hania itu penting untuk nya."


"oh gitu ya den, iya-iya den."


"udah, saya ke kamar Andra dulu mbok."

__ADS_1


"iya den."


Evan pergi ke kamar Andra.


ceklek


Evan langsung saja membuka pintu, dan benar saja Andra hanya duduk melamun di balkon.


"ehem."


Andra sekilas melihat ke arah Evan


"ngapain elu diam disitu dra?"tanya Evan


"nggak apa-apa, ngapain kamu kesini?"tanya Andra


"hmm, nggak ada sih cuma mau ngecek kondisi elu aja, oh ya ini ada titipan dari Hania."ucap Evan sembari memberikan sebuah kartu hitam pada Andra


"oke, gue ke kantor dulu dra. kalau ada apa-apa kabari gue."


Andra diam, tatapan nya terasa jauh. hati nya terasa sakit dan sedih. apalagi Hania sudah mengembalikan kartu yang dia berikan beberapa bulan yang lalu.


Andra bangkit dari tempat duduk nya, segera dia mandi dan mengganti pakaian. Andra mengambil kunci mobil nya dan langsung menuju kantor. dia tidak perduli lagi dengan rasa sakit di tubuh nya.


sesampainya Evan di kantor, Evan terkejut karena Andra juga sudah datang


Evan mengernyitkan kening nya "ngapain dia?."batin Evan


"elu kan lagi sakit, ngapain ke kantor dra?"tanya Evan


"nggak apa-apa."jawab Andra cuek lalu dia masuk ke dalam kantor


...----------------...


di tempat lain


"maaf, non. den Andra sudah berangkat."


"mana perempuan itu?"tanya Saras dan mencoba untuk masuk


"non Nia sudah pergi dari rumah ini non."jawab mbok Iyem sedih


"oh ya. bagus dong. hahahaha."


"oke, kalau gitu kami pergi dulu. bye."


"bagus ma, akhirnya perempuan itu pergi dengan sendirinya padahal kita belum ngapa-ngapain dia."


"iya sayang. kita harus segera mempercepat rencana kita biar kamu bisa menikah secepatnya dengan Andra."


"iya ma."


kedua langsung melajukan mobil nya menuju suatu tempat di tepi hutan.


sesampainya disana, Saras dan Bu Rini masuk ke dalam rumah tua.


"kalian harus mencari tau tentang perempuan itu, orang-orang yang pernah dekat dengan nya dan cari keberadaan perempuan itu sampai dapat."


"oke bos."


"bagus."ucap Saras dengan senyum sinis dan kemenangan nya


"satu lagi, jalan kan rencana yang sudah saya kasih tau pada saya."


"baik bos, semua nya akan berjalan dengan lancar."


"oke, sekarang kalian boleh pergi."


para laki-laki berbadan besar dan terlihat begitu menyeramkan meninggalkan Saras dan Bu Rini yang terlihat begitu bahagia.


"bagus sayang, mama bangga sama kamu."ucap Rini


"iya dong ma, anak siapa dulu coba."


"anak mama dong."jawab Bu Rini! kedua nya sama-sama tertawa puas

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2