
setelah makan siang, Andra dan Evan pergi ke taman belakang rumah. disana ada sebuah kursi taman di bawah pohon Flamboyan yang memiliki bunga cantik di atas hamparan rumput hijau. tempat itu juga menjadi tempat favorit Hania sekarang.
Andra dan Evan mengobrol kecil membicarakan bisnis dan perusahaan.
setelah puas mengobrol, Evan pamit pulang karena besok dia akan menemani Tante Fera ke rumah sakit.
"gue pulang dulu ya."
"iya van."
"besok gue agak siang ya ke kantor nya, gue mau nemani Tante ke rumah sakit."
"oke."
Evan pun pergi, sementara Andra masih duduk disana.
"mas, Nia boleh duduk disini?"tanya Hania tiba-tiba
Andra yang tadi nya sibuk, langsung melihat ke arah Hania
"apa harus pamit dengan saya?"tanya Andra ketus
Hania hanya tersenyum lalu dia duduk di depan Andra
"aku baru tau mas, kalau di belakang ada taman secantik ini."ucap Hania
Andra menatap nya dengan tatapan masa bodoh
__ADS_1
"boleh nggak mas, kalau aku tanam bunga mawar putih disini?"
"kamu nggak ada kerjaan lain apa? selain ganggu aku.?"tanya Andra
"aku hanya minta izin mas."
"terserah kamu mau tanam apa, bahkan kamu mau ngancurin rumah ini juga nggak apa-apa, kalau kamu nggak punya malu."bentak Andra dengan senyum sinis
"mas, aku cuma bilang baik-baik kok. kenapa kamu harus marah. kalau nggak boleh juga nggak apa-apa mas."jawab Hania lalu dia pergi meninggalkan Andra yang tampak tertegun mendengar ucapan Hania.
saat Hania hendak masuk ke kamar nya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu
"iya, sebentar."sahut Hania
ceklek
"ibu."ucap Hania lirih sembari tersenyum
plak
satu tamparan mendarat di pipi Hania, sementara Saras hanya tersenyum puas melihat Hania di tampar Bu Rini.
"ada apa ini?"tanya Andra terkejut
"nak Andra, Tante mau tanya apa benar perempuan ini istri mu?"tanya Bu Rini
"iya."jawab Andra cuek
__ADS_1
Bu Rini kembali menampar Hania, yang kali ini membuat Andra sedikit kesal
"kenapa tante menampar dia?"tanya Andra tak terima karena Andra tidak suka dengan kekerasan apalagi sama perempuan
"karena dia sudah berani-beraninya merebut kamu dari Saras."
Hania menatap sendu wanita paru baya di hadapan nya. dia tak percaya ibu nya akan Setega itu dengan dirinya. Hania juga tak menyangka kalau Saras adalah saudara nya.
"jadi Saras ini saudara Hania, Bu?"tanya Hania
"apa."ucap Saras terkejut
"ma, jelaskan sama Saras. kenapa dia memanggil mama, ibu. apa dia anak mama juga?"tanya Saras
"iya, anak yang tidak di inginkan."ucap Bu Rini dengan menatap Hania dengan tatapan benci nya.
Hania tak mampu lagi menahan air mata nya, hati nya terasa sakit.
"Saras tidak sudi mempunyai saudara seperti dia ma."
"tenang lah sayang, kamu adalah anak mama satu-satunya, dia sudah lama mama anggap mati. dia berbeda dengan mu sayang. kamu mempunyai papa yang kaya sedangkan dia hanya memiliki seorang ayah yang miskin. mama tidak sudi memiliki anak seperti dia"ucap Bu Rini dengan menunjuk wajah Hania
"cukup. kenapa kalian membuat keributan di rumah ini hah."bentak Andra
"asal kamu tau Andra, dia ini hanya perempuan pembawa sial. Tante juga heran kenapa dia tidak mati saja."ucap Bu Rini lagi dengan emosi yang sudah menjadi-jadi
...----------------...
__ADS_1