
HAI READERS, AUTHOR KEMBALI LAGI NIH. MASIH NUNGGUIN CERITA AUTHOR NGGAK NIH??? SETELAH AUTHOR PIKIR-PIKIR, AUTHOR HARUS MELANJUTKAN CERITA INI DEMI SEMUA READERS YANG SELALU SABAR MENUNGGU UPDATE CERITA NYA. AUTHOR MINTA MAAF YA KARENA SUDAH MENGGANTUNG CERITA INI, SETELAH AUTHOR PIKIR LEBIH BAIK NANTI AUTHOR BUAT CERITA BARU SAJA DIBANDINGKAN HARUS MENGUBAH CERITA INI YANG SUDAH TERLALU JAUH, DAN AUTHOR JUGA MINTA MAAF YA, JIKA NANTI CERITA NYA MUNGKIN UDAH NGGAK NYAMBUNG, BANYAK KESALAHAN DAN LAIN SEBAGAI NYA TAPI AUTHOR AKAN MENYELESAIKAN CERITA NYA SESUAI DENGAN CERITA YANG INGIN AUTHOR CIPTAKAN. JIKA NANTI ADA KESALAHAN, SILAHKAN JIKA PARA READERS INGIN MEMBERIKAN MASUKAN TAPI JANGAN MENJATUHKAN YAAA.
*
*
*
selepas Maghrib, Andra kembali duduk di sisi Hania, walaupun kondisi nya lemah itu tidak menghalangi Hania untuk tidak sholat. Hania mencium tangan Andra dengan begitu lama, dia mencium punggung dan telapak tangan Andra secara bergantian.
"terima kasih ya mas, di sisa hidup Nia. mas sudah kembali ke jalan Allah dan sudah mau menjadi imam yang baik untuk Hania. nanti kalau Hania sudah pergi, Nia akan meminta sama Allah untuk dipertemukan lagi sama mas di surga-nya Allah."ucap Hania dengan tatapan lembut
"sayang, jangan bicara seperti itu. seharusnya aku yang bersyukur sama Allah karena sudah mengirimkan seorang bidadari surga untuk ku."ucap Andra
Hania tersenyum
tok tok
"permisi den, non. ini mbok bawakan makan malam."ucap mbok Iyem
"terima kasih mbok, ayah sudah makan mbok?"tanya Andra
"sudah den, tadi bapak makan bersama den Evan dan non Lala."jawab mbok Iyem
"terima kasih mbok."
"sama-sama den."jawab mbok Iyem sembari tersenyum lalu dia kembali keluar
"makan dulu ya sayang."ucap Andra sembari mengambil piring
"mas juga makan ya."
__ADS_1
"iya sayang."
Andra menyuapi Hania lalu dia juga memasukkan makanan ke dalam mulut nya.
...----------------...
di rumah sakit, Saras sudah terbangun dari pingsan nya. kondisi nya tak kalah memprihatinkan. tatapan nya kosong seperti orang linglung.
"nak."panggil Bu Rini lembut
Saras menoleh ke arah Bu Rini
"makan dulu ya."ucap Bu Rini
Saras menggelengkan kepalanya, dia menatap sendu pada Bu Rini.
"ma, apa Saras juga akan mati dengan penyakit Saras ini, ma?"tanya nya lirih karena Saras sudah tau tentang penyakit nya itu
"Saras takut, ma."
"Saras nggak perlu takut sayang, ada mama disini. mama akan selalu menemani Saras."
saras menangis sejadi-jadinya, dia menyesali semua perbuatannya selama ini.
ceklek
"papa."panggil nya lirih
pak Lukman pun mendekati Saras lalu memeluk nya, semarah apapun orang tua dia tak mampu membenci anak nya.
"maafin saras, pa."
__ADS_1
"iya sayang, kamu harus tetap kuat ya, papa akan selalu jagain Saras."ucap nya sambil mencium pucuk rambut Saras
"maafin aku juga ya mas."ucap Bu Rini gugup
"sudah lah, yang terpenting sekarang kesembuhan Saras."jawab nya dingin
...---------------...
ke esokan hari nya, pagi ini kondisi Hania sudah cukup baik walau hanya sedikit. infus di tangan nya juga sudah di lepas walaupun Andra melarang namun Hania tetap memaksa.
"mas nggak ke kantor?"tanya Hania karena melihat Andra masih selonjoran di atas kasur
"nggak sayang, aku mau ngabisin waktu sama kamu. kantor biar Evan yang urus."jawab Andra
"tapi kan mas, itu perusahaan kamu. gimana kalau klien mau ketemu sama kamu? lagipula aku juga nggak apa-apa kok mas. di rumah kan ada ayah, ada mbok Iyem."ucap Hania
"tidak apa-apa sayang, ayah juga harus istirahat. aku nggak mau kejadian-kejadian yang menakutkan itu terjadi lagi."ucap Andra
"Hmm, terserah mas dech."ucap Hania pasrah
Hania berjalan menuju balkon
"mau kemana sayang?"tanya Andra lalu ikut bangun
"ke balkon, mas."
"tidak bisa kah kamu diam, duduk anteng sayang?"dengus Andra kesal bukan nya takut malah Hania tertawa
"kok ketawa? aku marah lho sayang?"gerutu Andra
"masa sih? kok wajah nya lucu gitu."ledek Hania terkekeh, Andra pun langsung memeluk Hania dengan erat lalu mencium pipi nya dengan gemes
__ADS_1
...----------------...