
selepas sholat zhuhur, kedua nya meninggalkan mall dan menuju sebuah toko yang Hania minta.
"stop mas."titah Hania
Andra pun menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu kedua nya turun dari mobil. Andra kebingungan dengan tempat itu. mata nya tertuju pada beberapa kayu yang sudah dipotong sesuai ukuran, beberapa kain putih di etalase serta dia mencium bau kapur Barus yang begitu menyengat. Andra menoleh ke arah istri nya yang terlihat begitu santai.
"pak, saya mau beli kain kapan."ucap Hania tanpa berdosa
deg
nafas Andra seketika terasa berhenti.
"boleh mbak. silahkan duduk dulu. saya ambilkan dulu kain nya."
Hania mengangguk, dia melirik suami nya sebentar yang terlihat begitu kebingungan.
tak lama pemilik toko pun datang sembari membawa gulungan kain putih.
"untuk siapa mbak?"tanya pemilik toko
"buat saya pak..."ucap Hania tanpa memperdulikan suami nya "dan suami saya."sambungnya
"Masya Allah, kenapa mbak sama mas nya kepikiran buat menyiapkan nya sekarang?"tanya pemilik toko sambil mengukur kain
"ya, kita nggak pernah tau umur kita pak. sewaktu-waktu kalau Allah nyuruh ya kita bakalan pulang."jawab Hania
"iya mbak, betul sekali. siap nggak siap kita pasti akan pulang."
__ADS_1
"mas, kenapa diam aja? mas takut?"tanya Hania terkekeh
"nggak sayang, aku cuma bingung aja."
"heheh, nggak usah bingung mas. kita hanya menyiapkan nya saja, biar nanti nggak repot lagi cari kafan nya."
Andra begitu kesusahan menelan Saliva nya, tenggorokan nya terasa menelan paku begitu sulit untuk lewat.
setelah kain di siapkan, Hania juga membeli beberapa kebutaan lain nya. setelah selesai kedua nya kembali ke rumah.
sepanjang jalan, Andra tak bicara apapun. tingkah istri nya benar-benar membuat dia takut. sesampainya di rumah, rupa nya Evan sudah menunggu nya di rumah.
"assalamu'alaikum. eh ada kak Evan."
"wa'alaikumsalam, iya Han. dari mana?"
"hmmm, Alhamdulillah. berarti Nia udah sehat lagi dong."ucap Evan sembari tersenyum
"oh ya, Nia ada belikan kak Evan juga lho."ucap Hania sambil membuka paper bag dan Mecari ukuran yang pas untuk Evan
"ini kak, di pake ya nanti."
"wah, baju baru nih."ucap Evan senang
namun hidung Evan seperti mencium bau yang begitu menyengat.
"bau apa nih, Han?"
__ADS_1
"oh, itu bau kapur Barus kak."
"hah, ngapain kamu nyimpen itu."
"iya nggak apa-apa sih. biar kecoa nggak datang ke rumah ini."jawab Hania terkekeh
"ada-ada aja kamu ini, Han."
"heheh, udah ah. Nia ke kamar dulu ya."
"okay."
sementara Evan mengalihkan pandangan nya pada Andra yang terlihat pucat dan ketakutan.
"kenapa elu, dra?"
Andra menoleh ke arah Evan.
"nggak apa-apa."jawab Andra lalu duduk di sofa
"elu lagi mikirin apa, dra?"
Andra menundukkan kepalanya dengan tangan menopang kepalanya.
"ada apa, dra? cerita sama gue?"
Andra membuang nafas berat "aku nggak tau lagi harus gimana, Van. semakin hari sikap Hania semakin aneh, dia menunjukkan sikap seolah-olah dia sehat, dan seperti tak terjadi apa-apa. dia selalu manja dengan ku, dia selalu ingin memeluk ku, sering kali aku mendapati dia sedang memandang wajah ku dengan senyum manis di bibir nya, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika istri ku benar-benar meninggalkan ku, Van. hari ini dia berhasil membuat jantung ku terasa berhenti, dia datang ke sebuah toko lalu dia membeli kain kafan untuk aku dan dia. aku tau kematian hanya Allah yang tau, bahkan aku yang sehat aja bisa lebih dulu dari pada istri ku."ucap Andra dengan air mata di pipi nya
__ADS_1
...----------------...