Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
part. 144


__ADS_3

"kenapa kamu baru datang sekarang? dan menganggap dia sebagai anak mu? kemana saja kamu selama ini? bertahun-tahun dia menunggu mu tapi apa? justru kamu meninggalkan nya dan bahkan kamu tidak menganggap dirinya. yang lebih menyakitkan kamu menginginkan dia mati, dan sekarang ucapan mu sudah dikabulkan oleh Allah, Rini. lalu kenapa kamu harus menangis? seharusnya kamu bahagia. tidak ada lagi yang merengek meminta kasih sayang mu, tidak ada lagi yang memanggil mu dengan sebutan ibu. dia sudah pergi Rini, dia sudah pergi. kamu sudah merenggut sesuatu yang berarti dalam hidup aku. sekarang pergi lah, Hania tidak ada disini."


"mas, aku mohon. izinkan aku bertemu dengan Nia sekali ini saja mas, aku tau, aku sudah sangat berdosa pada darah daging aku sendiri mas, aku mohon. aku ingin memeluk Hania, mas."


pak Arshad dan Evan pun menyingkir dari depan pintu, membiarkan Bu Rini masuk. namun, saat dia masuk mata nya mencari sekeliling rumah. "mana Hania, mas? apa dia dikamar?"


"ibu, istighfar. ibu harus sabar. neng Hania baru saja dimakamkan buk."ucap salah satu ibu-ibu disana


mendengar itu tubuh Bu Rini langsung terjatuh di lantai, Bu Rini terdiam seakan-akan dia juga ikut mati. linangan air mata terus mengalir di pipi yang sudah mulai berkerut.


mata nya tertuju pada sebuah pintu yang menghadap ke arah taman belakang, terlihat bekas galian tanah disana. Bu Rini berlari kesana.


"Nia."panggil nya, langkah nya kembali terhenti ketika melihat gundukan tanah.

__ADS_1


"ya Tuhan, ternyata anak ku benar-benar sudah meninggalkan aku? kenapa engkau tidak memberi aku kesempatan untuk meminta maaf dengan nya."


bu Rini mengelus nisan Hania "Nia maafkan ibu nak, maaf. ibu sadar, ibu sudah terlalu banyak menyakiti Nia. ibu minta maaf nak. hiks...hiks"


"ma, sudah ma. kita pulang ya."ucap Saras yang baru datang


"Nia sudah meninggalkan kita, nak. mama sudah berdosa dengan nya."


cukup lama mereka disana, banyak mata yang memperhatikan kedua nya.


...----------------...


selepas Maghrib, orang-orang mengadakan acara tahlilan. terlihat Andra hanya duduk diam dengan tatapan kosong. bayang-bayang senyum Hania terlintas di pelupuk mata nya. ingatan nya kembali tertuju pada beberapa hari sebelum Hania pergi. Hania menyuruh dia untuk kuat, sabar dan ikhlas. Hania berjanji akan menunggu Andra disana.

__ADS_1


"jangan ngelamun, dra."ucap Lala


Andra menoleh sebentar pada Lala " aku tau gimana perasaan mu, dra karena aku juga pernah kehilangan orang tua ku, dan sekarang aku kehilangan sahabat yang begitu berarti dalam hidup aku. tapi kita harus ikhlas, semua nya sudah menjadi takdir tuhan. emang berat tapi kita bisa apa selain menerima dan menjalani nya."


"sekarang Nia pasti udah bahagia disana. dia anak baik, Sholehah, banyak orang yang mendoakan nia. kuat ya."ucap Lala


"bener kata Lala, dra. elu harus ikhlas dan kuat. cepat atau lambat kita pasti akan menyusul Hania."tambah Evan


acara tahlilan pun di mulai, ayat-ayat indah Allah di lantunkan, ceramah nasehat dari ustadz terdengar begitu berat di hati Andra.


"untuk mas Andra, terkhusus suami nya dan karena kalian belum memiliki anak. hanya doa mas andra lah yang dibutuhkan oleh mbak Hania. doa dari suami yang Sholeh. ins syaa Allah nanti mas Andra bisa bertemu lagi dengan mbak Hania di surga nya Allah, ins syaa Allah. kita semua mendoakan semoga mbak Hania tenang disana, di ampuni segala dosa-dosa nya dan semoga mbak Hania menjadi bidadari surga nya Allah."ucap ustadz


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2