Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Jatuh


__ADS_3

hania mengambil pakaian kotor di kamar, dia segera keluar dan mau pergi ke sungai.


"mbak mau ke sungai?"


"iya Bu."


"mari saya temani, saya juga mau ke sungai."


"iya Bu."


Hania pun pergi ke sungai bersama ibu-ibu yang ada disana.


"mau kemana?"tanya Andra


"ke sungai mas, mau cuci baju. nanti kalau mas mau mandi pakaian udah aku siapkan di kamar."ucap Hania lalu dia meninggalkan Andra


setelah sampai di sungai, mata Hania di buat kagum dengan pemandangan persawahan diseberang sungai


"Masya Allah, indah sekali Bu."ucap Hania terkagum-kagum


tak lama Andra pun datang ke sungai.


"aduh kayak nya takut banget ya kalau istrinya kenapa-kenapa mas."goda ibu-ibu disana


Andra hanya tersenyum sekilas, ntah kenapa dia merasa khawatir sama Hania.


"mas, ngapain kesini?"


"kenapa? nggak boleh?"tanya Andra


"boleh sih."jawab Hania lalu dia kembali menggosok baju di atas batu


setelah selesai, Hania terlihat begitu lelah. ibu-ibu lain nya sudah pulang lebih dulu karena mereka mau menjemput anak-anak mereka dari sekolah.


mata Hania terbelalak melihat tanjakan di depan mata nya.


"jadi itu jalan yang aku lewati tadi."batin Hania baru sadar


"ya Allah, kuat nggak ya mana ini berat banget lagi."


tanpa pikir panjang Hania langsung mengangkat ember pakaian.


"ayo mas, pulang."panggil Hania


perlahan Hania menaiki jalan itu dengan menjaga keseimbangan tubuhnya.


tiba-tiba Andra mengambil ember yang di pegang Hania.


"jalan duluan sana."titah Andra


"iya mas."jawab Hania sembari tersenyum namun Andra menyadari nya


deg


"jantung ini kenapa sih."batin Andra


namun tiba-tiba Hania terpeleset hingga kepala nya sedikit membentur batu jalan.


"Hania."pekik Andra


Andra langsung melepaskan ember yang di pegang nya, lalu dia mendekati Hania yang terlihat kesakitan


"maka nya hati-hati."ucap Andra sedikit panik


"maaf mas."


kening Hania terluka, darah segar mengucur di wajah Hania.


"mas, ember nya."ucap Hania pelan karena dia melihat pakaian itu sudah kembali kotor


"udah biar nanti aku cuci lagi, sekarang kamu pulang ke rumah mbok. obati kening kamu ini."


"emang mas bisa?"


Andra melotot kan mata nya "kamu pikir saya ini anak manja apa?"ucap Andra lalu dia turun lagi ke bawah sementara Hania kembali ke rumah mbok Iyem.


*******

__ADS_1


"astaghfirullahaladzim non."pekik mbok Iyem


"tenang mbok, Nia nggak apa-apa."


"kan udah mbok bilang, biar mbok aja non."ucap mbok Iyem sedih


rupanya sesayang itu mbok Iyem dengan Hania.


"tenang lah mbok, luka Hania juga tidak besar nanti di obati juga bakalan sembuh."


"mbok obati ya non."


Hania mengangguk


tak lama Andra pun kembali, dengan membawa ember cucian.


"udah duduk disini, biar mbok yang jemur."


"istirahat lah den."


dengan nafas ngos-ngosan Andra duduk di dekat Hania.


"terima kasih ya mas."ucap Hania lalu dia mengisi air kedalam gelas dan memberikan nya pada Andra


Andra langsung meminumnya karena tenggorokan nya terasa sangat kering.


**********


di kantor


Evan sedang meeting dengan klien, karena memang Evan sudah sangat lihai dalam mengurus kerja sama dengan perusahaan lain. Andra lah yang sudah mengajarkan taktik pada Evan.


Andra sudah pernah meminta Evan untuk mendirikan perusahaan nya sendiri dengan uang Andra, namun Evan menolak dia lebih nyaman bekerja dengan Andra. walaupun sikap Andra begitu dingin dan egois namun Evan menyayangi sahabat nya itu.


"pak Evan."panggil Bella


"iya, ada apa bella?"


"di lantai bawah ada seseorang pak."


"siapa?"


Evan pun pergi ke lantai 1 dan menemui seseorang itu.


"permisi, maaf cari siapa ya?"tanya Evan pada perempuan itu


"iya, sa."belum sempat perempuan itu bicara dia terkejut melihat laki-laki yang ada di depan nya


Evan mengangkat kedua alis nya.


"kamu Lala kan? teman nya Hania?"


"iya benar, apa Hania ada disini?"


"oh, Hania tidak bekerja disini lagi, kebetulan dia sudah resign beberapa Minggu lalu."


"oh gitu, soal nya saya ke rumah suami nya, tapi nggak ada orang. saya pikir dia kerja."


"Hania lagi di kampung mbok Iyem, suami mbok Iyem meninggal."


"oh, pantas saja. saya hubungi nomer nya nggak aktif. ya sudah terima kasih tuan, saya permisi dulu."ucap Lala sembari tersenyum


"oke, silahkan."jawab Evan sembari tersenyum lebar pada Lala


Lala pun meninggalkan kantor, sementara Evan masih berdiam diri disana.


"ya Tuhan, cantik sekali ciptaan mu."ucap Evan


"pak Evan, are you okay?"tanya Siska recepsionist


"kamu ganggu saja sis, hilang kan bidadari ku."


"hahahah, apa-apaan sih pak Evan. siapa coba bidadari pak Evan."


"kamu nggak percaya? baru saja dia pergi."


"terserah pak Evan dech."

__ADS_1


Evan kembali ke ruangan nya.


"kapan pak bos kembali pak?"


"i don't know."jawab Evan sembari mengangkat kedua bahu nya


"oke dech pak."


"kayak nya kalian senang banget ya kalau nggak ada Andra?"goda Evan


"bukan kayak gitu pak, setidaknya kami nggak ngerasa kayak di kutub kalau nggak ada pak Andra."


"hahahaha, nanti saya laporkan ya."


"jangan dong pak, bisa-bisa kami di pecat."


"so, apa urusannya sama saya?"tanya Evan sembari tertawa terbahak-bahak


"kami ini mau cari modal nikah pak."


"kok kalian? calon suami kalian lah yang berusaha."


"iya kan bantu-bantu pak."


"up to you, saya ke ruangan saya dulu."


"oke pak Evan ganteng."


"dih, dasar wanita-wanita penggoda."


mereka pun tertawa.


di ruangan Evan


"hallo dra."


"hmm, ada apa Van?"


"kapan elu pulang?"


"kenapa?"


"ya Ela, elu tanya kenapa? oy gue udah puyeng nih setiap hari meeting sama klien."


"ala ngeluh aja kamu, ya sudah resign aja kalau nggak sanggup lagi."


"lah, malah di suruh resign. kalau gue resign gimana gue beli mainan buat ponakan gue nanti dra."goda Evan sembari tertawa


"maksud nya?"


"iya kalau gue nggak kerja, ntar anak elu mau minta mainan masa nggak gue kasih."


"gila kamu Van."


"hahahaha. sabar lah dra."


"kalau nggak ada yang penting nggak usah telpon-telpon saya. ganggu aja."


"wkwkw, iya-iya maaf. gimana kabar adik gue."


"siapa adik kamu?"


"Hania lah, siapa lagi?"


"kamu tanya sendiri saja lah, ngapain nanya sama saya."


"lah kan elu suami nya."


"udah...udah malas saya ngomong sama kamu Van."


"hahahaha. ya udah dech. bye."


Andra langsung mematikan ponsel nya.


sementara di kantor, Evan tertawa puas karena berhasil membuat Andra kesal


"dasar pohon pisang."ucap Evan

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2