Takdir Memisahkan Kita

Takdir Memisahkan Kita
Diam nya Hania


__ADS_3

"astaghfirullahaladzim, sudah Bu. kenapa kalian seperti ini sama non Nia."


"oh ya, jadi perempuan sial ini majikan mu?"tanya Bu Rini dengan senyum mengejek


sementara Hania langsung berlari ke kamar nya, dia benar-benar tidak kuat mendengar ucapan ibu nya. Hania menangis sejadi-jadinya, hati nya hancur.


"ya Allah, hati Nia sakit ya Allah."ucap Hania lirih


tiba-tiba kepala nya terasa sakit dan pusing, Hania buru-buru mengambil obat nya dan langsung meminum nya. darah segar sudah kembali keluar dari hidung nya.


"Hania pasrah ya Allah. mungkin memang benar Nia hanya lah anak pembawa sial."ucap Hania lirih


tok tok


"non, buka non."teriak mbok Iyem namun Hania tidak memperdulikan nya


sementara Bu Rini dan Saras sudah pergi karena di usir Andra.


"tenang saja ras, mama akan membuat dia hancur."


"jadi dia benar anak mama juga?"tanya Saras cemberut


"bukan sayang, dia saja yang menganggap mama, ibu nya. mama memang pernah menikah sebelum sama papa, tapi mama tidak mempunyai anak, apalagi seperti dia."


"benarkan ma?"


"iya sayang."


...----------------...


sore hari


Hania belum keluar sejak tadi, ada rasa khawatir di hati Andra. ntah lah sikap nya begitu kasar pada Hania, tapi hati? ntah lah hanya Andra yang tau.

__ADS_1


"Hania belum juga keluar mbok?"


"belum den."


"oke."


tok tok


tak ada jawaban dari dalam


"Hania buka pintu nya, atau aku dobrak pintu ini."teriak Andra


tak lama Hania pun keluar, mata sembab dan wajah yang pucat dia pun membuka pintu.


deg


Andra sedikit terkejut dengan kondisi Hania saat ini. pipi putih itu terlihat memar dan biru


Hania berlalu tanpa memperdulikan Andra.


"tidak usah mbok, jangan sentuh Nia nanti mbok kena sial."


"astaghfirullahaladzim non. nggak non itu bukan pembawa sial."


"sudah lah mbok, Nia mau istirahat tolong jangan ganggu Hania."ucap nya sembari membawa segelas air


lagi-lagi dia tidak peduli dengan Andra yang masih berdiri di depan pintu kamar nya.


...----------------...


ke esokan hari nya, Hania sudah pergi lebih dulu sebelum Andra bangun. dia tidak meninggalkan pesan apa-apa pada mbok Iyem


tap tap

__ADS_1


"Hania kenapa belum dibangun kan mbok?"tanya Andra


"non, sudah pergi sejak tadi den."


"kemana? kenapa dia nggak pamit sama saya?"


"mbok juga tidak tau den."


walaupun dalam hati-hati bertanya-tanya, namun Andra tetap terlihat biasa saja seolah-olah tidak peduli dengan Hania


"saya berangkat mbok."


"iya den."


sementara Hania sudah berada di rumah sakit, hari ini adalah awal jadwal kemoterapi nya. dengan segala doa, Hania terlihat begitu tenang.


"tenang ya, Han."ucap dokter Mia


dokter Mia lah yang menangani Hania.


"kamu pasti sembuh."


"iya dok."


sebelum masuk ke ruang kemo, Hania diperiksa terlebih dahulu.


"oke sudah siap, ayo kita ke ruang kemo. tolong di bantu ya sus."


"baik dok."


Hania di bawa dengan brankar, mata nya menatap langit-langit rumah sakit, bayangan ayah nya tersenyum seketika melintas di pandangan nya.


"ayah, maaf kan Nia."ucap nya lirih

__ADS_1


tak terasa air mata nya sudah mengalir, Hania tak pernah membayangkan kalau diri nya akan berada di ruang yang begitu menakutkan bagi nya.


__ADS_2